Jenggot

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Februari 2017
Jenggot

Saya sedang makan di warung bakso, saat itu masa kuliah semester enam.
 
Wahyu--bukan nama sebenarnya--mendatangi saya dan mengambil sebongkah bakso paling besar. Saya mau marah tapi apa boleh buat, terlambat.
 
Lelaki berwajah lonjong itu menatap dagu saya dengan matanya yang datar. "Dik ... kau meniru orang arab, ya? Pakai jenggot segala!"
 
Kontan saya tersedak, kuah bakso mengalir dari hidung. "Apa maksudmu?"
 
"Itu," kata wahyu sambil menunjuk jenggot saya yang kebetulan lumayan lebat saat itu, "banyak banget!"
 
Saya menghela tubuh ke arahnya. "Kau tahu, jenggot ini tak meniru bangsa mana pun. Ini adalah pengaruh hormon keturunan, nenek moyangku bukan dari Arab Saudi. Hormon bukan monopoli ras mana pun, bukan?"
 
Pandangan Wahyu beralih ke kepala saya yang memakai peci berwarna putih, ia lalu menunjuknya. "Lalu ... itu apa?"
 
Lelaki tersebut sepertinya masih belum mengerti apa yang saya katakan, namun saya tahu persis apa maksud dari semua ini.
 
"Wahyu ... jadi begini, aku tidak antipati terhadap etnis atau ras mana pun! Jelas? Peci putih bulat ini kupakai karena tadi baru selesai salat asar, lupa kulepas karena buru-buru datang ke sini, aku lapar sekali ... dan satu hal lagi, ada pepatah mengatakan: 'Kau tak bisa memilih jenggot, tapi jenggot yang memilih tuan-nya'. Cukup jelas?"
 
Wahyu mengangguk, rambutnya yang gondrong tersapu angin senja.
 
"Boleh aku lanjut makan?" tanya saya.
 
"Tentu saja, traktir aku, ya?"
 
"Buseeeetttttt."
 
Sore itu dua orang mahasiswa yang haus akan masa depan--menghabiskan waktu di bawah atap warung bakso hingga magrib menjemput keduanya ke atas sajadah.
****
Pontianak, 26 Februari 2017
Dicky Armando
 
Sumber foto: Pinterest 

  • view 99