Apresiasi Puisi: Bila Hati Masih di Rongga Dada, Karya Pradono

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 19 Juni 2017
Apresiasi Puisi: Bila Hati Masih di Rongga Dada, Karya Pradono

Puisi “Bila Hati Masih di Rongga Dada” karya Pradono, laksana sirine pengingat, setelah beberapa waktu lalu beberapa dari kita menghabiskan energi dalam bentrokan paham dan pandangan politik, baik di dunia maya maupun nyata. Sang pengarang memberitahukan kita agar tak lupa dengan sesama.

Berikut saya tulis ulang puisinya:

 

                        Hari ini matahari masih bersama kita

                        memancarkan sinar menghidupkan jiwa

                        mengulas senyum cerminkan bahagia

                        menderai tawa lukiskan ceria

 

                        Sementara jiwa yang lain rebah terbaring

                        menanggung derita mencurah air mata

                        mengharap belas kasih entah dari siapa

                        menggadai harta menguras yang dipunya

 

                        Wahai manusia bernama manusia

                        bila hati masih di rongga dada

                        tiada yang berat dan halangan selamatkan sesama

                        ringankan langkah pada yang susah

                        ringankan tangan berikan bantuan

 

Puisi ini saya dapatkan di beranda Facebook, kebetulan Bang Don—panggilannya—menandai saya pada karya tersebut.

Bang Don termasuk sastrawan dari Kalimantan Barat yang cukup produktif sampai hari ini, dan seorang deklamator ulung.

Saya berharap beliau telah banyak memberikan motivasi dan bimbingan kepada pemuda-pemudi di Kalimantan Barat, agar lebih proaktif dalam bidang bahasa dan sastra.

Baik ... kita kembali lagi pada objek pembahasan.

Karya Bang Don di atas, merupakan sebuah puisi deskriptif yang lumayan “terang”. Hal tersebut memang menjadi ciri khas Bang Don yang beranggapan bahwa pesan dari puisi harus sampai kepada pembaca. Kurang lebih begitu penjelasannya kepada saya—dulu—ketika kami bertemu di sebuah warung kopi.

Meski “terang”, puisi tersebut tidak kehilangan sentuhan makna yang masih bisa digali, walaupun mungkin terbatas.

Berdasarkan isi, saya menyebutnya epigram, karena puisi tersebut memuat tuntunan dan nasihat hidup.

Pada bait pertama, Bang Don memainkan tiap baris dengan cukup apik, yaitu berima sama (a-a-a-a). Hal tersebut menjadikan pembukaan yang lumayan menarik jika dibaca dengan tepat.

Namun sayangnya—menurut saya—bait pertama keseluruhannya adalah pengulangan makna, lebih tepatnya pada baris 2 sampai 4:

 

                        memancarkan sinar menghidupkan jiwa

                        mengulas senyum cerminkan bahagia

                        menderai tawa lukiskan ceria

 

Baris-baris tersebut menyampaikan satu makna: bahagia. Sepertinya Bang Don kali ini agak melankolis dalam pembuatan puisi, dan ingin berlama-lama agar mendapatkan suatu efek bunyi yang diinginkan.

Berlawanan dengan bait pertama, bait kedua menggambarkan keadaan tidak berdaya, kesedihan, dan penderitaan.

Bait ini layaknya bangunan yang terencana, tersusun rapi, tidak memaksakan rima, dan setiap baris memiliki makna yang berkesinambungan.

Perlawanan kondisi senang-sedih, menggambarkan kondisi sosial yang ada, maka saya menyebut puisi ini: puisi deskriptif ironi.

Klimaks yang cantik untuk pertentangan antara bait 1 dan 2 berada di baris 3 dan 4 pada bait ke 2:

 

                        mengharap belas kasih entah dari siapa

                        menggadai harta menguras yang dipunya

 

Alih-alih orang lain, bahkan rasanya kalimat “mengharap belas kasih entah dari siapa” sering berdengung di hati kita sendiri. Benar? Keadaan ini merujuk pada suatu ketika kita sedang dilanda musibah, dan orang-orang yang mengaku saudara atau sahabat malah menjauh. Saya mengacungkan jempol kepada Bang Don atas pemilihan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa apatisnya masyarakat sekarang ini.

Bait ketiga, merupakan campuran kemarahan dan nasihat si pengarang. Pada baris pertama, lagi-lagi Bang Don memainkan majas ironi sebagai suatu cara menyentuh hati pembacanya:

 

                        Wahai manusia bernama manusia

 

Seperti bentuk penegasan akan kesadaran diri sendiri dan orang lain, mengetuk kesombongan masyarakat modern seperti sekarang, lalu dilanjutkan dengan peringatan pada baris kedua:

 

                        bila hati masih di rongga dada

 

Sang pengarang puisi sampai harus mempertegas tentang letak “hati” di dalam tubuh, meski yang dimaksud di sini adalah perasaan. Mengapa sampai harus dipertegas lagi? Saya pikir karena kondisi sosial di daerah tempat si pengarang tinggal, mengalami tumpang tindih, sudah parah, sehingga harus segera diperingatkan.

Uniknya pada baris 5 dan 6, Bang Don memainkan efek bunyi karmina (pantun kilat) di dalamnya, saya menyebutnya seperti itu, walaupun jelas kalimat tersebut bukan karmina.

 

                        ringankan LANGKAH pada yang SUSAH

                        ringankan TANGAN berikan BANTUAN

 

Puisi “Bila Hati Masih di Rongga Dada” ini, menurut sudut pandang saya, mudah dicerna, tersampaikan maksud dan tujuan si pengarang, meski di beberapa bagian, masih ada kalimat yang terlalu “telanjang”.

Mungkin puisi-puisi cinta romantis akan tetap ada di zaman ini, tapi puisi dengan tema kemanusiaan tak akan hilang ditelan zaman. Sukses buat Bang Don. Terus berkarya!

---

Pontianak, 19 Juni 2017

Dicky Armando 

 

Sumber foto: Pixabay.com 

Link Facebook Pradono: https://www.facebook.com/don.azzila?pnref=story 

 

  • view 111