Limbah

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 September 2017
Limbah

Satu kilometer dari rumahku terdapat sebuah tong sampah besar berwarna merah. Cukup aneh, mengingat kebanyakan fasilitas sejenis yang disediakan pemerintah punya warna berbeda: kuning. Sejak dua tahun lalu benda laknat itu berdiri tegak, angkuh layaknya wajah-wajah di poster saat pemilihan umum.

Tong sampah merah tersebut juga disiapkan oleh pemerintah, tapi tidak untuk masyarakat umum, hanya orang-orang tertentu bisa buang sampah di sana.

Sejauh yang kuingat, cuma pejabat, petinggi instansi, dan kaum bangsawan yang hilir mudik, mulai dari jam delapan malam sampai jam tiga pagi.

Kalau buang sampah saja dibedakan berdasarkan “kasta”, tak lama lagi negara ini akan terjadi gejolak sosial yang mengancam keamanan negara.

Seandainya gubernur lewat, pasti diberi pengawalan dan pengguna jalan harus rela minggir sejenak, padahal sama-sama bayar pajak. Misalnya presiden lewat, jalan dikosongkan, diberi hiasan, padahal dia bisa “duduk” karena pilihan rakyat juga. Orang-orang yang terikat sistem memang haus keistimewaan.

Saking spesialnya tong sampah merah tersebut, ia dijaga oleh seseorang pesuruh pemerintah bertubuh besar, kepala botak, dan matanya selalu merah (ini mabuk atau kebanyakan tidur?). Kalau ada orang mendekat, dengan tangkas ia mengusirnya. Hush! Hush! Hush! Begitu teriakannya seingatku. Memangnya kita binatang?

Meski termasuk tempat pembuangan (orang-orang) elite, bau busuknya sangat kentara, bahkan lebih menjijikkan daripada satu ton sampah rumah tangga masyarakat biasa. Kenapa? Rasa ingin tahu mengusik kepalaku.

Maka, pada suatu malam, sekitar jam sepuluh, aku mengendap menuju tong sampah merah. Beberapa menit lalu kuamati tak ada penjaganya, mungkin dia sedang tidur atau sibuk menghitung uang hasil dari persetujuan surat perjalanan dinas fiktif.

Baunya luar biasa, aku menutup hidung menggunakan kerah baju, tak banyak berbeda, tetap beraroma busuk!

Sedikit lagi sampai, aku dikejutkan bunyi nafas memburu, ia berteriak, tapi aku tak tahu dari mana suara itu berasal.

“Siapa itu?” tanyanya dengan nada keras.

“Meong ... meong ...,” balasku.

“Bohong!” teriaknya lagi.

“Serius, tidak bohong!”

Sebatang kayu agak tipis, lumayan panjang, melayang ke kepalaku, sakit sekali. Rupanya si penjaga bersembunyi di balik semak-semak. Aku salut, strateginya efektif untuk mengintai penyusup. Digaji berapa dia sampai rela membungkuk seperti babi hutan? Pasti besar sekali! Artinya isi tong sampah pun sangat berharga.

Penasaran, malam berikutnya kucoba lagi, hasilnya masih nihil. Penjaga berkepala botak itu terlalu kuat, tak mempan pukulan, sementara aku tak punya senjata tajam atau api, maka kulupakan segala tentang tong sampah merah, yang namanya tempat sampah, pasti isinya tetaplah limbah berapa pun mahalnya.

***

Banyak perubahan terjadi pada diriku, yang dulunya kalau mau minum kopi, bikin sendiri, jika perlu pena baru, pergi sendiri ke toko. Sekarang aku cukup suruh-suruh. Anak buah banyak harus diberdayakan.

Dari sekian banyak orang yang kubayar, supirku paling bawel, dia suka bertanya mengapa aku sering keluar malam-malam, padahal tiada salahnya pergi jalan-jalan. Tapi aku membiarkan keingintahuannya tetap dalam misteri.

Seperti sekarang, ia bertanya lagi mengapa aku sering sekali datang ke suatu tempat yang seharusnya tak kudatangi. Aku tetap bungkam, itu rahasia.

“Sudahlah, Jun! Lelah aku mendengar kata-katamu!” keluhku dari kursi belakang mobil.

“Baik, Pak Sam. Maaf. Sebentar lagi kita sampai.”

Tempat tujuanku sudah dekat, dari jendela dapat kulihat seseorang berdiri tegap menunggu kedatanganku. Bertemu dengannya adalah nostalgia, benar-benar membekas persis seperti bekas luka lemparan kayu di kepalaku.

Ketika aku keluar dari mobil, pria tersebut langsung menyambut.

“Selamat malam, Tuan Sam,” sapanya sambil tersenyum. Berbeda sekali ketika dulu ia mengusir dan melempariku, yang tak berubah hanya kepala botaknya, memantulkan cahaya purnama dari langit malam.

“Selamat malam,” balasku.

Sambil membuka tutup tong sampah ia berkata, “Dosa apa yang hendak Anda buang malam ini, Tuan?”

“Banyak!”

----
Pontianak, 28 September 2017
Dicky Armando

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 52