Calon Pembaca yang Suka Menggigit

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2017
Calon Pembaca yang Suka Menggigit

“Kau tahu apa artinya sastra? Puisi?” tanya seorang pria yang rambutnya panjang menyentuh punggung.

Saat itu (sekitar bulan Desember, tahun dua ribu enam belas) saya dan kawan-kawan sedang menghadiri acara literasi di sebuah kafe, Pontianak. Saya jarang melihat lelaki itu datang ke acara-acara literasi sebelumnya, dengan ini—baru dua kali, dan saya berkesempatan berbicara dengannya. Dia memang sempat menyebutkan bahwa dirinya mencoba memasuki “dunia” komunitas kami (maksudnya literasi). Berarti jelas, ia berasal dari perkumpulan lain sebelumnya, bisa jadi dari komunitas lingkungan hidup, atau pun seni musik, dari gayanya seperti itu.

“Abang mau tahu arti sastra berdasarkan literatur atau menurut versi saya?”

Dia diam sejenak, mengangkat sedikit dagunya yang lancip itu, sepertinya sedang berpikir. Tapi pria tersebut tidak menanggapi pertanyaan saya, dan mengganti pertanyaannya. “Sudah berapa lama kau menulis?”

Jujur, saya merasa curiga, ini orang sebenarnya mau bertanya atau sedang menguji? Mungkin di dalam hatinya ada kebanggaan jika ia bisa terlihat lebih ahli di suatu bidang lain—yang bukan komunitasnya.

“Sejak kelas enam sekolah dasar. Memangnya kenapa, Bang?”

“Jadi kau ini penulis?” Lagi-lagi ia tak menjawab pertanyaan saya. Aneh.

“Kalau berdasarkan kamus, saya ini penulis. Tapi dalam praktiknya, saya ini seseorang yang senang menulis, bisa dibilang hobi.”

Lelaki berpakaian serba hitam itu memperbaiki posisi tubuhnya menjadi lebih tegak, wajahnya antusias, seakan menemukan “celah” dalam kata-kata saya. “Tanggunglah kalau hanya hobi! Harusnya ‘nyemplung’ total.”

Untuk beberapa detik saya bengong. Jelas sekali si abang tidak terlalu paham tentang minat baca dan penghargaan calon konsumen terhadap suatu karya di kota yang sangat saya cintai ini.

Sebagian orang di Kota Pontianak, jika melihat suatu karya tulis—dapat dipisahkan dalam beberapa kategori:

  1. Malas baca

Berdasarkan pengalaman, ketika saya memperlihatkan buku, saya ulangi, MEMPERLIHATKAN bukan MENAWARKAN (maaf huruf besar) kepada orang yang ternyata malas membaca—dia biasanya cuma bilang: “Nanti saja”, atau hanya tersenyum sambing mengangguk, dan kadang-kadang ia pura-pura membaca, lalu mengembalikan buku tersebut tak lama kemudian, tanda tak berminat.

  1. Pengolok

Saya juga sering menemukan orang-orang yang sangat senang sekali mengolok karya orang lain, entah itu bercanda, atau memang niat mengejek. Hati siapa tahu? Alih-alih mau membeli buku, mereka seolah jijik dengan karya yang telah saya hasilkan.

  1. Orang Kaya

Kategori ini yang paling menarik. Jika “orang kaya” ini diperlihatkan karya buku puisi misalnya, pertanyaan pertama yang keluar adalah: “Berapa harganya?” Setelah disebutkan harga, pernyataannya adalah: “Mahal banget! Tidak ada uang sebanyak itu, Bro!” Setelah mengatakan itu semua, biasanya kategori ini langsung makan-makan di kafe atau restoran yang menghabiskan ratusan ribu rupiah—yang mana sebelumnya mereka mengatakan buku seharga tiga puluh ribu itu mahal.

“Sementara ini, menulis saya jadikan sebagai kepuasan jiwa pribadi, Bang. Tapi memang, saya berencana, suatu hari nanti—saya akan menjadi seorang penulis profesional. Insya Allah.”

Si abang menaikkan lagi dagunya, ia diam seribu bahasa, lalu larut dalam buku bacaan sastra yang sepertinya lumayan “berat”.

----

Pontianak, 9 Juni 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 64