Elegi Penjual

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 14 Februari 2017
Elegi Penjual

Saya rasa masyarakat di Kota Pontianak sudah sering mendengar kata “Marketing” (pemasaran), dan mungkin ada istilah lainnya.

Pendapat saya, di kota ini—sebagian masyarakatnya punya definisi yang keliru tentang marketing—mereka menyamakan proses tersebut dengan penjualan (sales).

Marketing itu sendiri lebih berfokus kepada strategi pemasaran, sementara sales fokusnya pada penjualan produk. Singkat kata, penjualan adalah satu bagian dari keseluruhan proses pemasaran. Ini yang saya pahami tentang kedua hal di atas, jika terdapat kesalahan definisi—saya mohon koreksi.

Berdasarkan pengamatan saya, selama ini di Kota Pontianak—sebagian masyarakat memandang rendah pekerjaan sebagai seorang salesman. Ini disebabkan karena rendahnya penghargaan dari perusahaan kepada pekerjanya itu, misalnya fasilitas dan upah/gaji yang minim.

Saya sendiri—dulu—pernah menempati posisi sebagai tenaga penjual di sebuah hotel bintang tiga, Pontianak. Pekerjaan saya waktu itu adalah berjualan kamar lewat internet, serta mengganti tarif kamar sesuai perintah atasan. Saya bersyukur, waktu itu dibayar dengan gaji yang layak, begitu juga dengan rekan kerja yang lain. Memang, sepertinya bidang perhotelan sangat memperhatikan karyawannya dengan baik apalagi yang tergabung dalam divisi marketing dan sales. Pihak manajemen hotel sepertinya memahami dengan baik bahwa divisi tersebut adalah “tangan” untuk mencari target pasar yang tepat.

Beda halnya dengan pengalaman teman saya, namanya Robert (nama samaran), ia bekerja sebagai salesman di sebuah perusahaan pembiayaan kendaraan roda dua di Kota Pontianak.

Pertemuan saya dengannya terjadi beberapa tahun lalu di sebuah warung kopi. Robert datang dengan wajah yang letih dan jaket hitam yang berdebu, celana jeans-nya juga tak kalah lusuh, sepertinya teman saya itu baru saja melakukan perjalanan jauh.

“Dari mana, Bet?”

Robert duduk di depan saya, menarik nafas panjang. “Dari Ketapang, Dik.”

“Pakai motor?”

“Iya ....”

Lelaki bertubuh besar itu memesan secangkir kopi kepada pelayan. Untuk beberapa saat ia diam, hanya memandangi seisi warung kopi dengan mata kosong.

“Apa yang kau perbuat di Ketapang?” tanya saya lagi.

“Aku melamar kerja di kebun sawit.”

“Bukankah kau sudah bekerja di perusahaan ‘X’ sekarang?”

Robert menggeleng, seperti tak mau membicarakan hal tersebut.

“Apakah ini soal gaji, Bet?”

“Dik, judulnya aku ini marketing, tapi aku dibayar per hari. Hanya dua puluh lima ribu rupiah.” Robert mengurut kepala dengan kedua tangannya.

“Itu gaji atau upah?” Saya ingin memastikan saja, meski saya sudah tahu ada perbedaan antara kedua hal tersebut.

“Mereka menyebutnya ‘uang saku’, ditambah jika aku sanggup mendapatkan konsumen, tapi ... dua puluh lima ribu itu hanya cukup bayar bensin untuk beberapa kilometer saja, ini benar-benar tak cukup. Lalu menjual kendaraan tak semudah yang kita bayangkan, satu hari belum tentu dapat, Dik. Dengan uang tersebut, aku bahkan sulit membaginya untuk kebutuhan makan siang.”

Saya berpikir, dua puluh lima ribu rupiah untuk satu hari, berarti jika dijumlahkan selama tiga puluh hari adalah tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, dan itu artinya di bawah Upah Minimum Regional (UMR) di kota ini.

“Berarti tak ada kontrak kerja, Bet?”

Robert tak menjawab, ia menggeleng sambil memainkan cangkir kopinya. Saya pun tak lagi bertanya, karena teman saya itu sepertinya sudah kehilangan gairah membicarakan hal tersebut.

Dari hasil percakapan saya dengan Robert, saya sudah menemukan istilah yang salah. Robert menyebut dirinya seorang marketing, padahal ia adalah seorang salesman. Anehnya perusahaan tempat ia “mengabdi”—menjadikan Robert seorang pekerja lepas—padahal lelaki brewok itu membawa nama perusahaan saat menawarkan produknya. Ada apa ini?

Belakangan di Kota Pontianak, saya sering melihat pemuda-pemudi berpakaian rapi mendatangi rumah-rumah penduduk—menawarkan pelayanan kesehatan. Saya pernah melihat seorang wanita sedang melakukan cek tekanan darah (menggunakan alat kesehatan) kepada seorang ibu rumah tangga. Pertanyaan saya adalah:

  1. Apakah orang tersebut seorang tenaga medis profesional?
  2. Apakah orang tersebut bukan tenaga medis profesional?

Jika yang terjadi wanita yang melakukan pengecekan tekanan darah adalah seorang tenaga medis profesional, maka tidak sepantasnya ia berkeliling di komplek perumahan dan mendatangi orang-orang untuk menawarkan layanan kesehatan, karena itu bukan tugasnya.

Jika yang terjadi bahwa orang tersebut bukan tenaga medis, tak sepantasnya melakukan tugas pengecekan tekanan darah terhadap orang lain, karena ia bukan seseorang yang terdidik secara khusus untuk itu, dan ini merupakan penyesatan atas pengertian “penjualan”. Seandainya ia murni seorang sales (bukan tenaga medis yang disuruh mengerjakan tugas penjualan), maka cukup memberikan informasi tentang produk-produk yang dijual perusahaannya, serta membujuk calon konsumen agar tertarik.

Apalagi saya melihat mereka ini sepertinya tidak dibekali fasilitas yang mendukung, tapi semoga saja pandangan saya salah. Semoga saudara-saudari kita ini dibayar dengan layak.

Saya jadi teringat kalimat almarhum Bob Sadino: “Kamu ini bangun pagi, mandi, pamit kerja, pakai seragam, kaki dibungkus sepatu. Berangkat pagi, pulang sore, bayaran tak seberapa. Kerja apa ‘dikerjain’?”

Kata-kata Om Bob itu benar-benar menampar wajah saya, setiap hari.

---

Pontianak, 14 Februari 2017

Dicky Armando

 

Sumber foto: DeviantArt 

Dilihat 67