Bip!

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 September 2017
Bip!

Sebagai seorang ilmuwan, aku sudah malas membaca berita-berita koran, karena beberapa di antaranya merupakan propaganda dan penggelapan fakta. Tapi pagi ini terasa berbeda, dengan sukarela tanganku menyentuh sebuah surat kabar internasional.

Dalam berita tersebut, Paus Fransiskus dari Vatikan menggambarkan keprihatinannya kepada minoritas Muslim Rohingnya sebagai saudara laki-laki dan perempuan yang disiksa dan dibunuh karena iman mereka. Membaca pernyataan tersebut, mataku tak lagi perlu dibanjiri kopi.

Kubuka lembar berikutnya, tercetak kalimat Presiden Erdogan—orang nomor satu Turki—yang menyatakan bahwa masyarakat internasional pura-pura buta dan tuli terhadap pembantaian Muslim Rohingnya.

Tampaknya aku terlalu lama di dalam ruangan ini, berkutat dengan mesin rahasia yang baru saja kuselesaikan. Berita-berita kemanusiaan banyak tertinggal olehku. Muslim? Rohingya? Islam? Apa itu?

Sejak dulu, Red Nation tak pernah ambil pusing dengan urusan-urusan kemanusiaan kecuali menguntungkan posisi negara ini, meski keuntungan itu cuma bisa dinikmati sekelompok orang-orang elite yang entah bagaimana caranya bisa menduduki posisi penting di pemerintahan. Agama? Ah ... jauh panggang dari api, di sini kami tak mengenal Tuhan, untuk apa bertuhan kalau manusia sepertiku bisa membuat sebuah alat penghilang wujud. Jangan-jangan aku setara dewa! Bagaimana dengan keimanan pemimpin tertinggi kami? Jangan ditanya, dia sedang sibuk meminjam uang negara lain dan membebankan pajak tinggi kepada rakyatnya. Kasus Rohingnya? Mister Frog—Presiden Red Nation—paling hanya bisa ikut-ikutan mengecam dari balik meja.
 
Tapi yang mengusik logikaku adalah kalau benar perkataan dari Paus Fransiskus dalam berita, bahwa Muslim Rohingnya disiksa karena iman mereka, harusnya lepaskan saja keimanan itu! Kenapa harus menderita memegang teguh keimanan? Sangat tak masuk akal!

Apa itu muslim? Islam? Dua kata yang sangat asing.

***

Alat yang kuciptakan berbentuk jam tangan, ada dua tombol merah di atasnya, tombol kiri untuk berpindah tempat secepat kilat, yang kanan untuk menghilangkan wujud sementara waktu.

Sepuluh tahun telah lewat demi menyelesaikan benda ini. Aku bermaksud menyelinap ke kantor-kantor dan rumah koruptor negara agar bisa mendapatkan bukti autentik kejahatan mereka. Tujuan tersebut akan lebih mudah jika penemuanku berfungsi dengan baik, maka hari ini aku akan melakukan uji coba yang mungkin agak nekat: pergi ke Myanmar.

Bekal makanan dan minuman kusiapkan dalam tas ransel, dan rasanya tak perlulah membawa senjata, alat yang kumiliki jauh lebih efektif untuk melarikan diri jika terjadi kekacauan.

Setelah menyetel koordinat Myanmar, aku meneguhkan hati, karena perjalanan ini bisa jadi kesempatan terakhirku di dunia. Tapi untuk apa khawatir? Bukankah neraka dan surga itu cuma fiksi? Dengan nafas panjang, tombol kiri kutekan.

BIP!

***

Ombak kecil mungil menghempas sepatu kulitku, pasir pantai kecoklatan menghiasi seluruh arah pandangku, sementara pohon-pohon kelapa serupa tirai yang menyembunyikan misteri di baliknya.

“Berhasil!”

Aku menari seperti orang kerasukan, merayakan kesuksesan, tak sia-sia siang malam hidup hanya di laboratorium pribadi, hasilnya memuaskan!

Bunyi tembakan menghentikan perayaan kecilku, baru kali ini suara dari senapan mesin terdengar sangat dekat, dan memang dekat, sepuluh tentara Myanmar berpakaian serba hitam dan menggunakan pelindung wajah transparan mengejarku.

