Seremoni

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Agustus 2017
Seremoni

Terakhir kali semangat membara ketika lagu Indonesia Raya bergema—dan saat bendera merah putih di puncak tertinggi—mungkin terjadi pada masa kelas enam sekolah dasar, atau kalau mau ditawar, kira-kira pada masa kelas dua sekolah menengah pertama. Tidak lebih! Saat itu aku terpukau padunya gerakan teman-teman yang menjadi pasukan pengibar bendera, dan yang paling penting ... aku masih buta akan kenyataan.

Pagi ini—tepat tanggal tujuh belas bulan Agustus—aku telah bersiap. Sejak subuh hampir habis, aku telah berpakaian rapi dan menyisir rambut sebaik-baiknya.

Kalau saja pihak kampus tak memaksaku datang dengan segala “ancaman”, aku tak akan ikut upacara memperingati kemerdekaan negara yang sangat kucintai.

Bukan karena aku tak menghargai jasa para pahlawan, tapi karena kita semua—mungkin termasuk diriku—telah mengkhianati arti dari kemerdekaan itu sendiri, dan hanya menjadikan upacara sakral tersebut menjadi rutinitas dan syarat institusi belaka.
Tepat pukul setengah tujuh, aku berangkat. Jalanan masih sepi. Kulihat ada beberapa pemuda yang juga berpakaian hitam putih, tampaknya mereka juga akan menjadi peserta upacara di tempatnya masing-masing.

Pasar sayur yang biasa ramai juga terlihat sepi, meski masih ada beberapa pedagang bercokol di sana. Apakah mereka juga sepertiku yang bingung memaknai kemerdekaan? Atau mungkin mereka tak sadar telah merdeka?

Tapi rasanya para pedagang itu sebenarnya menjalankan slogan yang selalu diagung-agungkan di televisi: Kerja! Kerja Kerja!
Bahkan bisa saja mereka telah merevolusi mental agar selalu giat bekerja untuk membayar harga bahan bakar dan listrik yang merangkak naik dengan malu-malu.

Di pinggir jalan, sejumlah warga menggantung kerupuk pada sebentang tali. Anak-anak kecil telah siap untuk berlomba, mereka tertawa riang tanpa tahu nanti masih bisa sekolah atau tidak. Pemandangan seperti itu sudah jarang—setidaknya di daerah sekitarku—dan sekarang adalah masa yang paling hampa. Orang-orang sudah apatis, ya ... kita sebut saja begitu sebagai pengganti kalimat bahwa masyarakat sudah bosan dengan janji-janji wakil rakyat yang bahkan tak pernah membaui aroma pasar tradisional.

Sepanjang perjalanan, para calon walikota menebar senyum, kadang ada di kiri jalan, kadang di kanan. Mereka berupa poster besar yang biayanya bisa memberi makan anak-anak yatim piatu di panti asuhan, sekaligus membantu uang sekolahnya.
Tahun berganti, kita tetap saja terkecoh dengan propaganda seperti ini.

***

“Apa yang kau pikirkan, Bujang?” tanya Rojali kepadaku. Ia tampak gagah dalam balutan baju pasukan pengibar bendera. Ketika itu upacara sudah selesai.

Aku sedang tak berminat berbasa-basi atau menjawab pertanyaan, pikiranku sedang tertuju pada bendera merah putih di puncak sana. Sebentuk senyum paling tulus teruntuk temanku yang rupawan itu.

Rupanya dia mengerti ada sesuatu di pikiranku yang tak pernah sederhana. Rojali paling tahu jika aku sedang berperang dengan isi kepalaku sendiri.

“Kau pasti sedang bertanya-tanya tentang arti kemerdekaan, bukan?” tanya Rojali lagi.

“Ya.”

“Lalu bagaimana menurut versimu yang rumit itu?”

“Yang pasti kemerdekaan bukan tentang makan kerupuk, panjat pinang, dan tepuk bantal.”

