Pendidikan Agama Versus Pendidikan Humanis

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Agama
dipublikasikan 08 Juni 2017
Pendidikan Agama Versus Pendidikan Humanis

Secara pribadi, saya tidak berani mengatakan sistem dan produk pendidikan di negara ini sudah berhasil, namun tak adil juga jika dikatakan gagal.

Berikut kata-kata seorang pengguna internet, Siapa saja yang kini menjadi orang-orang sukses adalah berkat hasil dari produk pendidikan yang bisa diandalkan. Praktik korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum penguasa ini merupakan salah satu cerminan dari buram dan minimnya kualitas produk pendidikan  yang dimiliki oleh negeri ini. “

Kalimat di atas, menurut “kacamata” saya, ambigu. Perhatikan:

  1. Siapa saja yang kini menjadi orang sukses adalah berkat hasil pendidikan yang bisa diandalkan.
  2. Praktik korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum penguasa ini merupakan salah satu cerminan dari buram dan minimnya kualitas produk pendidikan  yang dimiliki oleh negeri ini.

Pertanyaannya adalah: “Di negara ini juga banyak orang yang sukses. Lalu pengguna internet tersebut mau mengatakan gagal (buram/minim) atau berhasil?” Tidak jelas.

“Hasil cetak kepribadian manusia adalah hasil dari proses transformasi pengetahuan dan pendidikan yang dilakukan secara humanis,” kata pengguna internet tersebut lebih lanjut.

Kita fokuskan pernyataan di atas pada kalimat “proses transformasi pendidikan yang dilakukan secara humanis”.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (KBBI Luring), arti “transformasi” adalah:

  1. Perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dsb).
  2. Perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain, dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya.

Sementara arti “humanis” adalah:

  1. Orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan, pengabdi kepentingan sesama umat manusia.
  2. Penganut paham yang menganggap manusia sebagai objek terpenting.
  3. Penganut humanisme.

Berdasarkan pengertian di atas, maka kalimat “proses transformasi pendidikan yang dilakukan secara humanis”, secara tidak langsung mengatakan bahwa selama ini pendidikan dilakukan tanpa perikemanusiaan (humanis), sehingga harus diubah (transformasi). Lucu.

Kalau yang dimaksud si pengguna internet tersebut adalah tindakan kekerasan dari oknum guru, tentunya  kasus itu bukan gambaran besar dari dunia pendidikan, karena pendidikan jelas tidak mengajarkan kekerasan.

Saya tidak tahu, apakah kata “humanis” sudah menjadi sembahan bagi sebagian orang, akibat efek politik yang memanas belakangan ini di Indonesia? Yang mana beberapa kalangan “humanis” sering menyudutkan kaum “agamais”. Golongan terakhir dituding oleh pihak lawannya bahwa mereka tidak humanis, padahal kaum “humanis” itu sendiri belum mempelajari--betapa “humanis” ajaran-ajaran dari kaum “agamais” itu. Intinya terlalu cepat menyimpulkan. Seperti kata orang gila: “Yang penting benci, benar-salah urusan nanti.”

Tentang “buram”-nya kualitas produk pendidikan di negara ini, tidak seluruhnya salah. Ada pandangan yang saya sejalan dengannya. Artinya “produk pendidikan” yang dimaksud pengguna internet tersebut adalah hasil dari “produsen” dan “pengajar”-nya. Mengenai hal ini, diharapkan guru-guru yang mengajar adalah orang-orang yang benar-benar “berjiwa” guru, bukan sekadar keinginan menyandang status sebagai abdi negara. Mungkin nanti akan ada pendekatan-pendekatan khusus agar bisa menyaring guru yang lebih profesional.

Meski begitu, saya tetap tidak setuju jika hanya menjadikan produk, sistem, dan tenaga pengajar—sebagai kambing hitam—dan penyebab lahirnya oknum-oknum koruptor di negara yang kita cintai ini.

Pengajaran dari orang tua di rumah adalah faktor yang tak kalah penting. Betapa cara mengeja, membaca, menghitung, moral, dan agama—berasal dari rumah. Jika seorang anak tidak mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam proses belajarnya di rumah, maka akan sulit baginya mengikuti proses belajar di sekolah.

Rasa “aman” dan “nyaman” di sini jangan diartikan sebagai fasilitas mewah yang diberikan orang tua kepada anaknya, tapi merupakan cara orang tua mengajarkan anaknya dengan pemahaman yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama—serta moral yang tersurat di dalamnya.

Si pengguna internet melanjutkan, “Pendidikan humanis religius merupakan sebuah konsep keagamaan yang menempatkan manusia sebagai manusia, serta upaya humanisme terhadap ilmu-ilmu agama dengan tetap memperhatikan tanggung jawab atas ungkapan Hablum Minallah dan Hablum Minannas.”

Ini yang membuat saya senyum-senyum sendiri: “Pendidikan humanis religius merupakan sebuah konsep keagamaan.”

Berdasarkan KBBI Luring, “religius” berarti bersifat religi, bersifat keagamaan, yang bersangkut paut dengan religi.

Kemudian, kata “humanis” yang begitu diagung-agungkan oleh banyak orang belakangan ini, yang mana sebagian dari mereka menuduhkan bahwa kaum “agamais” tidak memiliki paham “memanusiakan manusia”.

Baik, kita perhatikan lagi arti “agama” berdasarkan KBBI Luring: ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Si pengguna internet yang mencetuskan pendidikan “humanis religus” ini sepertinya kurang memahami definisi “religus” dan “agama”, yang pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa “humanis religius” adalah sebuah konsep keagamaan.

Agama sudah mengajarkan tentang bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, ia telah lengkap.

Saya secara pribadi merasa sangat lucu dan terdengar aneh—istilah “humanis religius” ini. Bahwa agama yang selama ini membimbing hidup kita dengan berbagai peringatan—agar menuju jalan kedamaian—namun dengan gampangnya diselipi konsep “humanis” oleh seorang pengguna internet.

Anda mencari konsep humanis dalam agama? Ada! Anda mencari konsep agama dalam “humanis”? Mimpi.

---

Pontianak, 8 Juni 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 56