Mengatasi Kekecewaan dalam Berteman

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 03 November 2016
Mengatasi Kekecewaan dalam Berteman

Teman seharusnya menjadi pendukung yang positif bagi hidup kita semua. Tapi apa jadinya kalau mereka hanya menjadi “benalu”? Apakah kita berani move on? Ataukah akan tetap mempertahankan oknum-oknum seperti itu?

Tulisan ini tercipta karena lagi-lagi tertipu dengan seseorang yang telah saya anggap sebagai sahabat. Entah sudah berapa kali, hampir lupa, mungkin karena terlalu mudah percaya dengan orang lain. Memang kejadian yang saya alami bukan kerugian materi, melainkan kerugian moril yang teramat dalam. Anehnya ini terjadi di setiap jenjang kehidupan, mungkin memang takdir—bahwa dalam jejak langkah manusia akan selalu ada “duri”, baik sebagai cobaan hidup maupun contoh untuk masa mendatang agar tak terjadi lagi.

Masa SMA ada seorang teman—Masdi (nama samaran)—yang akrab dengan saya, berjalan waktu, entah mengapa ia menjadi sering membanggakan diri di antara teman-teman lain. Awalnya saya menganggap itu hal biasa, hanya sebuah gurauan, tapi semakin hari bertambah frekuensi kesombongannya itu. Teman-teman lain pun tak terlalu menyadari, namun ketika saya menjauh, beberapa rekan menanyakan langsung kepada saya—dan mereka langsung sadar, lalu berkata, “Iya, ya! Aku tak sadar kemarin itu!”

Dunia anak kuliah biasa saja, tak terlalu jauh pun tak terlalu dekat, hasilnya hubungan saya dan teman-teman masih terjalin erat.

Masuk dunia kerja, sekelompok orang yang saya anggap akan menjadi sahabat seumur hidup, ternyata hanya mau senangnya saja, ketika ada kesulitan, mereka bungkam, cari aman, kemudian menjilat sana-sini. Pada tahap ini saya berusaha untuk tidak mempercayai siapa pun lagi dengan mudah.

Sampai suatu hari saya bertemu dengan kawan lama, namanya Igus (nama samaran). Ia dikenal sebagai orang yang alim, saya pun menganggapnya begitu.

Mimpi-mimpi dan rencana-rencana—saya ceritakan kepadanya, setelah itu kami berkomitmen untuk bekerja sama untuk sebuah usaha kecil. Saya dan Igus menjalani sebuah pelatihan dalam rangka menambah kemampuan diri—agar bisa berkecimpung di dunia bisnis yang akan kami jalani.

Pertengahan jalan, saya berkata kepada Igus akan berlatih di tempat lain karena kurang cocok dengan pelatih yang sekarang. Lelaki berkacamata itu tak mempermasalahkannya.

Sekitar 1 bulan, telepon genggam milik saya rusak, komunikasi kami terputus. Jujur, saya merasa ada sesuatu yang ganjil. Hati saya berkata, “Igus pasti telah membuka usaha itu sendirian tanpa sepengetahuan saya.”

Sampai suatu hari seorang teman mengatakan kepada saya bahwa Igus telah membuka bisnis baru, sebuah foto menjadi buktinya, bisnis yang telah kami rencanakan bersama. Hati saya hancur, bukan karena ia telah mendahului, tapi karena Igus tak memberitahu. Saya tak mempermasalahkan tentang ide usahanya, namun mengapa ia harus menutupinya dari saya? Itu saja, sederhana.

Allah SWT berfirman di dalam Alquran, surah Al-Furqan ayat 27-29: ”Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya, dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.’”

Ayat tersebut menjelaskan kelalaian dalam pertemanan yang mengakibatkan kesesatan. Saya mengambil apa yang telah terjadi sebagai pelajaran berharga, bukan bermaksud memutuskan tali silaturahmi, namun saya benar-benar tak sanggup memandang wajahnya lagi. Time to move on!

Ada dua kiat yang dijelaskan oleh Redzzdelady mengantisipasi oknum dari kalangan teman-teman Anda, yaitu:

  • Perluas pergaulan.
  • Tutup telinga dari si “benalu”.

Saya menambahkan empat hal, yaitu:

  • Jangan mudah percaya orang lain yang belum teruji loyalitasnya.
  • Jangan menceritakan ide-ide besar Anda kepada orang yang salah.
  • Jaga jarak sejauh-jauhnya dengan "benalu" (dengan niat tak ingin cari masalah baru).
  • Perbanyak ibadah (bagi yang beragama).

Semoga bagi siapa saja yang membaca tulisan ini—tidak mengalami kepahitan yang saya rasakan.

---

Pontianak, 3 November 2016

Dicky Armando

---

Sumber foto: bjstlh.com 

Sumber bacaan:

  • view 229