Sepatu

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Agustus 2017
Sepatu

Satu dari sekian banyak hal yang sering membuat darahku mendidih adalah kemacetan, apalagi di saat-saat genting: hampir terlambat ke tempat kerja.

Rumahku yang berdekatan dengan Lotus Market—pasar terbesar di Ponville City—nyaris membuat setiap pagiku berantakan. Tapi tidak biasanya orang-orang berkumpul di satu titik. Ada apa hari ini?

Bau amis darah menusuk hidung. Kulihat beberapa orang menutup wajah sambil menangis, kebanyakan ibu-ibu yang suka menawar sayur di harga terendah.

Sepertinya aku mengenal siapa yang terbaring kaku dan bersimbah darah itu. Orang pasar sering memanggilnya “Mister Smith”, seorang penjahit sepatu.

Aku mendekat ke kerumunan massa. Ah ... malang sekali! Seluruh rambutnya yang putih laksana salju berubah merah seperti kelopak mawar. Ada dua luka tusuk di sana, begitu pula di perutnya.

Gila! Apa yang perampok harapkan dari orang tua seperti itu?

***

Sejak berdiri megah pusat perbelanjaan di General Road, ditambah maraknya sepatu-sepatu dari luar negeri dengan harga bersaing, membuat masyarakat Ponville City semakin konsumtif. Imbasnya, sepatu rusak sedikit langsung dibuang.

Ayah selalu berkata padaku, “John, hiduplah dengan hemat.” Setidaknya di hidup yang kadang terasa sia-sia, prinsip tersebut masih bisa dipegang erat. Bahkan sekarang, aku harus sedikit mengurangi pembelian pomade, biarlah rambut yang ikal ini untuk sementara dalam bentuk aslinya.

Bertahun-tahun lalu, jika tapak sepatu rusak, aku sering membawanya ke penjahit sepatu. Waktu itu ada ratusan orang melakoni pekerjaan tersebut.

Sekarang, di tahun dua ribu tujuh belas yang kejam, hanya tersisa beberapa orang termasuk Mister Smith. Ia biasa duduk sendirian—terkena debu dan hujan—persis di depan Lotus Market, dekat tiang listrik. Selalu mengenakan jaket dan topi yang sama setiap hari, satu-satunya perlindungan dari terik panas dan dosa.

Menurut cerita, Mister Smith punya kekuatan istimewa, disalurkannya pada benang dan jarum untuk menjahit sepatu. Katanya Walikota Ponville City sering meminta bantuan beliau untuk memperbaiki alas kaki para karyawan di pemerintahan. Berkat kemampuannya itu, masyarakat bisa dengan mudah membuat kartu identitas dan urusan lain yang terkait dengan administrasi resmi.

Sebelumnya, walikota kepayahan menghadapi bawahan-bawahannya yang sering pergi entah ke mana saat jam kerja masih berlangsung. Kadang beralasan mau jemput anak pulang sekolah, tapi setelahnya tak ada kabar. Alasan lain yang populer adalah makan siang, lalu menghilang tanpa jejak. Sistem yang tak memungkinkan para jahanam itu dipecat secara cepat membuat pening otak walikota, masyarakat umum tak kalah pusing. Membuat tanda pengenal bisa sampai enam bulan lamanya, padahal proses pencairan kredit motor saja biasanya cuma tiga puluh menit. Aneh memang!

Beruntung orang semacam Mister Smith tinggal di kota ini. Orang tua itu diminta walikota menggunakan kekuatannya. Alhasil, sekitar tujuh ratus anak buah sang walikota kakinya tak bisa bergerak ke luar kantor tanpa izin resmi. Sepatu kantor yang dijahit oleh Mister Smith wajib dipakai dan tak dapat ditolak dengan alasan apa pun kecuali mundur dari pekerjaan. Sudah jelas, bawahan-bawahan walikota tak akan berani ambil resiko hidup di dunia swasta yang menurut mereka menakutkan.

Mister Smith tak ingin mengambil keuntungan dari hal semacam itu, hitung-hitung mengabdi kepada masyarakat, begitu kira-kira dalam pikirannya yang sederhana. Tak satu sen pun diambilnya uang dari walikota, melainkan telah menjadi beras bagi anak-anak yatim piatu di panti asuhan. Masyarakat senang, kekuatan rakyat menang. Tapi tentu saja, hal tersebut tidak menguntungkan bagi pemuja kebiasaan lama.

***

Orang tua zaman dulu tak bisa diremehkan, mereka punya tenaga kuda. Mister Smith buka “praktik” dari jam tujuh pagi sampai sembilan malam. Katanya tak ada yang ia tunggu di rumah, hidup sebatang kara sebaiknya banyak bekerja.

Pada malam yang sejuk, Mister Smith beranjak pulang ke peraduan. Udara terasa begitu dingin, sedingin benda tajam yang menembus punggung sampai perutnya, dua kali. Pria tua itu jatuh tak berdaya, meski ia masih sempat melihat baju seragam khas karyawan balai kota di balik jaket hitam kumal pelakunya. Dua orang, itu hitungan yang terlintas untuk terakhir kali di otak Mister Smith, sebelum pelaku lain menusuk bagian kepalanya.

Mister Smith melepas nyawa tanpa ada satu manusia pun yang tahu sampai esok pagi ditemukan, kaku dan dingin.

Beberapa hari kemudian, walikota juga telah wafat, keracunan air katanya. Sekarang aku yang pening, kartu identitasku pasti tak akan pernah jadi.

----

Pontianak, 15 Agustus 2017

Dicky Armando


Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 59