Bambu di Atas Air

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Agustus 2017
Bambu di Atas Air

Ponville City memiliki jalur anak sungai yang biasa disebut Jaw River, istilah lokal itu juga sudah diresmikan pihak pemerintah kota.

Selain terkenal karena panjangnya, Jaw River juga menyimpan cerita angker. Menurut penduduk setempat, sering ditemukan mayat dalam keadaan rapi, berdasi, lengkap dengan setelan mahal. Tapi pihak petugas keamanan kota tak pernah memberikan keterangan secara resmi siapa saja yang pernah melepas nyawa di situ.

Meski menyimpan cerita mistis, tak membuat masyarakat Ponville City takut datang ke Jaw River, kebanyakan para pemancing, karena berbagai jenis ikan air tawar dalam jumlah besar hidup di sana. Kalau malam hari, lampu warna-warni akan menghiasi pinggiran sungai, persis suasana luar negeri di saat gelap yang hanya pernah kulihat di internet.

Jaw River memiliki aturan tak tertulis, berasal dari perkataan orang tua zaman dahulu kala, jika hanyut kumpulan batang bambu berbentuk seperti rakit, dari hilir sungai, maka orang-orang wajib menjauh sampai benda tersebut hilang dari pandangan. Konon, di bawahnya berenang sekelompok buaya siluman.

***

Sudah jam dua belas malam, sepertinya malam ini aku dan Hudson kurang beruntung, padahal biasanya kami bisa mendapatkan tiga kilogram ikan minimal, apalagi jenis ikan gabus yang bisa membuat dompet anak rantau berkurang kempesnya hingga tiga puluh persen.

Tak hanya kami yang sial, sepertinya pemancing-pemancing lain juga sudah menyerah, pulang satu-satu. Jangan-jangan ikan di sini sudah kenyang memakan daging mayat. Kemarin memang ditemukan lagi tubuh hanyut yang tak pernah muncul di koran-koran pendukung pemerintah.

“John, kita pulang saja!” keluh Hudson.

“Sabarlah dulu, ikan-ikan mungkin belum bangun.”

Impossible!” Wajah Hudson terlihat kesal mendengar jawabanku.

Hudson seorang pemancing yang cukup baik, namun ia punya masalah dengan udara dingin, kulitnya setipis lapisan luar kue lumpia. Apalagi malam ini, suhu berpihak kepada manusia-manusia yang sedang berbaring manja di kamar, wajar kalau Hudson matanya semakin merah menahan kantuk.

Aku ... entah mengapa, sejak kecil paling senang dengan udara dingin, tubuhku akan tetap panas meski suhu Ponville mencapai titik paling rendah. Hudson memberiku nama julukan: si kulit badak.

Setelah satu jam tambahan, aku pun menyerah, bukan karena sejuknya udara, tapi rasa kantuk bergelantungan di bulu mata. Hudson ternyata sudah tertidur seperti bayi, ia mengecap ibu jarinya.

Suasana sepi, hanya aku dan Hudson yang tersisa. Kabut mengalir di atas permukaan sungai, dan sebentuk rakit bambu tampak hanyut mengikuti arus. Pelan. Aku tersadar, kami terlalu dekat dengan pinggiran sungai. Ini berbahaya!

Hati berdenyut tak karuan, suasana horor, dan udara dingin menembus keberanianku. Hudson tetap tak bergerak meski sudah kuteriaki habis-habisan, rupanya ia telah jauh tenggelam dalam mimpi.

Kabut semakin tebal. Kakiku kaku seperti batang kayu mahoni yang siap dipotong.

“Ahhhhhhh!”

Aku meremas-remas rumput dan tanah, melawan tarikan di kaki kanan. Rasanya seperti terhunjam besi tajam. Saat setengah badan sudah masuk ke dalam air, aku masih sempat meneriaki Hudson agar bangun menghadapi kenyataan. Tapi ... tiada guna. Aku terseret ke dalam sungai. Warna-warni lampu mengiringi, tampak dari batas permukaan air, terasa seperti mengejek jiwa yang sudah di ujung tanduk.

***

Buaya menerkam mangsa tanpa ampun, memutarnya hingga remuk, lalu ditelan. Seperti itulah keganasan keturunan dinosaurus yang lolos dari seleksi alam itu. Menakutkan! Kiranya tak meleset gambaran di film-film penelitian dunia hewan.

Dan di sinilah aku, dikelilingi buaya-buaya putih, aku terbaring di tengah mereka. Seekor yang paling besar maju mendekatiku, moncongnya panjang, ditambah gigi tajam pemusnah nyawa.

Perlahan tapi pasti, makhluk tersebut berubah wujud menjadi seorang lelaki berumur sekitar lima puluh tahun, ubannya banyak sekali.

“Siapa kau?” tanyaku.

“Namaku Crocs.”

“Di mana ini?”

