Kelopak Mawar

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 September 2017
Kelopak Mawar

Setiap tahun di tanggal yang sama, pada subuh yang selalu dingin, aku pasti menemukannya sedang menungguku dengan gelisah, entah kenapa ia selalu memaksaku datang sebelum pagi, seakan tak rela embun-embun pada dedaunan menguap.

“Aku suka subuh, aku suka embun, aku suka mawar,” katanya kepadaku suatu kali, belasan tahun lalu.

Gadis biasa umumnya menyukai senja yang jingga, tapi—Donna—sangat mencintai subuh ... subuh yang beku ... beku yang menggigil, sampai-sampai hanya tersisa kami berdua di jalan setapak ini.

Home Road dilengkapi dengan suasana romantis, aku yakin bahwa perancangnya punya hati selembut penyair ternama. Jalan yang lebarnya hanya satu meter lebih ini dihiasi pohon sakura pada kedua sisi. Jika berguguran bunga itu, maka seolah butir-butir cinta jatuh dari surgaloka. Tempat ini adalah sebuah lintasan kecil menuju rumah wanita kesayanganku, aku sering iri padanya karena punya jalan menuju rumah yang sangat melankolis nan cantik.

Jangan tanya kenapa pohon sakura tumbuh di sini, satu-satunya alasan adalah bahwa tanah airku terbentuk dari perjuangan, dan iklimnya tercipta dari cinta kasih, maka tanaman apa pun yang melambangkan keindahan pasti bersemi, lalu tumbuh dirawat waktu.

Tapi tak semua hal bisa dirawat waktu. Misalnya cinta yang bisa kandas kapan saja, atau luka hati yang sampai hari ini tak ada obatnya, merawat luka sama halnya dengan melestarikan derita.

Kupandangi langit, subuh sepertinya tak lama lagi, alamat harus segera bergegas kakiku melangkah menemui Donna yang pasti sudah gelisah menanti.

Benar saja, gadisku itu sedang cemberut menunggu, matanya yang bening seperti embun melirik ke sana-sini mencariku. Ketika ia mendapatkan aku sedang mendekat, ia mengejar, lalu memeluk tubuh ini seperti tak ingin lepas lagi.

“Kau suka?” tanya Donna yang sadar aku sedang memperhatikan bando berwarna merah muda di kepalanya.

Aku mengangguk. Setelan putih dari baju sampai rok, ditambah pita merah muda melingkari pinggangnya, lalu bando itu ... membuatnya seperti putri raja, setidaknya di hatiku.

Rindu ... aku rindu sekali, kupegangi wajahnya yang seputih salju dengan tangan kananku, mengecup bibirnya mesra. Aku tak ingin pulang!

Tak lupa aku selalu membawa bunga mawar, kali ini cukup banyak, satu kantong penuh.

“Untukku?” Donna menunjuk bunga mawar yang kutenteng di tangan kiri.

“Ya.”

Sambil bercanda manja, ia berusaha merebut bunga-bunga tersebut dari tanganku, tapi ia tak cukup cepat mengikuti gerakku.

Aku berkata lagi, “Sabarlah, sampai di rumah nanti, akan kuberikan untukmu.”

“Baiklah,” jawabnya sendu. Lalu kami berjalan pelan, bercerita tentang masa lampau, mengenai pertemuan pertama, pertengkaran, dan jarak yang kini memisahkan.

Air mata Donna menetes, begitu pula aku.

“Doni, kau tak perlu ikut menangis, jalani hidupmu yang sekarang.”

“Na, bagaimana caranya melupakan semua ini, aku terikat padamu dan semua masa lalu kita.”

Donna menangis sekuatnya, aku menahan gemetar suara yang harusnya dari tadi kuteriakkan, sementara langit hampir memutih dengan semburat cahaya emas.

Kami telah berdiri di depan rumah Donna yang penuh kedamaian, masih ada titik-titik embun di atasnya.

“Don, aku harus pulang, mawar itu?”

“Masuklah dulu, nanti akan kuberikan.”

Tanpa banyak kata lagi, Donna masuk ke dalam rumah, menghilang pelan-pelan seperti kain tembus pandang yang terkena cahaya surya, dan ia benar-benar tak tampak beberapa saat kemudian.

Kelopak mawar kutaburkan di atas makamnya. Aku membersihkan beberapa pucuk rumput liar yang tumbuh menemani keabadian Donna, pada batu nisannya kuletakkan setangkai mawar utuh, sebagai lambang cinta tiada akhir.

Lima belas tahun terlewati, dan tiada sanggup memberi arti pada cinta yang dirundung sepi.

----
Pontianak, 26 September 2017
Dicky Armando 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 160

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tumben sekali Dicky Armando menulis fiksi pendek yang menyayat sedih seperti ini sebab Dicky, yang selalu konsisten berkarya di sini, lebih senang menulis puisi atau tulisan bernada kocak atau penuh kritik. ‘Kelopak Mawar’ membuktikan Dicky kreator yang lengkap. Jago menulis sajak juga oke sekali membuat tulisan sedih.

    Belasan tahun berlalu, hati Doni masih tertambat pada Donna yang sudah terlebih dahulu pergi untuk selamanya. Coretan singkat ini mengangkat kenangan Doni terhadap Donna saat di narator hendak mengunjungi makam kekasihnya tersebut. Doni pun memutar kembali kisah mereka dulu, yang buat kami jadi kekuatan tulisan ini sebab ditulis dengan gaya yang banyak memunculkan metafora, memainkan alam dan benda. Tulisan ini indah sekaligus sendu. Bagus sekali, Dicky.

    • Lihat 1 Respon