Koran dan Internet Adalah Saudara

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 10 Juni 2017
Koran dan Internet Adalah Saudara

Ternyata, perdebatan penulis/penyair/cerpenis, atau apa pun namanya—yang berkibar di koran maupun di internet—masih cukup hangat topiknya. Setidaknya di beranda akun Facebook saya.

Di satu sisi, kubu yang bersikeras bahwa tulisan berkualitas adalah puisi/cerpen/esai yang telah tercetak di koran.

“Koran itu ada ‘penjaga’-nya!” Kurang lebih begitu alasan mereka.

Di sisi lain, kubu yang berpendapat bahwa penilaian tulisan-tulisan di internet, khususnya sastra, tidak boleh dipandang sebelah mata—hanya karena tak memiliki “penjaga”, atau lebih bebas saat menayangkannya.

Jujur, saya lebih cenderung menyukai golongan yang terakhir, dan tidak anti kepada golongan yang pertama. Adapun kondisi-kondisi yang membuat saya mendukung “kubu internet” adalah:

Kondisi Satu

  • Seseorang menulis puisi, dan tercetak di koran.
  • Seseorang menulis puisi, ditayangkan di Facebook.

Pertanyaan: “Puisi mana yang lebih disukai pembaca?”

Jawaban: “Dua puisi di atas sama-sama tidak memiliki jaminan disukai atau dibenci oleh pembaca.”

Kondisi Dua

  • Seseorang menulis puisi dengan pengetahuan yang lengkap (teori dan metode sastra).
  • Seseorang menulis puisi yang menggambarkan perasaan hatinya, dengan hanya menggunakan sedikit teori sastra.

Pertanyaan: “Puisi seperti apa yang dianggap lebih berkualitas?”

Jawaban: “Puisi yang dianggap tidak berkualitas oleh sebagian orang—belum tentu tidak disukai oleh yang lainnya.”

Kondisi Tiga

  • Gelar “penyair” dinobatkan oleh pembaca.
  • Penyair itu hanya melingkupi nama-nama besar yang sudah diakui.

Pertanyaan: “Orang yang menulis puisi di internet, apakah bisa disebut penyair?”

Jawaban: “Kamus Besar Bahasa Indonesia telah menuliskannya dengan jelas, di luar itu—merupakan opini.

Ini pertanyaan kita semua: “Perlukah dilakukan penelitian yang mendalam mengenai sastra di internet?”

Tentu saja perlu, dan wajib hukumnya, agar bisa mengakhiri “perang dingin” yang sudah terlanjur terjadi.

Saya berharap, penulis sastra yang aktif di koran dan internet hendaknya saling mendukung demi kemajuan sastra Indonesia itu sendiri. Bukan untuk menunjukkan superioritas media tulisannya.

----

Pontianak, 10 Juni 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 107