The Friend, Part 1: Meeting

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 November 2016
The Friend, Part 1: Meeting

Jalanan di Kota Pontianak cukup sepi menjelang pukul dua belas malam, hanya tersisa kelap-kelip warung kopi dan warung makan kecil di pinggirnya. Suara sepeda motor dan mobil semakin lenyap seiring naiknya bintang-bintang di gelap malam.

Berkeliling kota pada malam hari memang sudah lama menjadi hobi Thomas Hitler, seorang pemuda berumur dua puluh empat tahun yang bekerja di sebuah lembaga keuangan partikelir. Almarhum ayahnya—Roberto Duro—sangat tergila-gila dengan pemimpin tertinggi NAZI, sehingga memberi nama belakang yang sama kepada anak satu-satunya itu. Thomas sering tertawa geli kalau teringat cerita kakak kandungnya—bahwa saat sang ayah memberi nama tersebut, kedua orang tuanya bertengkar di hadapan dokter yang membantu proses persalinan ibunya.

Malam itu Thomas seperti biasa menggunakan sepeda motor mengelilingi Kota Pontianak, ia tak melindungi kepalanya dengan helm, benda itu disangkutkan pada gantungan motor—di antara kedua pahanya, pria yang senang berpakaian hitam-hitam tersebut memang tak mau rambut klimisnya rusak.

Beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan mobil di sebuah jalan, berita itu sempat diliput koran lokal, untungnya tak ada korban jiwa, namun supir mengatakan bahwa sebelum mobilnya menabrak pohon—ia membanting setir karena melihat sekumpulan wanita berbaju putih menghalangi jalannya.

Merasa kesaksian tersebut tak wajar, maka Thomas memutuskan untuk memeriksa keadaan tempat kejadian.

Thomas menghentikan sepeda motornya di Jalan Longhorn. Tempat itu sepi bahkan ketika siang hari. Jalan tersebut cukup lebar, sekitar dua puluh meter, dan panjang dua kilometer, pinggirannya dihiasi pohon-pohon akasia besar yang tersusun rapi. Mata Thomas yang agak sipit mencari-cari sesuatu, tangannya meraba-raba udara, panas!

BRUUUUMMM!

Sebuah mobil melewatinya, pelan. Tak lama, dari pepohonan muncul sosok lima wanita berbaju putih, atau lebih tepatnya mereka seperti mengenakan seprai berwarna putih yang bagian tengahnya dilubangi agar bisa dimasuki kepala.

CKIIITTTTTT!!

Mobil tadi mengerem, ban kendaraan itu hampir masuk ke parit kecil di pinggiran jalan, di atasnya wanita-wanita berambut panjang dan bagian kakinya berdarah sedang tertawa keras.

Seorang pria keluar dari mobil sambil berteriak.

“Tolooong! Tolong aku!” seru pria bertubuh kecil itu kepada Thomas.

Thomas masih tertegun, ia tak menyangka akan melihat Kuntilanak pada akhirnya. Sang ayah dulu pernah bercerita tentang sejarah Kota Pontianak yang saat pembangunan pertama kali—sering diganggu dengan makhluk gaib berwujud wanita itu. Sampai kemarin Thomas hanya pernah menangani kasus tuyul—makhluk gaib pencuri—atau beberapa entitas yang berbentuk binatang.

“Tolong, Bang!” teriak pria malang itu lagi, membuat Thomas tersadar dari ingatan masa lalunya.

Satu sosok Kuntilanak mengejar mereka berdua, bunyi tawanya keras sekali, menggema di antara dedaunan, seakan makhluk itu ada di mana-mana.

Nona Kunti menjulurkan tangannya. Thomas sempat ciut nyali karena melihat kuku panjang penuh darah seperti itu.

Shieldo selfando!” teriak Thomas, tangan kanannya mengarah ke makhluk gaib yang mengejarnya.

 DUGG!!

Nona Kunti menabrak dinding energi berwarna biru, lalu dengan cepat membentuk kotak persegi panjang, makhluk ganas itu terkurung!

Thomas mengibaskan tangannya lagi—sehingga membuat makhluk di depannya terpental dan hancur.

