Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 2 September 2017   14:45 WIB
Utusan

Setan kebingungan mencari wakil baru untuk menyebarkan paham sesat, agar manusia jauh dari tuntunan Tuhan. Sebenarnya tidak sulit mencari kriteria seperti keinginan setan, karena setiap orang memiliki sisi gelap yang bisa dimainkan jika tak punya keimanan. Namun, cara frontal sudah ketinggalan zaman dan mudah tercium aromanya. Maka calon yang baru ini haruslah seseorang yang tampak merangkul semua golongan. Ibarat parasit, membunuh dari dalam.

Sampai suatu hari, setan telah sampai di Ponville City. Meski baru beberapa menit menginjakkan kaki di sana, setan  telah mengetahui kota tersebut punya keunikan: masyarakatnya apatis.
 
Setan menghitung ada lebih dari seribu warung kopi bertebaran di Ponville City. Setiap hari—dari pagi sampai malam—tempat itu tak pernah sepi, di dalamnya penuh percakapan, mulai dari yang berbobot sampai yang omong kosong. Ponville City adalah “surga” baginya, ia merasa akan menemukan pengikut baru di sini. Setan memutuskan berganti wujud menjadi seorang manusia bernama Percy Evilgo, supaya lebih mudah membaur dengan orang-orang yang ditemuinya.


***

Genap tiga puluh hari, Percy Evilgo membuntuti seorang pemuda yang menurutnya sangat lihai bersilat kata. Perawakan orang tersebut kurus, rambut panjang sampai punggung, dan selalu berteriak tentang ideologi ideal yang sebenarnya terselip standar ganda.

Jose Dogya nama manusia itu. Percy Evilgo sampai terheran-heran dari mana Jose Dogya mendapatkan ide meracuni generasi polos dengan kedok kesenian. Pelan tapi pasti, Jose mampu meraih hati anak-anak baru besar di Ponville City, beberapa di antaranya sudah tak lagi memegang teguh ajaran Tuhan, melainkan menuhankan kebebasan isi kepala sendiri. Kitab-kitab suci dianggap sekadar buku bacaan biasa yang tak lebih hebat dari moralitas dalam versinya sendiri.

Pergerakan Jose Dogya sulit dihambat, karena ia tampak membela semua agama, namun tidak seperti apa yang keluar dari mulut bangsat itu, sebenarnya pria gondrong tersebut mencoba menghina agama tertentu dengan “malu-malu”. Jose Dogya tak ubahnya manusia yang rajin “cuci tangan”, dilengkapi dengan topeng baja di wajahnya.

Suatu hari, di sebuah warung kopi, Jose Dogya berteriak tentang toleransi beragama di Ponville City yang semakin menipis, para hadirin di sana menyimak dengan takjub kata-katanya, seperti tersihir, apalagi mulut Jose Dogya telah dimantrai oleh Percy Evilgo dari jauh, semakin kuatlah pengaruh kebohongan itu di hati para bodoh pemuja kesesatan.

Esoknya, beredar selebaran beraroma kebencian terhadap agama tertentu. Penulis di balik lembar dosa tersebut tidak lain adalah Jose Dogya.

***

Di suatu sudut Ponville City yang remang-remang oleh lebat daun akasia, Jose Dogya berjalan pelan menuju rumahnya. Ia pasti tak pernah menyangka ada makhluk dunia lain yang sedang menunggunya dengan sukacita di ujung jalan.

Hangat mentari sore biasanya menenangkan otak siapa saja yang memandang, tapi tidak untuk Jose Dogya, di kepalanya penuh trik dan metode untuk meneguhkan ideologinya.

Matanya lalu tertuju kepada seseorang yang melempar senyum ramah kepadanya. Lelaki tersebut bersembunyi dalam bayang-bayang daun akasia. Cahaya matahari adalah kutukan bagi setan. Menggunakan setelan hitam-hitam, jelmaan setan itu terlihat mirip dengan petugas pemakaman Ponville City yang digaji pemerintah.

“Apakah aku mengenal Anda?” tanya Jose Dogya.

“Tidak, tapi aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri.”

“Siapa nama Anda?”

Setan segera menjabat tangat Jose Dogya. “Percy De Ville. Aku siap melayani Anda!”

Belum sempat mengatakan apa-apa lagi, Jose Dogya mengalami trans, untuk beberapa detik jiwanya melayang ke antah berantah. Setan telah menanamkan pengetahuan kepada murid barunya tanpa perlu banyak kalimat.

Suara klakson mobil mengembalikan jiwa Jose Dogya ke alam nyata, ia menemukan tubuhnya tersandar pada batang pohon yang membatasi jalan dan trotoar. Di ujung kaki, tergeletak sejumlah uang besar, cukup untuk misinya menebarkan kebencian dan mencuci otak generasi muda.

Dengan modal yang cukup, Jose Dogya mampu menimbulkan keresahan, memancing emosi umat beragama Ponville City agar saling bertikai, hanya dengan cetakan di atas kertas.

***

Setan bekerja dengan teliti pun sistematis, tapi Tuhan bekerja dengan cara yang tak pernah disangka, contohnya ketika Jose Dogya menyebarkan lembaran kebohongan pada tengah malam, ia tak sadar sebuah kamera pengawas milik Organisasi Kerukunan Beragama Ponville City merekam semua gerak-geriknya.

Sejak kelakuan tak terpuji itu tersebar di masyarakat, Jose Dogya kehilangan semua pengikutnya, ia tak kultus lagi. Di penjara ia menyebut “Percy De Ville” setiap malam, berharap pria itu mengeluarkannya dari penderitaan, tapi seperti yang sudah-sudah, berharap kepada selain Tuhan merupakan kesia-siaan tanpa ujung.

----

Pontianak, 2 September 2017

Dicky Armando 


Sumber foto: Pixabay.com 

Karya : Dicky Armando