Pendidikan Abu-Abu dan Pendidikan Orang Tua

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 29 Maret 2017
Pendidikan Abu-Abu dan Pendidikan Orang Tua

Dewasa ini sebagian orang mendewakan pendidikan tinggi sebagai ukuran kesuksesan, meskipun di sekitar kita banyak fakta bahwa kaum yang tidak mengenyam pendidikan tinggi pun mampu bersaing dalam hal finansial.

Sampai-sampai belakangan ini—gencar diadakan seminar tentang bagaimana meraih pendidikan yang lebih tinggi, baik di dalam—maupun luar negeri.

Tentu saja tidak salah mengadakan seminar semacam ini, bagus, dan mungkin perlu bagi sebagian kalangan. Namun apakah pendidikan di negara ini sudah cukup adil untuk orang-orang yang punya kecerdasan berbeda? Apakah semua pendidikan tinggi yang ada sudah memberikan kesempatan orang-orang dengan kecerdasan berbeda? Atau sebenarnya pendidikan tinggi itu hanya untuk orang dengan kecerdasan matematika?

Misalnya suatu sekolah mengadakan dua pertandingan: lomba matematika dan lomba olahraga. Kira-kira jika sudah didapatkan pemenangnya—siapa yang akan mendapat predikat pintar? Kebanyakan orang akan mengatakan dia yang bisa menghitung lebih banyak, dan lebih cepat, bukan orang yang bisa menaklukkan halang rintang lebih banyak dan berlari lebih cepat. Adil?

Hal di atas disebabkan terkurungnya pemikiran akan kecerdasan yang sebenarnya. Sudah masanya kita mengatakan bahwa pelajaran seni tari tak kalah penting dengan pelajaran fisika, kimia, dan sebagainya.

Howard Gardner membagi kecerdasan manusia dalam delapan hal:

  1. Kecerdasan linguistik.
  2. Kecerdasan matematis.
  3. Kecerdasan
  4. Kecerdasan
  5. Kecerdasan musikal.
  6. Kecerdasan interpersonal.
  7. Kecerdasan intrapersonal.
  8. Kecerdasan naturalis.

Setiap manusia itu unik, dan kita harus mempertanyakan sistem pendidikan di negara ini: “Untuk siapa?”

Sebuah sistem pendidikan tidak seharusnya menyuruh seekor kucing berenang melawan lumba-lumba.

Mungkin kita tak bisa berharap banyak tentang adanya perubahan sistem. Maka, orang tua, sedini mungkin harus mengetahui bakat anak-anaknya, dan membina mereka agar mampu mengembangkan kemampuan tersebut dengan maksimal—bukan dengan memaksakan seorang anak dengan kecerdasan musikal—wajib mendapatkan nilai sempurna saat menghitung angka di lajur-lajur akuntansi.

Pembuat kebijakan pendidikan juga sebaiknya berasal dari kalangan yang berpengalaman mengajar murid-murid, agar paham betul mengenai karakter anak-anak penerus bangsa ini—bukan orang yang hanya “dianggap paham” karena kepentingan politis. Ingat, generasi baru bukanlah bahan percobaan.

---

Pontianak, 29 Maret 2017

Dicky Armando

 

Referensi: 

  • "Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi". Psikologi(dot)untag-smd(dot)ac(dot)id. 14 September 2013. Web. 25 Maret 2017. 

Sumber foto: Pixabay.com 

  • view 145