Rojali tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya ia memang menunggu jawaban konyol dari mulutku.

“Bagaimana denganmu tentang semua ini?” tanyaku.

“Maksudmu Indonesia?”

“Ya.”

Dengan satu tarikan nafas yang dalam, Rojali menjawab mantap, “Harga mati!”

Luar biasa! Memang begitulah seharusnya semangat seorang pasukan pengibar bendera. Namun jawaban tersebut terasa sunyi di telingaku, mirip bunyi mobil mewah pejabat yang datang minta diundang, dan pergi tanpa ada yang tahu. Sesunyi lapangan upacara ini, dibiarkan begitu saja sampai tahun depan. Kecuali ... ada pertandingan futsal.

***

Ketika sore hari, suasana sedikit lebih meriah, masing-masing gang mengadakan lomba padahal mereka berdekatan. Kadang aku terheran-heran, masalah permainan saja kita susah bersatu, tak heran Belanda betah lama-lama di sini.

Bahkan gang-gang di seberang sana—yang dibatasi oleh parit besar—tak satu pun nampak batang hidung penghuninya meski hanya sekadar menonton euforia lomba perayaan kemerdekaan. Entah malu karena tak ikut menyumbang uang, atau memang tak ada artinya lagi bagi mereka kata “merdeka”.

Mataku tertuju pada pilar gapura, seorang anak kecil berbadan gempal duduk sambil memperhatikan kemeriahan suasana. Wajahnya berbinar ketika anak-anak lain berlomba makan kerupuk yang digantung panitia, namun ketika pergantian pemain, air mukanya muram kembali saat tak pernah disebut namanya sampai permainan usai. Lalu ia berteriak kegirangan saat hujan hadiah berjatuhan dari pohon pinang gundul di tengah lapangan, kemudian bersedih hati, karena tak ada satu pun untuknya. Malang benar nasibmu, Nak! Aku tahu perasaan itu! Perasaan diabaikan oleh orang-orang yang mengaku mengadopsi budaya ramah-tamah dan peduli lingkungan sosial.

Edo mungkin satu dari sekian anak yatim piatu yang tak mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Dia tak bisa mengikuti lomba lantaran neneknya yang lumpuh tak bisa mendaftarkannya ke panitia. Alhasil, bocah berumur lima tahun itu hanya bisa bermimpi mengikuti kejuaraan makan kerupuk tingkat rukun tetangga (RT), padahal kutahu, nafsu makan Edo seperti komodo, sungguh bakat yang luput dari penglihatan ketua RT.

Aku merasa bersalah. Sebagai bagian masyarakat setempat, aku termasuk orang yang mementingkan rasa kenyang untuk diri sendiri, sehingga tak tampak Edo di mataku. Untuk menebusnya, kuajak anak malang tersebut makan bakso di warung, seberang gang.

Ia benar-benar seperti komodo, kuat makan! Aku seperti menatap cermin yang di dalamnya terpantul bayangan masa kecilku. Senang melihatnya, dengan cara inilah aku bisa sedikit mengurangi rasa bersalah karena mengkhianati prinsip hidupku sendiri: tetap peduli kepada orang lain meski tak ada orang yang peduli dengan diri kita.

Tawaku tak henti melihat Edo makan dengan lahap, seperti takut kehabisan jatah. Katanya bakso tersebut adalah yang pertama kali sejak ibunya meninggal. Miris, mengingat anak-anak tetangga lain kalau disuruh makan susahnya luar biasa.

“Kalau tanggal tujuh belas Agustus, apa yang harus kita lakukan, Do?” tanyaku iseng.

“Harus upacara, Om! teriak Edo. Di dalam mulutnya masih ada bulatan-bulatan daging yang belum dikunyah dengan baik.

“Setelah upacara, apa yang harus kita lakukan?”

“Minggat!”

Lhooo? Kenapa minggat?”

“Panas, Om!”

----
Pontianak,  Agustus 2017

Dicky Armando


Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 54