WUZZZ!!

Tersisa asap hitam dari wujud Nona Kunti yang menyerangnya. Thomas langsung mengejar sisa entitas gaib tersebut. Ia mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.

 “Firo attacanza!” teriak Thomas

 WHOOOOFFFFFF!!!

Tubuh Thomas mengeluarkan api yang sangat besar, membentuk naga. Empat makhluk gaib yang tersisa terbakar. Terdengar suara tangisan menyayat hati. Thomas memandang ke belakang untuk melihat keadaan pria yang meminta pertolongannya.

“Pergi! Sekarang!” seru Thomas.

Pria tersebut lari sekencang-kencangnya.

Thomas mengembalikan pandangannya ke arah semula. Celaka! Masih tersisa satu Kuntilanak, makhluk itu tampak lemah, namun seperti masih ingin memberikan perlawanan.

“Bagaimana bisa kau selamat?” tanya Thomas.

Nona Kunti bangun dari posisinya yang tadi terbaring di tengah jalan, sekarang ia terbang melayang tepat di hadapan penakluknya.

“Kau meremehkan aku ...,” jawab si Nona Kunti.

Thomas mengepalkan tangan, dari jari-jarinya tampak aura api berwarna merah. “Jangan main-main denganku!”

Nona Kunti mundur, ia takut terkena api gaib milik Thomas.

“Aku keturunan bangsawan, tak mudah ditaklukkan,” kata Nona Kunti.

“Dari mana asalmu? Sejak kapan kau di sini?”

“Sejak awal kota ini berdiri, kerajaanku sudah hancur, sekarang kami sudah terpecah di seluruh pulau ini.”

Thomas mengamati wajah entitas di depannya. Ada yang berbeda dari cerita orang tua zaman dulu, bahwa tatapan Kuntilanak biasanya kosong dengan wajah yang seram. Tapi makhluk ini punya binar di matanya yang bulat, agak mirip dengan mata manusia.

“Baik, kali ini aku melepaskanmu. Sekali lagi kau berulah, tunggu akibatnya!” ancam Thomas.

Nona Kunti mengangguk.

Thomas berbalik menuju sepeda motornya yang ternyata sudah jatuh akibat ledakan energi pertarungan. Ia mengembalikan posisi kendaraan itu seperti semula—lalu mengambil sebatang dupa yang ia selipkan di badan sepeda motor, dibakarnya ujung benda itu, kemudian Thomas menancapkannya di tanah.

“Semoga dengan ini, lukamu cepat sembuh.”

Nona Kunti tak menjawab, wajahnya datar, memang kebanyakan makhluk gaib tidak memiliki ekspresi.

Thomas menyalakan motornya.

“Aaaaahhhhhh!” Pria berkaos hitam tersebut jatuh ke tanah, kaget karena Nona Kunti tiba-tiba muncul di depannya lagi.

Thomas segera berdiri. “Kau mau cari masalah lagi?”

Nona Kunti menggeleng.

“Lalu apa?” tanya Thomas kesal.

“Semua temanku sudah kau hancurkan, aku tak punya tempat lagi di sini,” jawab Nona Kunti.

“Terus?”

“Izinkan aku ikut denganmu.”

Thomas berpikir sejenak, ia tahu—Michael pasti marah besar jika ia membawa satu lagi entitas asing bersamanya, tapi Nona Kunti akan berguna menambah kekuatan ketika menghadapi kasus gaib yang lebih berat.

“Aku tak tahu harus bilang apa,” ujar Thomas sambil menggaruk kepala.

“Tolonglah,” lirih Nona Kunti.

Baru kali ini ada makhluk gaib dari kalangan bangsawan yang ingin ikut dengannya setelah pertarungan, Thomas benar-benar bingung. Beda dengan Michael yang ia panggil dengan ritual.

“Hmmm ... baiklah, kita coba dulu, aku akan lihat di mana tempatmu nanti. Oh, ya, siapa namamu?”

“Maria.”

(Bersambung)

---

Pontianak, 16 November 2016

Dicky Armando

---

Sumber foto: HD Fine Wallpaper 

  • view 300