Dia tak menjawab melainkan memberi aba-aba kepada buaya lain untuk membawaku. Seeokor buaya putih menarik bagian belakang bajuku dengan giginya yang setajam silet. Serasa terbang, ternyata ini adalah dasar sungai pada dimensi yang berbeda.

Crocs berenang melesat dalam wujud manusia, aku dan suruhannya mengikuti. Tiada apa, kecuali gelap di sekitarku. Namun dalam samar, tampak banyak sosok manusia-manusia terkenal sedang berteriak dicabik buaya.

Aku pernah melihat wajah-wajah itu di spanduk atau papan pengumuman publik di Ponville City, kebanyakan dari mereka adalah pejabat dan kepala institusi tertentu. Beberapa orang yang kuingat juga rajin muncul di layar kaca memberikan keterangan-keterangan resmi versi mereka sendiri.

Di sebuah batu besar, Crocs berhenti, berdiri di atasnya dengan gaya khas penguasa zaman dulu: berkacak pinggang. Jubah putihnya berayun terkena arus sungai.

Buaya pengawal itu melepaskan gigitannya. Aku berdiri di samping Crocs. Pemandangan ini, barulah aku tahu sebab tak ada ikan: para siluman penguasa sungai sedang pesta pora. Mereka melayang ke sana-sini setelah berhasil melepaskan kepala-kepala manusia dari badannya. Sungguh aneh, tak lama tersambung lagi potongan tubuh yang terpisah itu. Aku ketakutan, mencoba kabur.

“Jangan khawatir! Kau bukan mangsa!” teriak Crocs.

“Siapa mereka?” tanyaku dengan merendahkan suara.

“Bukankah kau mengenalnya? Tentu saja kau mengenalnya! Itu jiwa-jiwa pendosa!

Aku mengangguk setuju. Jika diperhatikan baik-baik, wajah-wajah di depanku adalah kumpulan manusia yang selamat dari meja hijau dengan “jalur belakang”. Ada pejabat yang hobi jalan ke luar negeri bersama keluarganya, ada koruptor pengadaan beras, dan ada juga kepala dinas yang piawai memanipulasi biaya perjalanan dinas.

Crocs melajutkan kata-katanya, “Mereka bisa bebas di atas sana, tapi mereka akan menderita di sini selamanya.”

“Tapi aku tak pernah korupsi, hanya kadang-kadang aku mengambil mi instan milik Hudson tanpa permisi,” ujarku ketakutan. Aku tak mau dicabik buaya hanya karena lupa minta izin kepada Hudson sialan yang tertidur pulas di sana.

Senyum tergores di bibir Crocs. Ia lalu membisikiku. Banyak nama-nama yang disebutkannya, entah untuk apa.

***

Terasa jauh, tapi aku mendengar suara Hudson. Tergesa-gesa. Saat terasa guncangan di tubuhku, barulah terasa udara pagi yang berisikan lembut embun. Namun bunyi dari pengeras suara telah benar-benar membuka mataku.

Sejak jam empat subuh, Hudson dan regu penyelamat Ponville City mencariku di sepanjang Jaw River. Dua jam hilang dari peredaran dunia nyata. Dengan kondisi tubuh lemah, aku merasakan orang-orang membawa tubuhku masuk ke dalam mobil ambulans. Hudson ikut menyertai, terasa erat genggaman tangannya di kakiku.

***

Kepala keamanan Ponville City terkejut tatkala mendengar ceritaku, apalagi aku adalah satu-satunya orang yang selamat dari keangkeran Jaw River. Mungkin dia tak tertarik—atau tak percaya—dengan cerita kelompok buaya siluman, tapi ia tak habis pikir, bagaimana caranya seorang awam sepertiku bisa mendapatkan nama-nama mayat yang telah disebutkan dalam kisahku, kumpulan nama yang tak boleh bocor agar pemerintahan bisa menjaga kepercayaan masyarakat.

Setelah kujelaskan bahwa informasi tersebut berasal dari Crocs—sang penguasa sungai—ia tetap tak percaya. Aku maklum, cerita itu terlalu fantasi bagi yang tak mengalaminya.

Sebagai tukar guling alias penyumbat mulut, pihak berwenang memberiku posisi di pemerintahan Ponville City. Alasan ekonomi membuatku tak bisa menolak.

Keadaan ini membuatku tak lagi berani menemani Hudson—sahabat terbaikku—untuk memancing di Jaw River.

Keputusanku bisa jadi salah, setuju untuk menjadi bagian mafia pengeruk uang rakyat. Tapi ... apa mau dikata, ternyata rasa takut akan hidup susah mengalahkan hati nuraniku.

Setiap kali aku memandangi Jaw River dari lantai kantor paling atas, ada rindu yang menggebu, dan setiap kali itu pula aku menyadari bahwa menjadi pemancing ikan tidaklah begitu buruk: tak perlu belajar menipu.

----

Pontianak, 13 Agustus 2017

Dicky Armando 


Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 44