Urusan gampang, kutekan tombol kanan, dan keajaiban terjadi, orang-orang itu tak bisa melihatku, aku tak pergi ke mana pun, melainkan memanipulasi pembelokan cahaya di sekitar mereka.

Seorang tentara berteriak, bahasanya tak kumengerti, yang satu ini tak salah lagi pasti pemimpin pasukan. Ia tampak beringas. Aku wajib berhati-hati.

Setelah pasukan militer itu pergi, aku baru sadar, ternyata tempat ini adalah Rakhine State, Myanmar, bagian pesisir utara. Padahal tujuan awalku adalah Naypyidaw (ibu kota Myanmar).

Gila! Aku berada di daerah konflik!

Meski takut, kaki tetap melangkah melintasi hutan kecil yang membatasi pantai dan pemukiman penduduk. Aku jarang menapaki tanah sekering ini, kuning terang dan berdebu. Kucing lewat saja dapat menimbulkan semacam kepulan asap, tak jauh beda dengan tempat asalku—Ponville City, Red Nation—yang juga banyak polusi akibat kendaraan impor tak berani dibatasi oleh pemerintah.

Dari kejauhan terdengar bunyi tangis anak-anak dan wanita, perlahan aku menyelinap di belakang rumah penduduk.

Entah halusinasi atau nyata, penduduk desa tersebut dipukuli dengan balok dan pentungan besi. Seorang pria, kepalanya ditendang dari samping oleh tentara yang kulihat di pantai tadi. Apa salah orang-orang ini? Rohingya!

Rumah-rumah mereka dilempari dengan batu sampai pecah kaca-kacanya, bahkan tangan kananku nyaris cedera akibat peluru yang tembus melewati dinding.

Selama tiga puluh menit, aku memperhatikan dari tempat aman—meski mereka tak bisa melihatku—perlakuan kepada manusia-manusia malang tersebut. Aku rasa tak perlu menjadi orang beragama—seperti aku—untuk mengatakan bahwa orang-orang Rohingnya sedang dizalimi oleh pihak terntentu. Setan mana yang sukacita menendang kepala seorang perempuan? Kurasa ini yang disebut akhir zaman, seperti dikatakan teman-temanku yang percaya Tuhan.

Setelah pasukan pergi dari desa, aku mendekati seorang pemuda dan menetralkan kembali alat penghilang wujud, supaya terlihat lagi wajahku yang tampan luar biasa.

“Hei, Kau!” bisikku dengan suara agak menekan.

Orang itu bangun dari pembaringannya, di antara puing-puing rumahnya barangkali. Dengan susah payah ia mengenaliku, maklum kepalanya baru saja ditendang keras. Bahasanya sulit dipahami, mirip dengan yang biasa kudengar di film-film India.

“Do you speak english?” tanyaku.

“I do. Who are you?”

Bagus ... walaupun bahasa inggrisnya hancur lebur seperti bangunan di seluruh desa, aku mendapatkan informasi yang cukup untuk memenuhi buku harian. Mereka diserang karena tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, lebih parah lagi ... karena masyarakat Rohingya adalah pemeluk agama Islam, orang-orang yang menganut agama tersebut disebut muslim.

Aku bertanya kepadanya mengapa mereka mati-matian mempertahankan keimanan tersebut, atau setidaknya mereka harus melakukan sedikit perlawanan ketika dizalimi. Jawabannya cukup mengejutkan.

“Kami sangat mungkin akan mati di alam fana ini, tapi Tuhan tak pernah berbohong bahwa surga telah tersedia bagi kami yang tetap beriman kepada-Nya. Membela diri? Setiap kali umat Islam beraksi menuntut haknya, semua itu dianggap tindakan teroris. Selalu begitu dari dulu, lagipula kami tak punya senjata, hanya kumpulan masyarakat sipil yang cinta damai,” jelas Qumar. Aku dengan susah payah memahami itu semua, bukan karena bahasa inggrisnya yang kacau balau, tapi sulit bagiku menerima bentuk keimanan seperti penjelasannya.

Pusing dan bingung menyatu di kepala, sudah saatnya pulang. Sekarang mentari merendam setengah cahayanya di cakrawala. Kutekan tombol kiri.

BIP!

