Bioskop

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 November 2016
Bioskop

Sudah 20 menit Fanny menunggu di ruang tamu, tapi saya masih sibuk mengganti model rambut yang cocok untuk mejeng di Mall. Siang tadi kami mendapatkan tiket gratis dari pimpinan kantor, ia tak jadi menonton bioskop bersama istrinya karena suatu hal. Hari minggu yang bahagia!

Selesai juga, saya tampak tampan di depan cermin—mengenakan baju kaos hitam dan celana jeans.

TOK TOK TOK!

“Hei! Cepatlah! Nanti kita terlambat!” teriak Fanny bernada kesal.

Saya langsung keluar kamar, repot nanti kalau harus ribut dengan lelaki pemegang sabuk hitam kempo itu.

“Jangan lupa bungkusan kita!” seru Fanny lagi.

Saya segera mengambil 2 bungkusan hitam yang tergeletak di atas meja kayu—tak jauh dari posisi kami berdiri.

“Ini,”—saya menyerahkan satu bungkusan kepada Fanny—“kita pasti berhasil menjalankan misi!”

Fanny memasukkan benda yang ukurannya sedikit lebih besar dari kepalan orang dewasa itu ke dalam tas kecilnya, saya pun melakukan hal yang sama.

“Kau siap?” tanya Fanny.

“Sangat!”

***

Parkiran sepeda motor sangat ramai, maklum film aksi yang sudah lama ditunggu para pecinta sinema—akan tayang perdana sore ini.

Fanny dan saya sengaja berjalan pelan saat keluar dari tempat parkir, kami pikir siapa tahu ada wanita yang terkesima melihat penampilan dua lelaki gagah ini.

Saya selalu berjalan sedikit lebih ke depan daripada Fanny, supaya terlihat memiliki pengawal pribadi, apalagi kawan saya tersebut sering mengenakan jaket kulit berwarna hitam, tampangnya sangar pula, jadi sangat cocok kalau ada orang bilang dia itu bodyguard.

Kira-kira 5 meter kami meninggalkan tempat parkir, di hadapan kami lewat 2 orang gadis cantik berbaju ketat, dadanya menyembul, seperti pegunungan Himalaya, sangat menantang untuk didaki. Saya langsung menyenggol tangan Fanny yang ternyata sedang memandangi bangunan ruko di sebelah kanan kami.

“Eh ... ruko jangan dilihat, ini di depan ada yang bening!”

“Mana? Mana?”—Fanny menggosok matanya—“Woooowww!”

Teriakan “wow” kawan saya yang tingginya 178 sentimeter itu membuat 2 target di depan kami terkejut, jujur ... saya juga.

“Norak!” kata saya agak kesal.

Para gadis kabur, mereka memandang saya dan Fanny dengan tatapan jijik. Sudah kepalang basah, kami menjulurkan lidah ke arah mereka.

“Iiiiii, dasar penjahat kelamin!” kata gadis berbaju merah.

“Goblok!” teriak gadis berbaju kuning.

“Dasar gunung berjalan!” balas Fanny.

“Dasar gunung yang mendatangkan penjahat kelamin!” teriak saya asal-asalan, kehabisan akal mau jawab apa.

Akhirnya dua perempuan trendi itu kabur sambil bergandengan tangan, dari kejauhan mereka tampak seperti bendera partai yang tiba-tiba berkoalisi.

Saya menarik nafas panjang. “Gagal lagi kita, Fan.”

“Thomas, dunia belum berakhir, misi kita masih akan berlanjut!”

Saya tersenyum.

***

Ruang tunggu penuh sesak, beginilah keadaan lazim bioskop satu-satunya di Kota Pontianak ini di akhir minggu.

Rata-rata para lelaki datang membawa pacarnya, dalam hal ini perempuan tulen. Saya dan Fanny pura-pura tidak kenal, karena takut disangka gay.

DING DING DING DING ....

“Pintu studio lima sudah dibuka.” Terdengar suara pengumuman dari pengeras suara yang letaknya entah di mana.

Saya memberi kode kepada Fanny dengan anggukan kepala, tapi dia hanya bengong. Saya melambaikan tangan supaya ia lebih paham, posisi kami berjarak 3 meter, namun Fanny masih tak paham, matanya kosong. Saya mulai geram.

“Woi! Ayo masuk!”

Fanny tetap diam, ada yang tak beres, ia pasti kesurupan! Tak lama lelaki berambut cepat tersebut menunjuk ke suatu arah, saya menelusuri dengan teliti. Astaga! Pantas saja Fanny membeku. Rina—mantan pacar Fanny—sedang bermesraan dengan seorang lelaki.

Saya mendatangi Fanny. “Ayo masuk, kawan.”

Fanny mengangguk.

“Sakit?” tanya saya.

“Banget.”

***

Senyum Fanny dan saya mengembang setelah tahu bahwa tempat duduk kami di dalam bioskop diapit oleh wanita-wanita manis nan seksi.

“Ayo cepat duduk, Fan!”

“Siaaapp!” Fanny terlihat bersemangat kembali.

Sebelah saya—seorang perempuan mengenakan rok mini berbahan jeans, dipadu dengan tank top warna merah muda, di samping kanan Fanny—ada seorang wanita dewasa, rambutnya panjang sebahu, pakai kacamata, wajahnya menantang.

Tiba-tiba lampu bioskop dimatikan, tanda film akan dimulai, saat yang tepat untuk memulai misi kami.

“Fan ... kau siap?”

“Mari kita lakukan, Bro!”

Kami mengeluarkan bungkusan hitam dari tas masing-masing, lalu membukanya. Cukup 2 detik, aroma gado-gado sudah menyebar, bau khas bumbu kacang yang masih setengah panas di dalam bioskop pasti menarik hidung siapa pun.

“Waaahh, aromanya enak, siapa yang makan?” Terdengar suara penonton lain yang penasaran dari belakang kami.

Saya dan Fanny tertawa geli, sudah lama misi “bunuh diri” ini ingin kami lakukan, bisa membawa makanan “berat” ke dalam bioskop—yang tidak dibeli dari counter resmi pihak mereka adalah suatu kebanggaan. Misi berhasil. Ketika film selesai, perut pun sudah kenyang!

---

Pontianak, 17 November 2016

Dicky Armando

---

Sumber foto: feelgrafix.com