Bencis

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 November 2016
Bencis

Kalau siang hari jalan raya ini terasa aman (suatu jalan di Kota Pontianak), namun kalau mulai jam 23.00 WIB--saya tak berani lewat sini, trauma.
 
Waktu SMA, saya dan Amenk (nama aslinya Hendry)--sepulang dari kegiatan memancing ikan di sebuah kapal orang--melewati tempat tersebut. Sedari awal, mata teman saya yang sipit itu gelisah memandangi sekitarnya. Kami berada di kegelapan, di sebelah kiri banyak pohon,sebelah kanan ada ruko-ruko tanpa lampu, mengerikan memang.
 
"Kenapa, Menk? Hantu?" tanya saya.
 
"Ah ... tidak, bukan apa-apa." Amenk mulai menambah kecepatan motornya, sementara saya di samping masih santai saja, kebetulan motor ayah memang tak bisa ngebut.
 
Tapi ada yang aneh memang, sekitar 10 meter di depan, dekat pohon terlihat pergerakan yang tak normal, daun kecil di sekitar pepohonan bergerak sendiri.
 
Saat sudah berjarak kurang lebih 1,5 meter makhluk itu muncul, menyeringai dari balik tanaman-tanaman liar.
 
"Baaaaanggg!!!! Aku tak mau kalau aku dimaduuuuu! Pulangkan saja kepada orang tuakuuuuuuu!" Seorang wanita "jadi-jadian" menyanyi dengan suara keras nan sengau, sambil berjoget-joget. Ia mengenakan baju warna merah muda, ketat. bulu kakinya lebih lebat daripada saya.
 
"Haiiyaaaaaaa! Amsyooonggg!" Amenk kabur, motornya masih baru, ia lolos dengan mulus.
 
Motor ayah, keluaran tahun 1980, bisa menyala sudah syukur. Saya mencoba kabur, karena makhluk tersebut sepertinya mengejar.
 
"Baaaang! Mampir dooonk!" Tangan lelaki separuh wanita itu melambai-lambai, kakinya laju mengejar motor saya.
 
BREM ....
 
Celaka, motor mogok! Saya menoleh ke belakang, makhluk "jadi-jadian" tersenyum, ia melepaskan sepatu yang berwarna sama dengan bajunya--lalu kembali mengejar saya.
 
Tak perlu pikir panjang, saya turun dari motor, kemudian berlari sambil menyeret benda sialan itu, tiba-tiba saya mendapatkan kekuatan, entah dari mana.
 
"Tolooong! Tolooongg!" teriak saya, tak karuan
 
"SIni aku tolongin, Baaaang!" balas makhluk itu, masih dengan suara sengau.
 
Sampai di ujung jalan yang penuh cahaya lampu, si "monster" berhenti mengejar, kakinya tak bergerak melebihi garis cahaya yang tercipta dari bayangan daun-daun. Perlahan ia kembali ke dalam kegelapan. Mirip film Conjuring!
 
Esok hari di sekolah, saat jam pulang, Amenk mendapati kedua ban motornya kempes total.
---
Pontianak, 1 November 2016
Dicky Armando
 
Sumber foto: Fanpop 

  • view 113