Jack Windark

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juni 2017
Jack Windark

Satu jam yang lalu, semua kepala negara yang tergabung dalam United World (UW) sudah pulang meninggalkan hamparan salju Eternal Snow. Kebanyakan dari mereka memang tak tahan udara super dingin dari benua yang telah diselimuti salju abadi selama berabad-abad itu.

UW sengaja membangun pangkalan militer di sana, karena dianggap aman untuk melakukan pertemuan rahasia, sekaligus untuk menangkal ancaman dari sisi lain Eternal Snow yang sampai hari ini masih dirahasiakan. Bahkan publik dunia dibohongi bahwa tidak ada apa-apa di tempat tersebut.

Namun, sejumlah masyarakat sipil di masa lalu telah banyak memberi kesaksian, mengenai adanya makhluk hidup lain yang tidak lazim dipandang. Setelahnya, UW langsung mendirikan pangkalan militer, dan melakukan penyelidikan lebih dalam. Anehnya, setelah mereka memberikan pernyataan resmi bahwa benua tersebut benar-benar “kosong”, tapi lembaga internasional tersebut tetap bercokol di sana pun menambah armada perangnya.

Jack Windark, ia disuruh tetap tinggal di ruangan rapat oleh pemimpin tertinggi UW. Sesungguhnya Presiden Red Republic itu sudah tak betah berlama-lama di dalam ruang bawah tanah yang dingin dan lembab tersebut, meski tempatnya bersandar sekarang tidak kehilangan sentuhan mewah di dalamnya.

“Jadi intinya... pekerjaanmu tidak memuaskan! Buruk!” bentak Sean Goldstein, Ketua UW yang telah menjabat selama tiga tahun. “Hanya menangani seorang pemuka agama saja, kau tidak mampu!”

Jack Windark menunduk ketakutan, dalam hatinya ia bersumpah akan segera “membereskan” Raze Syirgrab secepatnya, dengan cara apa pun!

Pemimpin UW tersebut melanjutkan amarahnya, “Agenda kita untuk menguasai dunia dalam satu komando tak akan terwujud kalau kau tak becus mengatur rakyatmu sendiri! Kau termasuk pemimpin yang gagal! Kau sudah kami jadikan presiden, sudah kami beri uang, dan kekayaan lainnya. Apalagi yang kurang? Goblok!”

Sean Goldstein berdiri dari tempat duduknya, menuju ke bagian paling belakang ruangan. Gelap. Samar-samar terlihat pria berumur lima puluh tahun itu sedang merapikan setelan jasnya yang berwarna coklat muda. Tak lama, muncul suara mendesis, diiringi cahaya api. Sean Goldstein sedang menyalakan sebatang lilin berwarna merah. Cahayanya menjelaskan apa yang ada di atasnya: sebuah patung kambing, bertanduk panjang, berbadan manusia.

Di dekat lilin, terdapat simbol-simbol aneh yang tak akan pernah didapatkan dari kurikulum sekolah umum.

Mulut Sean Goldstein komat-kamit. Lirih terdengar, namun Jack Windark tahu persis tentang mantra itu: pemanggilan kuasa gelap untuk melindungi si pemanggilnya.

“Sekarang giliranmu!” teriak Sean Goldstein.

Kaget bukan main, saat hendak berdiri, lutut Jack Windark membentur ujung meja. Ia meringis kesakitan. Untuk level seorang pemimpin negara, lelaki kurus itu memang tidak ada wibawanya sama sekali. Dan terbukti, banyak masyarakat di Red Republic telah menyesali pilihannya.

Jack Windark segera mendekati “meja penyembahan”. Ketika hendak mengucap mantra, bahunya ditarik dari belakang oleh teman bicara satu-satunya di ruangan tersebut.

“Hei... tunjukkan sopan santunmu. Rapikan dulu pakaianmu itu,” bisik Sean Goldstein.

Tanpa menjawab, Jack Windark segera merapikan setelan jas-nya yang berwarna hitam, lalu menyisir rambut ke arah samping.

Kini giliran Presiden Red Republic yang mulutnya komat-kamit di depan sebatang lilin dan patung kambing. Sementara itu Sean Goldstein menyiapkan sebuah mangkuk kecil berwarna putih.

“Sudah?” tanya Sean Goldstein.

“Sudah.”

