Mengenal Rasa Sakit

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 27 Januari 2017
Mengenal Rasa Sakit

Waktu kecil, ibu saya merasa perlu memasukkan anak laki-laki satu-satunya ke sebuah perguruan bela diri di Kota Pontianak—meski bapak saya lebih senang kalau saya ikut bimbingan belajar matematika atau bahasa inggris.

Suatu ketika mereka berdebat mengenai hal ini. Ibu berkata, “Anak kita harus tahu cara melindungi diri sendiri!”

“Tapi ilmu pengetahuan lebih penting!” protes ayah.

“Apa kau pikir ‘bela diri’ itu bukan ilmu pengetahuan?” tanya ibu.

Ayah diam, ia tak punya pembelaan lagi. Saya masih kecil kala itu, tak terlalu mengerti apa yang diributkan orang tua. Namun akhirnya saya belajar bela diri dan mengikuti bimbingan belajar.

Pada generasi saya, sepertinya belajar bela diri bukanlah hal favorit bagi orang tua, mereka lebih memilih memasukkan anak-anaknya ke bimbingan belajar yang dirasa bergengsi.

Belakangan sedang musim begal di Kota Pontianak, dalam keadaan seperti ini saya sering mendengar dari kawan-kawan saya: “Coba dari dulu kita belajar bela diri, setidaknya kalau dibegal orang, kita bisa melawan, minimal tidak mati konyol.”

Tapi jika diselisik lebih dalam, inti dari belajar bela diri itu bukan sekadar memukul dan menendang.

“Mengenal rasa sakit adalah kuncinya,” kata guru silat saya. Ia menjelaskan lebih jauh—jika kita telah tahu tentang rasa sakit, maka akan jauh dari pikiran untuk menyakiti orang lain.

Itulah filosofi yang saya anut sampai sekarang. Ingat kata pepatah lama: “Sebelum memukul orang lain, pukul diri sendiri.”

Dewasa ini, ada saja kekerasan fisik yang dilakukan oknum mahasiswa kepada juniornya—dengan dalih melatih mental. Pertanyaannya: “Benarkah mental hanya bisa dilatih dengan kekerasan fisik?”

Kadang saya bertanya-tanya juga dalam hati: “Apakah oknum mahasiswa yang melakukan kekerasan fisik itu berani jika ‘satu lawan satu’?”

Intinya ini bukan siapa yang kuat atau siapa yang bisa membela diri, tapi “cara” yang kurang tepat akibat dari human error yang sengaja dilazimkan.

Ada beberapa solusi aneh dan mungkin kedengaran mengada-ada yang saya tawarkan agar tidak terjadi lagi kekerasan dalam dunia kampus yang dilakukan oleh oknum:

  1. Sedini mungkin, anak-anak sudah mengenal pelajaran bela diri (dalam pengawasan pelatih profesional), dan diimbangi dengan pelajaran agama.
  2. Orang tua menanamkan pemahaman kepada anak-anaknya bahwa kekerasan bukan cara utama untuk menyelesaikan masalah.
  3. Setiap jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA, Universitas) harus menjadikan pelajaran bela diri sebagai pendamping pelajaran lainnya, dalam hal ini semua murid/mahasiswa wajib mengikutinya, bukan pilihan. Mengapa? Biar oknum-oknum yang merasa jago itu mengetahui bahwa di atas langit masih ada langit, supaya mereka pun paham bahwa dipukul itu rasanya sakit.
  4. Semua kegiatan organisasi yang berlokasi di luar kampus/sekolah harus diawasi dengan ketat oleh pihak kampus. Jika pihak terkait kekurangan tenaga untuk mengawasi, maka dapat menyewa satuan pengamanan swasta yang terlatih dan dapat dipercaya. Misalnya ada 100 orang mahasiswa baru yang mengikuti pendidikan dasar suatu organisasi kemahasiswaan, diperlukan 20 orang dengan kemampuan mumpuni yang mendapat mandat dari pihak universitas, dan 1 orang staff akademik/dosen bertindak sebagai penyelia, dalam rangka memperlancar kegiatan tersebut. Mahal biayanya? Bro ... nyawa itu tidak bisa dinilai dengan uang!
  5. Semua elemen hendaknya tidak lagi memandang rendah pelajaran bela diri sebagai hal yang kurang penting dalam suatu sistem pendidikan.

Solusi nomor 1 (satu) dan 2 (dua) berfungsi agar bibit-bibit baru yang akan melakoni dunia pendidikan mengetahui bahwa melakukan kekerasan dengan alasan yang tak tepat adalah percuma, sementara nomor 3 (tiga) sampai 5 (lima) berfungsi sebagai tindakan antisipasi.

Demikian, terima kasih.

---

Pontianak, 27 Januari 2017

Dicky Armando, S.E.

 

Sumber foto: powellong.com

  • view 216