Lelong

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 09 Februari 2017
Lelong

Perdagangan di Kota Pontianak banyak macamnya, mulai dari penjualan makanan, pakaian, dan lain-lain.

Saya menaruh perhatian lebih pada usaha jual pakaian, terutama yang biasa disebut dengan lelong atau roma (rombeng malaysia).

Lelong menurut pengertian saya adalah pakaian bekas yang diimpor dari negara lain. Mengenai legal atau tidak barang-barang tersebut—saya belum terlalu paham, namun berdasarkan gosip, baju-baju yang cukup diminati masyarakat itu tidak legal.

Memang, kalau tak salah lihat, saya pernah beberapa kali membaca judul berita bahwa pemerintah akan memerangi peredaran lelong ini, maka semakin kuat keyakinan saya—mendefinisikan bahwa ada “sistem” lain untuk memperlancar masuknya lelong di Indonesia.

Terlepas dari peraturan apa pun yang akan ditetapkan nanti, saya melihat penjualan pakaian impor bekas ini menjadi lahan mencari nafkah bagi sebagian masyarakat. Jika kemudian nanti pemerintah menutup paksa usaha mereka, saya tidak setuju, karena yang harus diperangi adalah “jalan” masuk benda-benda ilegal tersebut. Lalu ketika semua telah berhasil dilakukan, maka pemerintah pun harus mencari solusi untuk mereka-mereka yang tak lagi bisa berjualan lelong, karena jika tidak, akan bertambah pengangguran nantinya. Satu hal yang kadang kita lupa: beralih pekerjaan tak semudah kelihatannya.

Jalan “S” dikenal sebagai kawasan tersebarnya beberapa baju lelong. Kadang kalau pulang kerja—sore hari—saya melihat banyak sekali orang-orang yang mendatangi toko-toko lelong di sana. Selain bisa mendapatkan baju bagus, harganya pun terjangkau untuk sebagian kalangan.

Saya bukan penggemar baju bekas impor tersebut, namun saya senang melihat perekonomian yang “hidup” di tempat itu. Suatu kali, saya pernah nongkrong di warung kopi tak jauh dari tempat penjualan lelong, tak lama ... muncul seorang teman yang bernama Dejay Wallace (nama samaran). Lama tak bertemu, tubuhnya semakin gemuk, pipi dan mata bulat, saya pun sulit membedakan dagu dan lehernya, menyatu.

Dejay adalah seseorang yang digaji oleh negara, begitu pula nanti ketika ia pensiun. Katanya lelaki 29 tahun itu telah banyak mengikuti berbagai pelatihan. Terkesima atas pengakuannya, saya berpikir—teman saya itu merupakan orang yang lebih pintar daripada saat terakhir kali kami bertemu.

Dejay menunjuk ke arah toko-toko lelong. “Dik ... kau lihat ini?”

Saya berhenti sejenak menyisir rambut, melihat ke mana Dejay menunjuk. “Apa?”

“Toko-toko ini, barang jualannya tidak resmi!” seru Dejay.

“Lalu?” tanya saya.

“Mereka harus ditindak!”

Saya tidak terlalu tertarik menanggapi omongan Dejay, saya lebih senang memperhatikan rambut yang telah disisir tadi, saya memang penggemar gaya rambut klimis. Kata orang: “Jangan biarkan rambutmu sekusut hidupmu.” Hahaha!

“Hei! Kau dengar?” Suara Dejay mengejutkan saya.

“Iya, aku dengar.”

Dejay mendekatkan wajahnya ke wajah saya, mungkin sekilas jika orang lain lihat—kami seperti akan berciuman. “Bagaimana menurutmu?”

“Kalau ditutup, mereka mau makan apa?”

Dejay terdiam.

Saya bertanya lagi, “Menurutmu bagaimana cara baju-baju itu bisa lolos masuk ke sini?”

Dejay membuang muka ke arah jalan. Tempat duduk kami hanya beberapa meter dari pinggir jalan, sehingga toko-toko lelong dapat terlihat jelas.

“Yang pasti hal itu merugikan negara,” kata Dejay.

Saya memperhatikan jam tangan milik Dejay, merek mahal kalau tidak salah, harga resminya sekitar 2 juta rupiah. “Jam tanganmu bagus.”

“Ini?” Dejay mengangkat tangan kirinya sampai ke dada.

“Ya, berapa harganya?”

“Sekitar 300 ribu rupiah,” jawab Dejay.

Dahi saya berkerut. “Bukankah harganya lebih mahal dari itu?”

“Ini yang kualitas super.” Dejay tersenyum, matanya tiba-tiba jadi sipit.

“Jadi, kau ingin memerangi pedagang baju itu, sementara kau sendiri pakai barang palsu?”

Dejay berdiri dari kursi. “Ah, sudah sore, aku pamit pulang, ya!”

Saya melihat teman lama saya itu beranjak menjauh, pulang menggunakan sepeda motor dan jam tangan yang hampir asli.

---

Pontianak, 9 Februari 2017

Dicky Armando 

 

Sumber foto: Viva bisnis 

  • view 85