“Sekarang teteskan sedikit darahmu di mangkuk ini.” Sean Goldstein mengacungkan sebilah pisau di tangannya.

Jack Windark dengan sigap mengambilnya, ia berharap ritual ini bisa memberikan keselamatan saat tiba di tanah Red Republic nanti. Maklum, banyak musuh.

“Aaaahh!” teriak Jack Windark saat menggores jempol tangan kanannya, lalu dengan segera meneteskan darah yang keluar ke dalam mangkuk.

“Bagus,” kata Sean Goldstein. Pria bertubuh gemuk itu membawa mangkuk berisi darah Jack Windark ke dalam sebuah lemari besi, dan meletakkannya di dekat mangkuk-mangkuk lain yang ternyata juga sudah terdapat banyak simpanan darah dari kepala negara lainnya.

“Apakah aku boleh pergi?” tanya Jack Windark.

“Tentu saja... dan jangan lupa tugasmu. Apakah kita sepakat, wahai kening lebar?” Sean Goldstein memberi jawaban dengan mengajukan pertanyaan basa-basi. Ia memang sering memanggil Jack Windark dengan sebutan “kening lebar”, sesuai dengan kenyataannya.

Dengan sebuah anggukan, Jack Windark sudah memberi pertanda bahwa ia akan berusaha sebaik-baiknya.

***

Pagi-pagi sekali Don Rock—suruhan dari Anthony Hooker (A. Hooker) yang sekarang sedang menikmati dinginnya penjara—sudah datang ke Red Palace. Ia tak menyangka akan sampai juga di kantornya presiden dan wakil presiden di negaranya itu. Oleh karenanya, sejak subuh Don Rock sudah berpakaian rapi. Mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Sebenarnya ia lebih mirip pegawai magang di pemerintahan daripada seorang ahli teknologi informasi.

Saat sedang menikmati lukisan-lukisan indah di sepanjang dinding bagian dalam Red Palace, seorang pengawal presiden memanggilnya.

“Tuan Rock... silakan. Mister Presiden telah menunggu Anda,” kata si pengawal, ramah.

Don Rock mengikuti pria berambut cepak itu dari belakang, namun ada rasa takut di hatinya ketika melihat seragam merah yang dikenakan lelaki di depannya. Itu adalah seragam yang pernah dipakai oleh pasukan pemerintah saat membantai suatu desa: Water Village.

Sekarang Don Rock sudah masuk ke dalam sebuah ruangan yang didominasi warna putih, dindingnya dipenuhi foto-foto kenegaraan. Jack Windark sedang duduk santai.

“Mister Presiden, saya perkenalkan... ini Don Rock yang direkomendasikan oleh Tuan A. Hooker kemarin,” kata si pengawal sambil membungkukkan tubuh di depan meja Jack Windark. Don Rock juga ikut-ikutan membungkuk di belakang ajudan pribadi sang presiden tersebut.

“Terima kasih, Groth! Kau bisa meninggalkan ruangan sekarang,” kata Jack Windark.

“Baik, Mister Presiden. Selamat pagi.” Frederick Groth melakukan sikap hormat sempurna, lalu pergi dari ruangan itu.

Don Rock kebingungan, antara takut dan senang bisa berada di dalam ruangan presiden.

Jack Windark mempersilakan tamunya duduk. Setelahnya ia berdiskusi tentang hal-hal di internet yang bisa menjatuhkan nama Raze Syirgab, seorang pemuka agama yang sangat karismatik, baik di Red Republic, maupun mancanegara. Setelah satu jam berdiskusi, mereka berdua belum menemukan sesuatu yang “tajam”.

“Ayolah, Rock! A. Hooker mengatakan kepadaku bahwa kau yang terbaik!”

“Maaf, Tuan Presiden. Aku tiba-tiba kehilangan akal.”

TRING TRING TRING

Telepon genggam sang presiden berbunyi, sebuah pesan masuk ke dalamnya.

“Ahhhhhh! Itu diaaaa!” Don Rock berteriak kencang. Jack Windark terkejut bukan main, jantungnya hampir lepas.

“Apaaaaaaaaa?” Jack Windark juga balas teriak dengan intonasi bertanya.

“Kita bisa membuat percakapan palsu antara seorang wanita dan Raze Syirgab. Well... seorang pemuka agama memiliki hubungan khusus dengan seorang wanita, dan terdapat bukti percakapan mesum yang telah kita manipulasi. Itu pasti cukup mencemarkan nama baiknya!”

