Bank Beri

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Agustus 2017
Bank Beri

Aku memacu sepeda motor pada kecepatan maksimal. Dalam keadaan seperti itu, semua lampu yang menyambut magrib tampak seperti kunang-kunang. Tapi Pak Jumadi sepertinya tak merasa resah atau takut—mungkin lebih tepatnya untuk apa takut—meski harus ngebut. Di belakangku, ia melayang tenang, ranting-ranting pohon bukan halangan, dan angin bukan lagi bagian dari dirinya.

Satu-satunya hal yang membuat Pak Jumadi terhenti adalah jika ia melihat manusia berbaju biru atau segala sesuatu yang berwarna biru, termasuk celana kolor bekas yang dipajang di pinggir jalan, pria yang meninggal dua minggu lalu itu akan berteriak kemudian disusul tangisan sendu. Celakanya ... Pak Jumadi hanya bisa dilihat binatang jenis tertentu, dan aku. Sialan.
 
Kenapa harus aku?

***

Dari sekian banyak gang di Sentraroom Street, hanya satu yang tak punya nama, dan di situlah tempat tinggal sekitar seratus orang kepala keluarga, bertumpuk-tumpuk seperti sampah. Saking dekatnya jarak tiap rumah, aku bisa mendengar desahan tetangga yang sedang selingkuh dengan tetangga lainnya. Rumah yang kusewa ada di ujung gang, setelahnya tersisa rawa-rawa. Meski tak punya nama, gang ini sangat terkenal di kalangan bankir, “Gang Sutang” ... begitu mereka menyebutnya, kata “sutang” berasal dari kata “suka” dan “utang”.

Di depan rumahku, tinggal satu-satunya penjahit di gang ini. Pak Jumadi namanya, seorang pekerja tangguh bagi istri dan satu orang anak yang sedang kuliah di seberang pulau. Beliau tak banyak bicara, hanya tahu kerja! Kerja! Kerja! Mirip slogan seorang pemimpin di negara tetangga.

Setiap malam, mulai dari jam tujuh, sampai jam dua belas, terdengar suara mesin jahit meraung-raung. Dari jendela rumahnya, aku bisa melihat kepala botak Pak Jumadi memantulkan cahaya lampu pijar.

Aku pernah mengatakan kepada Pak Jumadi agar mengganti lampu pijar dengan neon, agar bisa mendapatkan cahaya yang cukup saat menjahit. Tapi dia hanya menggeleng.

“Semua biaya hanya untuk anakku di sana,” katanya sambil menunjuk foto sebuah monumen tinggi berbentuk persegi panjang, dan di atasnya terdapat ukiran ular yang menyatu seperti api. Saat itu aku sedang bertandang ke rumah Pak Jumadi. Konon, aku adalah satu-satunya warga yang pernah masuk ke dalam rumahnya.

Wajah pria penjahit itu memang tidak ramah, sehingga membuat banyak orang salah mengartikan tiap raut wajahnya. Fakta membuktikan, ia tak seburuk dugaan para tetangga. Wajah Pak Jumadi mungkin mirip penjahat, tapi kata-katanya selembut ustaz, persis seperti domba berbulu serigala.

Keuntungan memiliki muka sangar adalah bisa menakuti para petugas bank yang sedang menagih utang. Pak Jumadi sendiri bersumpah di depanku bahwa baru pertama kali ia berutang kepada pihak bank, bisnisnya sedang lesu karena banyaknya baju impor murah. Presiden negara kami sepertinya terlalu sibuk mengurus utang negara, tak sempat lagi menengok ke bawah.

Suatu sore, aku tertawa keras saat petugas dari Bank Beri—dengan seragam biru muda—lari terbiritbirit ketika Pak Jumadi keluar dari rumah sambil membawa parang panjang.

“Mau bunuh orang, Pak?” tanyaku.

“Tidak, Doni, aku baru saja mau menebang pohon itu,” jawabnya sambil menunjuk sebatang pohon jambu air yang mati tersambar petir.

“Lalu orang tadi kenapa, Pak?”

“Entah, aku tak tahu alasan mereka lari."

Lalu kami berdua tertawa kecil setelah masing-masing paham apa yang terjadi.

***

Bank Beri tak pernah menyerah, setiap hari “pasukan” baru dikerahkan agar Pak Jumadi segera melunasi utang. Bukan tak membayar, namun ia mencicil semampunya, pria penjahit itu tetap bertanggung jawab. Namun ... ditagih dan didatangi setiap hari, aku tak sanggup membayangkan. Rasanya pasti seperti terkurung kemacetan parah, padahal gang di mana rumah tinggal berdiri tegak, hanya berjarak  lima ratus meter lagi.

Aku pernah diberitahu, orang baik-baik bisa dilihat ketika ia menikah dan meninggal, lalu hitung tamunya, dan kendaraan yang terpakir bisu di sepanjang Sentraroom Street ini punya satu tujuan: rumah Pak Jumadi. Pelanggan lama dan baru berdatangan dari seantero Ponville City, bukan untuk memberi order, melainkan penghormatan terakhir kepada si bapak berwajah garang, berhati lembut.

Pak Jumadi telah pergi, ia terbaring kaku di ruang tengah rumahnya yang kecil seperti otak tetangga-tetanggaku.

