Apresiasi Puisi: Pay Jarot Sujarwo Menyentil

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 06 Juli 2017
Apresiasi Puisi: Pay Jarot Sujarwo Menyentil

Puisi bergenre satire, di tahun 2017 ini—menurut saya—masih termasuk laku, setidaknya di dunia maya (internet). Mengingat memanasnya iklim politik, maka banyak penyair menyampaikan sudut pandangnya dengan puisi jenis ini. Tema-tema apa pun dikupas habis untuk menunjukkan suatu kelemahan sistem, atau mungkin juga untuk kepuasan batin pribadi.

Pay Jarot Sujarwo, penulis dari Kalimantan Barat (Kalbar)—yang juga seorang backpacker—mengabadikan isu-isu lingkungan melalui puisi-puisi satire-nya.

Dalam buku antologi puisi penulis Kalbar, berjudul “Bayang-Bayang Tembawang” (diterbitkan Pijar Publishing, tahun 2015), pria kelahiran tahun 1981 ini mencoba menyentil kita semua agar lebih peduli pada alam.

Berikut puisinya di halaman 56:

            Lokalitas T-Shirt

           

            di pedalaman, hutan-hutan berganti kebun sawit

            di kota, seekor enggang hinggap di t-shirt

 

            Pontianak, 2015

 

Puisi deskriptif di atas bisa dengan mudah dipahami, betapa si pengarang berusaha menyindir tentang keadaan hutan dan kelestarian hewani di dalamnya.

Baris pertama menggambarkan hutan yang tadinya masih asri telah dirambah, berganti dengan pohon lain: sawit, statusnya kebun.

Di Kalbar—entah di daerah lain—perkebunan sawit menjadi polemik tersendiri. Ada yang mendukung, begitu pun yang protes keras.

Agustinus Handoko menulis sebuah berita di Kompas(dot)com pada 11/03/2012, yang berjudul “Ekspansi Kebun Sawit ke Tanah Adat Terus Berlangsung”. Berita tersebut menjelaskan adanya penolakan dari masyarakat setempat, namun masih saja ada investor yang mendapatkan izin lokasi.

Begitu pula Pay—sang pengarang—ia menunjukkan keprihatinannya secara lugas pada puisi di atas.

 

Baris kedua adalah kalimat paling sinis:

            Di kota, seekor enggang hinggap di t-shirt

Kata-kata tersebut bisa diartikan bahwa generasi muda di perkotaan sudah sulit untuk melihat langsung keberadaan binatang tersebut, sementara di hutan-hutan yang menjadi habitat banyak satwa telah tergusur.

Liputan6(dot)com mengabarkan—dalam berita yang berjudul “Hidup Burung Enggang Kian Terancam” (27/6/2016)—tentang pencegahan punahnya burung enggang di Kalimantan Barat, sekaligus menjadikan provinsi ini sebagai pusat konservasi dan penangkaran.

Maka wajar kiranya jika di kota, seekor burung enggang hanya bisa hidup sebagai gambar di atas permukaan baju kaos.

Burung enggang adalah simbol spesial bagi masyarakat Kalbar, ia tak bisa dipisahkan dari kearifan lokal.

Pay yang telah menjelajah ke negeri-negeri jauh—sebagai backpacker—mungkin telah melihat kenyataan bahwa tempat yang kita anggap memiliki “budaya” individualis, masih menjaga lokalitasnya dengan sangat berhati-hati agar tidak hilang ditelan zaman. Bertolak belakang dengan di negara kita yang katanya saling peduli sesama, tapi dengan mudah melupakan budaya lokal (termasuk tidak peduli dengan burung enggang).

Puisi “Lokalitas T-Shirt” adalah paradoksal sempurna untuk fakta yang mungkin terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Pay—pada halaman 57—sekali lagi mengusik kesadaran kita dengan puisinya yang berjudul “Dialog antara Aktivis Lingkungan”.

 

            “hutan ini harus diselamatkan

            jika tidak; kebakaran, banjir, kepunahan binatang!”

 

            di sela-sela dialog,

            mereka minum dari air yang dikemas dalam botol plastik

 

            Pontianak, 2015

 

Baris 1 dan 2 menunjukkan kalimat seseorang—sepertinya seorang aktivis lingkungan—yang berapi-api menyatakan hutan harus segera direhabilitasi, jika tidak, akan terjadi bencana ekosistem di tempat itu.

Bisa jadi sebagian orang kebingungan mengenai isi bait terakhir (baris 3 dan 4). Jika memang kesulitan menafsirkannya, maka coba berfokus pada kata majemuk “botol plastik”. Mengapa?

Inilah permainan ironi yang juga menjadi klimaks pada puisi ini.

Plastik merupakan bahan yang berbahaya bagi lingkungan, seperti yang diberitakan oleh Kompas(dot)com dengan judul “Inilah Bahaya Kantong Plastik” (17/10/2010), disebutkan bahwa kantong plastik butuh waktu 1000 tahun untuk terurai dengan sempurna. Kemudian bahan tersebut merupakan satu dari sejumlah penyebab perubahan iklim.

Sudah sedikit terang? Ya... inilah yang saya maksud ironi. Pay masih menyentil kesadaran kita semua, agar lebih jeli dan cermat, khususnya terhadap alam.

Puisi yang kedua ini, menunjukkan bahwa kadang orang-orang yang berteriak lantang pun tak bisa luput cela. Kita juga begitu, termasuk saya, telah menyebabkan kerusakan alam akibat kurangnya rasa peduli. Seperti biasa, perut kenyang sendiri merupakan budaya tergelap yang kita miliki di hati masing-masing.

Puisi-puisi di atas tidak terlalu puitis dalam pemilihan kata, namun itu pula yang membuat ia mudah tersampaikan maknanya. Semoga Pay Jarot Sujarwo akan tetap konsisten mengingatkan kita agar lebih peduli pada alam.

---

Pontianak, 6 Juli 2017

Dicky Armando - Penikmat Puisi 

 

Sumber foto: Pixabay.com 

Akun Facebook Pay Jarot Sujarwo: https://www.facebook.com/profile.php?id=100012009977646 

  • view 98