Wajah Jack Windark berubah cerah. “Pintar! Tapi di mana kita bisa mendapatkan ‘tumbal’ wanita yang mau disalahkan seperti itu?”

“Jangan khawatir, Tuan! Aku banyak mengenal perempuan yang rela menghisap penis kita dengan uang satu juta rupon saja.”

“Bagus! Berapa lama waktu yang diperlukan?”

“Empat hari totalnya. Dua hari untuk memanipulasi nomor dan data, dua hari untuk bernegoisasi dengan perempuan yang dimaksud.”

JDERRRRR! JDERRRR! JDEEERRRR!

Suara petir meraung-raung di langit. Ruangan kantor presiden tiba-tiba gelap, hanya diterangi bias-bias cahaya dari urat-urat iblis yang menyala di langit hitam. Dari balik kegelapan, Jack Windark tersenyum penuh arti.

***

Don Rock menuju ke sebuah kafe di Kemz Road. Tempat itu dipilih karena menu-menu yang ditawarkan sangat mahal, sehingga tak banyak kalangan yang mampu membelanjakan uangnya di situ. Kabar beredar menyebutkan Kafe Drag adalah tempatnya para mafia bertransaksi. Lelaki berwajah lugu namun bermata penuh dendam ini sebenarnya bukan bagian dari dunia mafia, tapi sayang, menjadi orang yang digaji A. Hooker berarti harus siap masuk ke “dunia lain”, karena begitulah cara mereka menguasai suatu negara.

Sampai di tujuan, ia telah ditunggu oleh seorang wanita bernama Forny Hozlevic. Sesosok perempuan mata duitan yang rela tidur dengan lelaki mana pun asal sanggup membayar.

Don Rock disambut dengan sebuah ciuman mesra di bibir. Tak heran, mereka memang pernah tidur bersama.

“Sudah pesan minum?” tanya Don Rock.

“Sudah. Kau mau?”

“Tidak. Mari kita selesaikan urusan ini.” Don Rock ingin segera menuntaskan urusan yang sudah menyita pikirannya selama tiga hari belakangan ini. Sekarang di depannya berdiri seorang wanita bertubuh seksi, dibalut dengan baju ketat. Tentu saja pikirannya semakin tak karuan.

“Duduklah dulu.” Forny Hozlevic menarik mesra tangan Don Rock.

Setelah menarik nafas panjang, Don Rock langsung mengatakan inti urusan di hari itu. “Empat miliar rupon. Berminat?”

“Untuk apa?” tanya wanita berambut panjang sampai punggung itu.

“Untuk difitnah berbuat zina, dan siap masuk penjara. Tentu saja, ketika kau masuk penjara nanti, akan mendapat banyak keiistimewaan, dan kupastikan tak akan lama.”

“Untuk empat miliar rupon?” tanya Forny Hozlevic penuh arti.

“Ya ....”

“Setuju!” seru Forny Hozlevic sambil meraba selangkangan Don Rock.

***

“Tuan Syirgab... Anda harus meninggalkan negara ini sekarang juga. Mata-mata kita di pemerintahan sudah mencium adanya indikasi fitnah yang akan ditudingkan kepada Anda,” jelas Bruce Khal. Pria yang telah menjadi pengawal Raze Syirgab selama puluhan tahun itu sangat mengkhawatirkan keselamatan pemuka agama yang sangat dicintai seluruh masyarakat Red Republic. Tentunya bagi yang punya kepentingan bisnis-bisnis haram tak termasuk di dalamnya.

Raze Syirgab membetulkan kemeja putihnya yang sudah mulai kusut, maklum, sejak tadi pagi ia terus berpindah tempat untuk menghilangkan jejak dari mata-mata yang dikirim oleh Jack Windark.

“Tudingan seperti apa, Bruce? Sepertinya sudah banyak fitnah yang datang kepadaku,” ujar Raze Syirgab seraya mengelus jenggotnya.

“Persisnya belum diketahui. Namun, katanya, berhubungan dengan sambungan telepon seluler. Mereka sedang mencari saat yang tepat untuk mengeluarkan isu tersebut.”