Bu Minah—istrinya—menceritakan Pak Jumadi kehilangan detak jantung saat dibentak oleh seorang karyawan Bank Beri bernama Kaham, perkataannya kasar seperti api yang membakar. Aku tak sanggup melihat air mata Bu Minah, lebih baik aku pulang saja, dan mendoakan agar jiwa tukang jahit tersebut damai selalu.

Aku membacakan doa panjang untuk Pak Jumadi di kamar, kuuntai seperti puisi, sampai tak terasa sudah jam dua belas malam. Keanehan mulai terjadi. Kupikir Bu Minah sedang bernostalgia dengan mesih jahit milik suaminya. Tidak! Mata ini tak salah lihat. Wujud Pak Jumadi terlihat sedang menjahit dengan serius. Sepertinya pihak Bank Beri tak pernah ikhlas dengan utang yang terkubur bersama jasad para debitur. Kini, arwah Pak Jumadi terperangkap di antara langit, bumi, dan ... mesin jahit.

Sejak kejadian itu, Pak Jumadi biasa menungguku di sebatang pohon rambutan yang ditanam warga “Gang Sutang”, dekat lapangan kosong. Bahkan Pak Jumadi sanggup menyingkirkan kuntilanak yang sudah lama meresahkan warga. Kini, tukang jahit tersebut meresahkan hidupku. Ia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, kecuali hanya teriakan dan tangisan.
Aku ingat kalimat dalam sebuah film barat: “The dead does not speak with human.”

***

“Pak! Janganlah menangis terus, aku takut mendengarnya!” seruku kepada Pak Jumadi di belakang. Aku masih tetap melaju dengan kecepatan yang sama.

Mendengar perkataanku, Pak Jumadi menjadi tenang, melayang dalam kehampaan. Sementara aku harus bergegas membayar uang kuliah melalui mesin ATM Bank Beri. Kebetulan pihak kampus bekerja sama dengan lembaga keuangan tersebut setelah pemimpin tertinggi universitas dihadiahkan sebuah mobil mewah oleh Kepala Cabang Bank Beri.

Aku berhenti di sebuah kantor unit Bank Beri, suasana di dalamnya masih ramai, meskipun sudah pukul tujuh malam. Aha! Akhir bulan! Mereka harus “tutup buku”.

Mesin ATM berada di dalam kantor, maka aku masuk tanpa pintu yang dibukakan oleh satpam yang sedang asyik minum kopi di kursi nasabah, ia bertingkah layaknya pejabat penting di situ. Beberapa karyawan memandang sinis, mungkin karena penampilanku lebih mirip gelandangan daripada mahasiswa semester akhir. Tapi mereka pasti tidak tahu—dan tak akan mau tahu—kalau rambut gondrongku ini selalu dibersihkan di salon mahal. Manusia memang hobi menghakimi sesamanya. Bersama Pak Jumadi—dalam bentuk hantu—aku kadang merasa lebih tenang, karena ia tak banyak bicara, lebih tepatnya tak pernah bicara, atau tak boleh bicara karena akan melanggar aturan alam baka.

Belum sempat kartu ATM masuk kedalam mesin, suara teriakan menggelegar, memecahkan hening para teller yang hampir teler menghitung uang milik orang lain.

Seorang karyawan Bank Beri berguling-guling di lantai, matanya merah seperti api. Petugas keamanan tak mampu berbuat apa-apa kecuali bersembunyi di balik pot tanaman kertas. Bapak terhormat yang sepertinya pemimpin di kantor itu juga hanya bisa berpelukan dengan para karyawan wanitanya, tentunya sambil menyelam minum air. Aku melihat tangannya meraba payudara seorang karyawati, dengan modus operandi: peluk. Parahnya, yang diraba juga menikmati. Ternyata ini kebun binatang, bukan kantor.

“Biruuuu! Biruuuuuu!” teriaknya.

Pada ID Card tertulis “Kaham”. Aku baru menyadari, Pak Jumadi tak lagi berada di sekitarku. Ia sedang merasuki manusia pemakan “bunga”!

Entah dapat ilham dari mana, aku langsung melepas baju kemeja biru si Kaham, lalu membakarnya di bagian depan kantor unit Bank Beri. Sekejap saja, suasana kembali seperti semula. Tenang.

“Aku ... aku ... aku dikeroyok nasabah!” Itu kalimat pertama Kaham saat siuman.

Begitu pula hidupku, kembali normal, dan apa adanya. Pak Jumadi sudah tak terlihat, suara mesin jahit tak lagi terdengar sejak Bu Minah memutuskan untuk melupakan kenangan indah di “Gang Sutang”. Bersamaan dengan itu, Bank Beri mengumumkan secara nasional, mengganti warna seragamnya menjadi hijau, sesuai dengan “warna” mata mereka kalau lihat uang. Mungkin suatu hari nanti akan ada hantu yang akan berteriak: “Hijaauuuu! Hijaaauuu!” Lalu mereka akan menggantinya lagi dengan warna merah, merah muda, atau biru kehijau-hijauan.

Jika itu terjadi, aku tak ingin jadi bagian cerita, karena dua puluh tahun setelahnya aku telah menjadi pemilik dominan saham beberapa bank di negara Red Nation ini, meski tak pernah sudi membeli saham Bank Beri. Seandainya arwah Pak Jumadi masih gentayangan, ia pasti akan melanggar aturan alam baka hanya untuk memarahiku habis-habisan.

--- 

Pontianak, 10 Agustus 2017

Dicky Armando 


Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 65