Perempuan Puisi: Shella Rimang

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Perempuan Puisi: Shella Rimang

Shella Rimang, nama yang sudah beberapa kali saya dengar saat berdiskusi tentang geliat sastra di Kota Pontianak, namun hanya pernah bertemu 1 kali di acara apresiasi karya Aba Zailani (sastrawan Kalimantan Barat), tidak ada komunikasi di antara kami. Satu hal yang saya ketahui--Shella--adalah seorang penulis puisi, setidaknya begitu kata teman-teman.

Penampakan sosok Shella Rimang.

Sumber foto: akun Facebook Shella Rimang.

Sampai pada suatu hari, tanggal 18 Oktober 2016, malam hari. Seorang teman--Varli Pay Sandi--menandai saya di sebuah postingan di Facebook, isinya mengenai undangan menghadiri sebuah acara apresiasi puisi karya Shella Rimang, pada hari Jumat (21/10/2016), pukul 19.20 WIB

Varli Pay Sandi, manajer Kafe "V'Note Coffee".

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando

Hari "H" pun tiba. Berikut saya tuliskan kronologi kegiatan acaranya:

Saya sampai di Kafe "V'Note Coffee" sekitar pukul 19.35 WIB, tempat ini berada di Jalan Ampera, Kota Pontianak. Malam itu hujan gerimis, cuacanya dingin dan sangat mendukung untuk segera merebahkan tubuh di atas kasur. Ini mengingatkan ketika saya akan pergi pada acara "Tribute to Zailani Abdullah Almuthahar", kurang lebih sama--tapi tidak gerimis. Rasa penasaran dan haus pengetahuan tentang pergerakan sastra di Kota Pontianak mengalahkan segalanya

Tak kurang dari 30 orang sudah berkumpul di kafe yang dikelola oleh Varli tersebut. Dari kejauhan saya melihat sosok Shella yang sedang berbicara dengan seorang pria yang rasanya tidak asing. Ah! Benar saja, dia adalah Pak Nano L. Basuki, seorang penulis yang sudah lama berkecimpung di dunia sastra. Malam ini ia akan mengapresiasi karya-karya puisi Shella yang terangkum dalam buku antologi tunggalnya: Perempuan Puisi

Varli menghampiri saya sembari menyerahkan selembar daftar hadir komunitas, pada kolom "komunitas" saya menuliskan: Geng Sastra!

SEKILAS TENTANG V'NOTE COFFEE

Para pengunjung kafe cukup nyaman berada dalam ruangan yang memanjang tersebut (ruko 2 lantai). Dindingnya berwarna jingga, pilihan tepat bagi sebuah bisnis yang menjual makanan dan minuman, karena kalau tidak salah, warna-warna hangat seperti itu memang merangsang rasa lapar, terbukti ketika sampai--saya langsung kelaparan. Ehem, sebenarnya saya memang lupa makan sebelum pergi. 

Menariknya adalah langit-langit ruko dihiasi semacam wallpaper bergambar bunga berwarna hitam, jarang sekali kafe-kafe di Kota Pontianak yang menerapkan konsep seperti ini. 

Tapi, hal paling menarik buat orang-orang yang menyenangi dunia literasi adalah tempat tersebut menyediakan banyak buku untuk dibaca secara gratis. Pihak manajemen paham betul--siapa target pasar mereka--dalam hal ini adalah komunitas-komunitas pecinta baca-tulis.

Pihak manajemen juga menyiapkan sebuah panggung kecil, dimaksudkan sebagai fasilitas acara musik dan kegiatan apresiasi seni. Tempat tersebut dilapisi dengan karpet berwarna merah manggis, ada kesan rapi dan mewah jika diperhatikan baik-baik.

Suhu ruangan cukup stabil, karena dilengkapi dengan 3 kipas angin berukuran sedang di langit-langitnya. Saya yang mudah kepanasan menjadi tidak terlalu gelisah alias geli dan basah, halah ... jadi ngelantur.

Saran saya sebagai konsumen kepada pihak manajemen V'Note Coffee--mereka harus meningkatkan kualitas rasa minuman kopi, terutama kopi susu, favorit saya. Rasanya enak, namun sepertinya karyawan bagian Food & Beverage di tempat ini harus lebih sabar dalam hal penyajiannya.

19.40 WIB 

  • Pengunjung umum dan partisipan acara semakin ramai memenuhi kafe.
  • Komunitas-komunitas yang datang seperti; Band "Pada Satu Titik",  De Javu, Pontianak Membaca, dan lain-lain.

19.50 WIB

  • Pembawa acara yang bernama Sajidin Muttaqin Putra membuka acara, ia memperkenalkan komunitas-komunitas yang hadir malam itu

Penampakan wajah Sajidin M.P. 

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando

Wajah Sajidin M.P., terlihat senang sekali duduk di samping Shella Rimang. Maklum ia seringkali hanya duduk bersama kaum pria.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

19.55 WIB

  • Jimmy S. Mudya dari Band "Pada Satu Titik" didaulat untuk menyanyikan sebuah lagu pembuka acara.

