Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesusastraan 3 Juli 2017   05:01 WIB
Apresiasi Puisi: Suatu Hari Nanti, Karya Indra Intisa

Indra Intisa, seorang penulis yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah kantor pemerintahan Indonesia ini adalah penyair yang produktif.

Jika ada yang protes atau meragukan predikat “penyair” pada dirinya, mari kita kembali pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

  • Penyair: pengarang syair, pengarang sajak, pujangga.
  • Pujangga: pengarang hasil-hasil sastra, baik puisi maupun prosa. Ahli pikir, ahli sastra, bujangga.

Seandainya masih ada yang tidak menerima definisi di atas, maka biarlah otak dan hati saya menganggapnya penyair.

Dia—Indra Intisa—menurut pendapat saya, merupakan seseorang yang dengan teguh memperjuangkan eksistensi penyair-penyair di dunia maya (internet). Menurutnya, karya-karya di sana tidak boleh dianggap sebelah mata, hanya karena lebih mudah menayangkannya ke khalayak.

Saya ingin mengulas satu puisi Indra Intisa yang berjudul “Suatu Hari Nanti”. Karya ini ditayangkan pada tanggal 2 Juli 2017 di akun Facebook miliknya.

Berikut saya tulis ulang puisi pria yang lahir di Desa Sungai Abang, Provinsi Jambi, tersebut:

SUATU HARI NANTI

di pematang itu, kulihat
mata binar anak-anak
lumbung padi. tangan kecil
kaki mungil berlarian
di antara rimbunan padi
dan sayup-sayup gemericik
air--
"kejar daku!" pinta anak
celana pendek.
"kukejar kau!" balas anak
celana pendek.
anak-anak celana pendek
tak bingung mengejar 
bahagia yang ada di depan.
impian terus menjulang
setinggi bukit-gunung
kokoh tumbuh di hatinya.

kini tak kulihat: mata binar
pematang, rimbunan padi
gemericik air, bukit-gunung
selain langit tak terjangkau

2017

Sebuah puisi lirik yang ringan namun tak kehilangan makna. Serenada lugas, enak dibaca, dan mudah dicerna.

Sang pengarang mengajak kita memasuki dunia nostalgia, mungkin masa lalu yang terekam kuat di memorinya. Awal sampai akhir puisi, kita bisa merasakan apa-apa di hati Indra Intisa. Ia juga menyelipkan—menurut saya—sedikit penyesalan pada bait terakhir, tentang ketiadaan rasa ceria seperti dulu.

Kalimat “celana pendek” pada baris 9, 11, dan 12 seperti menyimbolkan sesuatu. Saya mengartikannya sebagai sebuah kebebasan. Layaknya sepotong celana panjang, ia tak bisa bebas bergerak sesuka hati. Celana pendek? Kita tak perlu ragu untuk bermain-main atau bergerak ke mana saja. Atau mungkin Indra Intisa sedang mengkritik “dunia dewasa” yang penuh aturan, namun hal tersebut seringkali dilanggar seolah-olah masih bercelana pendek.

Jika dibaca lagi, baris 1 sampai 17, merupakan gambaran “tanah” yang belum tersentuh oleh pembangunan, sehingga pada baris 18 sampai 21, sang pengarang menggambarkan tak ada lagi suasana di dalam ingatannya bertahun-tahun lalu. Kalimat “celana pendek” menjadi metafora kunci untuk menerjemahkan sebagian isi dari puisi ini, setidaknya begitu penafsiran saya sebagai penikmat puisi.

Permainan alegori yang cukup indah diukir Indra Intisa pada kalimat-kalimat berikut:

anak-anak celana pendek
tak bingung mengejar 
bahagia yang ada di depan.
impian terus menjulang
setinggi bukit-gunung
kokoh tumbuh di hatinya.

Mungkin kita semua pernah merasakan atau mengingat romansa yang indah, terlalu manis untuk dilupakan, dan pengarang puisi ini sukses mengembalikan memori saya ke masa-masa itu, ke suatu zaman di mana kita semua masih memiliki “kebebasan”.

---

Pontianak, 3 Juli 2017

Dicky Armando 

 

Sumber foto: Pixabay.com 

Link Facebook Indra Intisa: https://www.facebook.com/pianoputih?fref=ts  

Karya : Dicky Armando