Cara Bunuh Diri

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Agustus 2017
Cara Bunuh Diri

Banyak orang mati dengan cara yang unik, ada yang menceburkan diri ke sungai padahal dia bisa berenang (mungkin hanya cari sensasi), minum anti nyamuk cair dalam jumlah yang membahayakan, gantung diri, dan lain-lain.

Meski berbagai macam cara, hal paling menarik adalah alasan di baliknya. Sebagian orang memilih mati karena putus cinta, tak dipedulikan keluarga, dan ... yang paling konyol, mati meninggalkan utang!

Mengingat hal-hal tersebut, aku tak heran masyarakat Dry Island melakukan bunuh diri massal saat Presiden Frog mengkhianati loyalitas mereka.

Sepanjang pantai, aku melihat tubuh-tubuh tak bernyawa terbaring kaku di bawah sinar matahari, beberapa masih hidup, membawa semacam cemilan dibungkus kantong plastik hitam ukuran satu kilogram.

Di sana ada seseorang yang bertugas menyusun mayat-mayat agar lebih rapi, supaya bisa muat bagi tubuh malang lainnya. Ia sendiri sepertinya sudah bosan hidup, entah alasan apa yang membuatnya bertahan. Kadang pria tua itu menangisi kepergian rekan-rekan sejawatnya, kadang senyum sendiri. Jika malam tiba, dia akan menari di atas tumpukan mayat busuk.

Sudah tiga ratus hari aku di pantai ini, menulis dan merekam semua kejadian. Harus kuakui, cara bunuh diri masyarakat Dry Island termasuk yang paling orisinal: mati dengan hal yang telah berabad-abad menghidupi mereka.

Entahlah ... aku bingung. Bukankah mereka harus bersyukur punya pemimpin negara yang baik hati? Terlebih kepada pihak asing, Presiden Frog rela membungkukkan punggung sampai mulutnya menyentuh ujung sepatu utusan negara lain. Agar dipandang ramah, supaya terjalin kerja sama yang belum tentu sampai mana.

Padahal menurutku Presiden Frog ini tak punya “cacat” kecuali satu: penyakit lupa. Dia tidak ingat saat terpilih menjadi orang nomor satu di Red Nation, semua warga Dry Island merayakannya selama tujuh hari tujuh malam sambil memuja sebuah poster besar yang menampilkan tubuh kurusnya, atau mungkin tidak tertulis dalam catatan partai sang presiden, bahwa masyarakat Dry Island memberikan seratus persen suara baginya.

***

Saat semua ini dimulai, aku sedang berada di kedai minuman, menikmati secangkir kopi susu yang manisnya belum bisa menyamai wajahku.

Dry Island merupakan pulau yang sangat mengagumkan, penuh dengan orang-orang tangguh yang berjuang hidup di tanah gersang. Sembilan puluh persen masyarakatnya bekerja sebagai pengolah garam. Sebagai seorang penulis, tempat ini benar-benar lokasi yang akan memberikan pengalaman dan sudut pandang baru untuk mengisi buku dengan tema wisata lokal.

Jika dipandang dari atas gunung, air laut yang dialirkan ke lokasi khusus berbentuk persegi, tampak seperti kilau permata saat terhampar cahaya surya, pantulannya menerangi batang-batang kaktus yang membentuk pagar pada pinggiran bukit. Meski panas, namun cantik nian!

Mataku terpaku, sambil mendengarkan berita nasional yang menampilkan adegan Presiden Frog sedang menandatangani persetujuan impor garam dari negara lain. Lalu ia menyampaikan alasan-alasan diplomatis agar bisa diterima seluruh rakyat, bisa ... bisa ... bisa diterima oleh masyarakat berotak udang.

Masalahnya, orang-orang di Dry Island kebanyakan cerdas, bahkan mereka tahu, bersuara membela isi periuk sama artinya dengan siap dipenjara tanpa tuduhan. Oleh karena itu, mereka beramai-ramai bersantai di tepi pantai sambil mengudap garam ...  garam yang akan segera tak laku di pasaran. Berhari-hari mereka di sana dengan jumlah yang semakin bertambah. Kejadiannya selalu sama: merenung menatap laut, mengudap garam dalam jumlah besar, dan berbaring. Begitu pengulangannya setiap hari dengan frekuensi berbeda per individu. Jika kristal asin itu habis, mereka pulang, dan menambahnya lagi langsung dari tambang-tambang garam pribadi.

Bulan berganti, mereka mati pelan-pelan, kata dokter akibat tekanan darah tinggi, kekurangan nutrisi, dan depresi. Tapi aku rasa mereka meninggal karena penyebab yang sangat sederhana: dikhianati.

***

Pria itu mendekatiku sambil menari. Cahaya lilin yang hanya sebatang menambah suram tatapan lelaki tua tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. Setelah hampir satu tahun, ia sepertinya baru menyadari kehadiranku.

“Aku sedang mengabadikan sejarah.”

“Bagus! Sebarkan pada dunia bahwa pemimpin yang terlihat ‘membumi’ biasanya punya otak yang ‘mewah’!”

----

Pontianak, 29 Agustus 2017

Dicky Armando 


Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 59