“Bukankah jika aku pergi sekarang akan dianggap pengecut?” Raze Syirgab menatap baik-baik pengawalnya yang bertubuh tegap itu, sedang berdiri di hadapannya yang sedang duduk di sebuah sofa kecil berwarna ungu.

“Justu jika Anda masih di sini, Tuan... mereka akan menangkap Anda tanpa proses hukum yang benar. Kita pastikan membalas mereka pada saat yang tepat. Kita tak akan pernah lari, Tuan.”

“Benar, Bruce... tak akan pernah. Apakah pemuka agama lain ada yang menghubungiku pagi ini?”

“Empat ratus panggilan masuk, Tuan, sejak subuh. Mereka mengatakan hal yang sama. Prediksi bahwa Anda akan ditahan dengan alasan yang dibuat-buat sudah menyebar.”

Raze Syirgab beranjak dari tempat duduknya, dan memandang ke luar jendela, mengenang betapa jalanan di bawah itu pernah menjadi saksi bersatunya semua umat beragama menentang kebijakan-kebijakan sesat rezim Jack Windark.

“Bruce... siapkan tiket sekarang.”

Bruce Khal mengangguk.

***

Satu hari setelah kepergian Raze Syirgab ke luar negeri, Forny Hozlevic menjadi berita utama di seantero Red Republic. Don Rock berhasil memanipulasi percakapan antara Forny Hozlevic dan Raze Syirgab di layanan pesan singkat suatu penyedia jasa telekomunikasi terbesar di sana.

Kubu Jack Windark sanggup menggiring opini publik menjadi sangat liar, dan keadaan ini memang disenangi oleh orang-orang yang ingin kelompoknya menguasai daerah-daerah tertentu, isu yang sangat menguntungkan bagi mereka.

Petugas keamanan negara segera mencari keberadaan Raze Syirgab sesuai arahan komando tertingginya, namun hasilnya nihil. Permainan catur telah terbaca. Jack Windark marah besar.

Presiden Red Republic itu lalu segera mengatur sebuah “meja penyembahan” di ruang rahasia, masih di dalam Red Palace. Selama satu jam ia membacakan mantra di depan patung kambing bertanduk panjang, mirip seperti patung kambing di markas Eternal Snow. Ritual itu dimaksudkan agar membuat Raze Syirgab lumpuh kakinya, tapi setelah ia habis-habisan—sampai “mendonorkan” darahnya—untuk disiram ke seluruh tubuh patung tersebut, kabar yang didapatnya: Raze Syirgab masih sehat sentosa, aman dalam perlindungan pemuka agama di luar negeri.

Hari-hari berikutnya, para pakar telekomunikasi nasional telah memberikan keterangan bahwa hasil percakapan Raze Syirgab dan Forny Hozlevic tidak asli, rekayasa belaka. Tapi pemerintah sepertinya mengabaikan mereka, dan bersikeras menyatakan bahwa “barang temuan” penyelidik pemerintah adalah asli.

Sean Goldstein sudah beberapa kali mengingatkan Jack Windark agar secepatnya menahan Raze Syirgab, tapi sudah satu bulan tak ada kemajuan apa pun.

***

“Tuan... Anda tampak tegang. Minumlah teh dari kebun terbaik ini, agar Anda lebih tenang,” ujar Frederick Groth. Ia meletakkan secangkir teh hijau di meja Jack Windark.

Pria kurus itu memang sangat haus, sejak pagi ia harus meladeni pertanyaan para wartawan Jakville (ibu kota Red Republic).

“Terima kasih, Groth!” Jack Windark menghabiskan minuman tersebut sekali teguk. “Ahhh, sedap sekali teh ini, dari perkebunan mana?”

“Dari perkebunan Goldstein, hadiah untuk Anda. Sudah saatnya Anda beristirahat, begitu instruksi mereka kepadaku, Tuan.”

Jack Windark jatuh terkulai di lantai, tubuhnya mengejang, matanya melotot seperti menahan sakit yang sulit dijelaskan.

Frederick Groth keluar dari ruangan, dan segera melarikan diri, setelah ia mematikan seluruh sistem keamanan di Red Palace. Perintah berikutnya dari Goldstein adalah mempromosikan kebaikan-kebaikan dari seseorang yang sekarang sedang mendekam dalam penjara. Opini terbalik memang senjata terbaik.

(End)

---

Pontianak, 3 Juni 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 62