Penampakan aksi Jimmy "Pada Satu Titik".

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

20.05 WIB 

  • Pembacaan puisi oleh komunitas sastra "De javu", diiringi dengan alunan gitar dari Jimmy S. Mudya.

Aksi "De Javu"

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

20.10 WIB

  • Shella Rimang naik ke atas panggung. Perempuan 21 tahun ini memperkenalkan dirinya kepada para partisipan acara.
  • Shella mengatakan bahwa dirinya berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu, dan sekarang sedang menempuh semester akhir di FKIP, Universitas Tanjungpura (Kota Pontianak).
  • Nomor kontak pribadi Shella adalah ... ehm, lebih baik langsung tanya kepada orangnya. Hahahahahaha! Untuk pemesanan buku "Perempuan Puisi" bisa langsung menghubunginya.

20.20 WIB

  • Shella Rimang membacakan puisinya yang berjudul "Elegi Sepi".
  • Puisi tersebut bernuansa religi kristiani, ia menyelipkan beberapa larik dari lagu "Malam Kudus".

20.25 WIB

  • Pak Nano L. Basuki naik ke atas panggung, dan membahas puisi-puisi Shella.

Pak Nano L. Basuki bersama Shella Rimang.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

20.28 WIB

  • Aba Zailani Abdullah Almuthahar (sastrawan Kalimantan Barat) datang memasuki ruang acara. Para partisipan acara antusias menyambut beliau.
  • Pak Nano L. Basuki melanjutkan penjelasannya tentang puisi Shella, dan menjawab beberapa pertanyaan dari partisipan.

Aba Zailani yang ditunggu-tunggu.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

20.40 WIB

  • Aba Zailani memberikan penjelasan tentang pandangannya mengenai puisi Shella, sekaligus membagikan pengalamannya menulis puisi sepanjang 43 tahun terakhir ini.

21.10 WIB

  • Pak Nano L. Basuki menutup acara dan memberikan saran kepada Shella agar lebih berani bersikap dalam puisi-puisinya, konsisten terhadap suatu perjuangan di bidang tertentu. 

Pak Nano L. Basuki menutup acara.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

FOTO-FOTO LAIN

Dadi Naang dari Komunitas Pontianak Membaca.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Amai "Bunglon", kepala suku dari Geng Sastra yang suka menyembunyikan wajahnya agar tetap misterius.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Kepala suku dari Band "Pada Satu Titik": Jimmy S. Mudya.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Ragil, generasi penerus sastra di Kalimantan Barat.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando. 

Maaf ... saya numpang narsis.

Sumber foto: foto koleksi pribadi Dicky Armando.

KUTIPAN-KUTIPAN

  • "Saya berharap acara seperti ini tidak hanya untuk sekadar berkumpul, tapi juga bisa menginspirasi kawan-kawan lain agar lebih giat membaca dan menulis." (Shella Rimang - Penulis Buku "Perempuan Puisi") 
  • "Berharap pergerakan sastra di Kota Pontianak semakin meriah, dan banyak ruang tersedia untuk mengapresiasi sastra." (Varli Pay Sandi - Manajer Kafe "V'note Coffee")
  • "Ini dia yang saya cari! Semoga kegiatan seperti ini tidak putus. Penggiat sastra harus bersatu!" (Zailani Abdullah Almuthahar - Sastrawan Senior Kalimantan Barat)
  • "Satu impian saya tercapai: bersatu dengan manusia-manusia penyuka sastra tanpa perlu melepas identitas masing-masing." (Amai "Bunglon" - Penulis Novel "Bunglon" & Ketua Geng Sastra) 
  • "Apresiasi sastra adalah acara yang sangat kita rindukan. Untuk acara malam ini yang menampilkan Shella Rimang dengan antologi “Perempuan Puisi” tentu saja adalah motivasi yang luar biasa untuk menumbuhkan penulis-penulis yang menyuarakan isi hati perempuan. Harapan kedepannya, giat menulis, giat bersastra harus terus meningkat, komunitas-komunitas atau para penikmat sastra di Kalimantan Barat harus saling cengkram erat. Ini bukan temu akhir, tapi pertemuan ini akan melahirkan penulis dan karya-karya yang sangat dirindukan oleh Kalimantan Barat." (Jimmy S. Mudya - Penyair & Musisi Kalimantan Barat)
  • "Acara ini memberikan motivasi untuk tetap berkarya, dalam rangka membangkitkan gerakan giat membaca dan menulis di kalangan generasi muda." (Ade - Perwakilan Komunitas Sastra "De javu")
  • "Menulislah sebelum kita ditulis! Membacalah sebelum kita dibaca!" (Dicky Armando - Orang Awam)

---

Pontianak, 22 Oktober 2016

Dicky Armando

 

  • view 372