Sastra to Door: Pertajam Angle Sastramu

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Sastra to Door: Pertajam Angle Sastramu

Apa itu Geng Sastra Indonesia?

Geng Sastra Indonesia adalah sebuah komunitas pecinta sastra yang didirikan oleh Amai "Bunglon". Amai adalah seorang penulis luar Kalimantan Barat yang sekarang sedang berdomisili di Kota Pontianak. Perempuan berjilbab itu telah menelurkan sebuah novel yang berjudul "Bunglon", itulah sebabnya nama belakang untuk panggilan Amai agak "beraroma" beda dari kebanyakan penulis.

Penampakan sosok Amai "Bunglon".

Sumber foto: akun Facebook Amai.

Sastra to Door adalah program terbaru dari Geng Sastra Indonesia, isi kegiatannya adalah mengunjungi narasumber dari berbagai kalangan--mulai dari ibu-ibu komplek sampai sutradara film pendek. Geng Sastra Indonesia beranggapan bahwa sastra itu berada di mana pun dan oleh siapa pun.

Awalnya Geng Sastra Indonesia bermarkas di suatu warung kopi di Kota Pontianak yang sering mengadakan pertunjukan puisi, namun karena suatu hal, maka Amai dan kawan-kawan memilih untuk tidak bertempat--tapi selalu ada kegiatan: Sastra to Door.

Saya--Dicky Armando--adalah satu dari sekian banyak anggotanya. Jujur ... saya sangat menghargai semangat Amai yang benar-benar gila kalau bicara soal sastra. Mungkin kami cuma amatiran di bidang ini, tapi soal sastra--cinta kami tidak kalah mengenai hal itu--bahkan dengan penulis senior sekalipun.

Berikut laporan Amai yang sudah diubah dengan gaya bahasa saya sendiri tentang kegiatan Sastra to Door pada hari Sabtu (22/10/2016):

Kru Geng Sastra Indonesia kali ini mendatangi kafe Homepage di Jalan Bukit Barisan, nomor 37, Kota Pontianak. Malam itu hujan cukup deras, di beberapa tempat hanya gerimis. Amai dan kawan-kawan punya janji untuk bertemu Akilbudi Patriawan, seorang sutradara film indie asal Kalimantan Barat. 

Kru Geng Sastra dan Akilbudi Patriawan.

Sumber foto: dokumentasi Amai "Bunglon".

Dialog antara kru Geng Sastra Indonesia dengan narasumber bermula pada pukul 19.30 WIB. Akilbudi Patriawan datang membawa sebuah ransel besar yang isinya ada materi-materi mengenai tema pembahasan malam itu, khusus untuk Geng Sastra Indonesia.  

Amai mengatakan, "Bang Akilbudi Patriawan menjelaskan tentang tata cara penulisan skrip film, mulai dari yang remeh, sampai hal-hal teknis.  Beliau benar-benar ramah."

Kru Geng Sastra Indonesia sempat sungkan, karena sang narasumber begitu detail saat berbagi ilmu--yang mana pengetahuan berharga seperti itu hanya bisa didapatkan dengan banyak trial and error

Selesai pembahasan skrip, Akilbudi Patriawan memberikan penjelasan bahwa suatu karya harus disertai oleh "hati" di dalamnya, berkarya haruslah fokus pada "hati".

"Namun, ketika nanti sudah fokus, pasti akan banyak sekali ombak yang akan hadang kalian. Tetaplah bertahan jika di situ memang ada hatimu. Kecuali jika kalian sudah mati-matian bertahan tapi rasa ingin tambatkan layar lebih besar, mengadulah pada-Nya. Bilang kalau kamu udah abis-abisan, terserah mau Tuhan bawa kemana lagi," jelas Akilbudi Patriawan kepada kru Geng Sastra Indonesia

Saat mendengar kalimat tersebut--Amai merasa terharu, ingusnya meleleh, dan langsung terjun ke parit. Sementara--Stella--teman dekat Amai yang juga termasuk kru, air matanya tak berhenti mengalir membasahi kafe sehingga tempat tersebut banjir besar, anggota-anggota lain berteriak histeris seperti kesurupan. Baik ... saya terlalu berlebihan, paragraf ini cuma fiktif. 

Tapi yang pasti, kata-kata dari narasumber sangat menginspirasi kru Geng Sastra Indonesia. Banyak sekali pengetahuan baru dan hikmah dari pertemuan dengan sutradara berambut gondrong tersebut.

Amai mewakili keseluruhan kru Geng Sastra Indonesia menjelaskan, "Kami harap, anak-anak muda Indonesia lebih sering bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang seperti beliau ini. Biar tak semakin kapitalis pikirannya, biar tak semakin hedonis hatinya, biar tak semakin sempit ruang pikirnya, dan biar Indonesia tak semakin lumpuh nantinya."

Di malam yang gerimis itu, kru Geng Sastra Indonesia sangat bahagia, karena bisa total bersosialisasi tanpa "mencumbui" gadget yang kebanyakan membuat orang bertemu dengan kepala tertunduk. 

Pukul 22.00 WIB hujan belum juga reda, tapi tak menyurutkan semangat Amai dan kawan-kawan, begitu pula dengan sang narasumber. 

"Setelah kalian fokus dan mampu lewati ombak-ombak tadi, ada satu tantangan lagi yang harus kalian hadapi dengan betul-betul gunakan mental yang tak biasa, yaitu kesombongan, karena sombong adalah berhubungan dengan diri, maka sebenarnya inti berkarya adalah terapi pengendalian diri," pungkas Akilbudi Patriawan, menutup pertemuan.

Sukses terus Bang Akil!!

---

Laporan asli dari: Amai "Bunglon".

Ditulis ulang oleh: Dicky Armando.

---

Keterangan:

Saya tidak ikut dalam pertemuan kali ini, karena ... biasalah, malam minggu! Hahahahhahaha! 

---

Pontianak, 24 Oktober 2016

Dicky Armando 

  • view 203