Jas

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 November 2016
Jas

Acara khusus terkadang membutuhkan pakaian yang berbeda, hal itu pula—membuat kaki saya melangkah ke sebuah tempat penyewaan pakaian formal. Saya sendiri memang menghindari baju-baju “beraroma” adat atau daerah—kecuali acara tersebut sejak awal bernuansa budaya, alasannya karena tidak mau terlihat menonjolkan sikap rasialisme, dan tetap mengedepankan nasionalisme. Jas adalah pilihan utama daripada pakaian formal lainnya.

Kaguya (nama samaran)—pemilik butik—mempersilakan saya masuk ke dalam tokonya, ia menjual banyak baju, dan ada juga yang disewakan. Ruangan milik Kaguya itu menurut pandangan saya cukup berantakan, di ruang gantinya juga banyak sekali baju-baju “terdampar” di lantai.

Saya duduk di sofa berwarna abu-abu, membelakangi jendela yang menampilkan panorama jalan komplek. Sebuah cermin besar bergantung di dinding berwarna biru pudar, membuat saya leluasa memperhatikan dan menyisir rambut agar tetap klimis.

Kaguya mengatakan kepada saya agar menunggu sebentar lagi, jas yang akan ia tawarkan sedang diambil dari tempat cuci baju. Tak masalah!

Tak lama datang sepasang sejoli, sepertinya calon pengantin. Kaguya dengan ramah mempersilakan mereka masuk, kemudian wanita berkerudung itu memanggil seorang karyawannya yang juga seorang perancang busana di butik tersebut.

“Ini namanya Bu Atik, perancang busana di sini,” kata Kaguya, memperkenalkan karyawannya kepada sepasang sejoli yang baru datang tadi. Mereka bersalaman.

Bu Atik sudah membawa dua baju di tangannya, sepotong jas warna perak muda dan gaun berwarna merah muda dengan paduan perak. Saya diam memperhatikan percakapan mereka sambil tetap menyisir rambut ketika ada kesempatan.

Roni—nama si laki-laki—mencoba jas yang diberikan kepadanya di depan saya. “Maaf ya, Mas, permisi.”

“Silakan, santai saja, Bro!” jawab saya.

Raut muka lelaki bermata bulat itu berubah ketika ia memandangi cermin, wajahnya masam, sepertinya tak suka dengan jas tersebut. Rina—nama pasangan Roni—masih berada di dalam ruang ganti baju bersama Kaguya.

“Bagaimana?” tanya Bu Atik dari belakang Roni.

“Saya ingin ganti warna, Bu!” ujar Roni agak kesal.

“Warna apa?”

“Saya mau jas warna hitam, dasi warna perak, dan baju kemeja warna hitam.”

Perempuan berkulit gelap itu tertawa nyaring. “Memangnya cocok pakai warna itu? Tidak sesuai dengan warna baju pengantin wanita, bukan?”

Roni tak menjawab, ia tampak kebingungan, namun kekesalan terpantul dari wajahnya. Jujur saya paling risau kalau ada orang yang tak paham tentang pelayanan bisnis.

Saya menyela pembicaraan, “Maaf, Bu Atik. Ibu membuat dua kesalahan, yang pertama adalah opini calon konsumen sangat layak untuk dipertimbangkan, karena apa? Karena dia adalah KONSUMEN, saya ulangi: KONSUMEN, yang kedua siapa bilang warna yang ia sebutkan tidak cocok dengan warna baju pasangannya? Ibu pernah main internet atau tidak?

Bu Atik terdiam, Roni menganga lebar sekali, Rina dan Kaguya yang ternyata juga sudah selesai mencoba baju juga ikut tercengang.

Situasi mencekam selama beberapa detik. Roni lalu mendatangi saya, kemudian menjabat tangan saya erat sekali, meski tanpa kata-kata.

Mouth to mouth promotion itu sangat penting dan akan berbahaya jika konsumen tidak ditangani dengan baik!” tambah saya.

Ujung-ujungnya saya kesal sendiri, dan segera meninggalkan tempat itu karena merasa tak akan mendapatkan pelayanan prima dari orang-orang yang tak mau mengerti keadaan pelanggannya.

Saat hendak naik ke atas sepeda motor—Bu Atik mengejar saya. “Mas ... Mas! Mouth to mouth promotion itu apa?”

“Itu nama sejenis makanan yang terbuat dari ubi kayu, Bu!” jawab saya asal-asalan, dan langsung meluncur pulang.

---

Pontianak, 6 November 2016

Dicky Armando

---

Sumber foto: Junilogue - WordPress.com