Permisi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 11 Maret 2017
Permisi

Setiap jam 6 sore, menjelang magrib, saya selalu membuang sampah di sebuah tong besar berwarna kuning yang disediakan oleh Pemerintah Kota Pontianak. Benda tersebut berdekatan dengan rumah saya.
 
Langit biasanya sudah gelap ketika saya sampai di sana. Uniknya saya selalu menemukan seorang pria menggunakan lampu senter mini di kepalanya. Ia mengais sejumlah sampah dari dalam tong itu. Awalnya saya sempat kaget dan mengira bahwa orang itu adalah seekor tikus besar, maklum--jarak pandang dalam keadaan gelap sangat terbatas.
 
Setelah mengetahuinya--saya selalu mengatakan, "Bang ... permisi, Bang!"
 
"Silekan! Silekan!" katanya dengan dialek melayu yang cukup kental.
 
Hari-hari berikutnya, kejadian berulang, ia masih tetap berada dalam kubangan sampah di dalam tong.
 
Beda dengan biasanya, kemarin saya membuang sampah sebelum gelap. Motor saya parkir tepat di samping tong sampah berbahan dasar besi itu. Beberapa pemulung tampak berkeliaran di sekitarnya.
 
Saat menuju lubang pembuangan, di dekatnya berdiri seorang laki-laki berbaju kaos merah, celananya pendek berwarna biru lusuh--dengan bercak-bercak hitam hampir di seluruh permukaannya.
 
"Bang ... permisi, ya, Bang," kata saya.
 
Orang tersebut menoleh ke arah saya dengan tatapan heran. "Ini si Abang yang suke buang sampah malam-malam, kan? Saye kenal suarenye!"
 
Saya tertegun sejenak, dan akhirnya menyadari bahwa dia adalah orang yang sering berada di dalam tong sampah dengan lampu senter di kepalanya.
 
"Ooooh! Abang yang biasa di dalam tong, ya?"
 
"Betol! Betol! Betol!" serunya dengan kalimat khas Upin dan Ipin. "Silekan dilempar sampahnye!"
 
BUSSSHH!
 
Sampah dari rumah saya sudah bergabung dengan benda-benda tak terpakai lain di tempat itu.
 
"Kalau begitu saya permisi, Bang," kata saya.
 
"Silekan, tapi ... saye boleh nanya sesuatu, ndak?"
 
"Boleh. Apa itu?"
 
"Kenape Abang selalu mengucapkan permisi kepade saye?"
 
Saya berpikir sebentar, karena mengucapkan "permisi" bukanlah hal yang luar biasa, itu tata krama umum. Setiap orang pasti sering melakukannya.
 
"Memangnya kenapa dengan hal itu, Bang?" tanya saya heran.
 
"Seumor-umor saye di sini, tak pernah ade orang ngucapkan kate 'permisi' ke saye. Baru Abang-lah ni. Biasenye orang maen lempar jak sampah tu kalau malam, sering dah kepala saye kena botol kace atau bekas tulang ikan."
 
"Masa?"
 
"Eeeh ... tak pecaya' Abang, niiii!"
 
Kemudian kami terdiam selama beberapa saat, memandangi langit senja yang mulai merah merona.
 
Saya berkata lagi, "Rasanya sangat lumrah mengatakan hal itu, Bang. Tak ada yang luar biasa di dalamnya."
 
"Laen rasenye, Bang. Saye piker tak ade orang yang mau menyapa orang kecik dan lusoh macam saye ni, saye ni kan orang susah, mane ade orang mao mandang."
 
DUUGGG!!
 
Perasaan saya serasa dipukul. Terlepas dari apa pun pekerjaan, status sosial, harta, dan kedudukan, semua orang adalah manusia biasa, makhluk yang punya pikiran juga perasaan. Semoga Tuhan mengampuni dan menyadarkan saya jika diri ini pernah menyakiti perasaan orang lain.
 
Saya tak bisa berkata apa-apa, mulut terkunci. Segera saya menjabat tangannya, lalu secepatnya pergi dari tempat itu. Pria berkulit gelap tersebut benar-benar menyadarkan bahwa ternyata "adat timur" yang kita bangga-banggakan (mungkin) tidak terlalu berfungsi dengan baik di beberapa tempat.
 
Malam mulai turun, saya masih dapat melihat sosoknya yang lincah--sedang mengais rejeki di suatu sudut kota.
---
Pontianak, 11 Maret 2017
(Dicky Armando)
 
Sumber foto: Post Grad Problems 

  • view 67