***

Manusia tercipta tak semata-mata karena konspirasi alam semesta dan berpadunya sperma dan sel telur saja. Pasti ada sesuatu yang menggerakkan itu semua! Tapi ... siapa?

Aku memerhatikan pantulan bayangan di cermin. Rambut ikal ini, mata kecil, tubuh besar. Kurasa bukan kebetulan genetik saja. Mungkin ada mata pelajaran atau kuliah yang terlewat saat masih belajar dulu.

Seminggu lewat sejak pertemuan dengan Qumar, tak sedetik pun aku bisa istirahat tenang. Selain susah melupakan bentuk rambutnya yang mirip sapu kusut nan berdebu, kata-katanya tentang surga menghantui. Konsep surga dan neraka tak pernah sekali pun disinggung dalam pendididikan di Red Nation. Hasilnya, sekarang aku penasaran!

Kemarin aku menghubungi seorang teman di negara Indonesia untuk menanyakan seperti apa Islam sebenarnya. Lalu ia menyuruhku untuk pergi ke Mekah, kota suci bagi kaum muslim, katanya mungkin akan ada jawaban di sana.

Maka, sejak satu jam yang lalu, aku menyetel koordinat tempat tersebut pada “jam tangan”, ada perasaan takut untuk pergi, entah apa yang menanti di negeri itu. Tapi sudahlah, kebenaran harus dicari.

Dengan keberanian yang bulat, kumulai perjalanan ini.

BIP!

***

Katanya di sini ada Kakbah, suatu kiblat bagi umat Islam. Katanya di sini banyak orang beribadah, tapi yang kulihat hanya ruangan besar berwarna putih di sekelilingku, langit-langitnya tak tampak, dibuat tinggi barangkali. Lantai tempat itu terbuat dari marmer berwarna putih, mulus, aku bahkan bisa melihat bayanganku sendiri, terpantul di atasnya. Tempat apa ini?

Kucari pintu keluar, hasilnya nihil. Saat kebingungan maksimal melanda kepala, terdengar pelan bunyi kepak sayap dari atas. Sesosok makhluk yang dilingkupi cahaya turun mendekatiku. Sayapnya ada dua pasang, naik turun memotong udara, wajahnya tak terlihat karena tertutup sinar yang sangat terang. Hal ini sangat ganjil, anehnya ... tak ada rasa takut sedikitpun di sanubariku.

Aku tak bisa bergerak saat ia membisiki sesuatu, dua kalimat yang bisa membuatku mengunjungi Kakbah dari dekat, kurang lebih begitu penjelasannya. Tak lama, makhluk itu menghilang, dan aku entah bagaimana caranya sudah kembali ke dalam laboratorium.

Segera kuperiksa “jam tangan” sakti sialan ini, jangan-jangan sudah rusak karena kugunakan sembarangan. Beberapa waktu lalu benda itu diuji lagi untuk perjalanan jauh. New York, Hong Kong, Tokyo, semuanya berhasil, tapi ... Mekah? Aneh, alat tersebut mengkhianati harapanku.

Berjam-jam pemeriksaan ulang, tak ada yang salah dengan mesinnya, aman sentosa. Sebagai ilmuwan, kejadian hari ini mengusik harga diriku, kegagalan penemuan adalah aib. Bagaimana pun aku harus sampai ke Kota Mekah dan melihat Kakbah yang penuh misteri itu dengan mataku sendiri.

Esoknya semua buku mengenai Islam dan teknik mesin memenuhi laboratoriumku. Riset baru dimulai.

***

Orang bijak mengatakan, entah orang yang mana, “Usaha tak pernah mengkhianati hasil.”

Meski aku sendiri tak terlalu setuju dengan ungkapan tersebut, tapi kalimat itu tak seluruhnya salah. Dengan usaha keras dan riset yang mendalam, akhirnya aku mampu melihat Kakbah dengan jelas, tepat di depannya. Batu Hajar Aswad yang sering kulihat dari buku, kini bisa kupandang secara langsung.

“John! Jangan bengong saja! Ayo kita mulai berdoa bersama!” seru ketua rombongan umrah.

Aku segera memperbaiki letak kain ihram yang agak berantakan karena terburu-buru memasangnya tadi. “Baik, Pak! Tunggu sebentar!”

----

Pontianak, September 2017
Dicky Armando

Sumber foto: Pixabay.com