Apresiasi Karya Zailani Abdullah Almuthahar

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Tokoh
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Apresiasi Karya Zailani Abdullah Almuthahar

Jam dinding menunjukkan pukul 18.15 WIB (16/10/2016), setelah salat magrib--saya bergegas menaiki sepeda motor, dan mengendarainya menuju sebuah warung kopi di Jalan Dr. Sutomo, Kota Pontianak. Malam itu sebenarnya cukup dingin, cocok untuk segera tidur, tapi hati saya berkata, "Kapan lagi ikut acara ini? belum tentu diadakan lagi!"

Hal yang membuat saya semangat adalah acara tersebut mengusung tema "Tribute to Zailani Abdullah Almuthahar", seorang sastrawan asli Provinsi Kalimantan Barat, berdasarkan info--beliau telah menulis sejak tahun 1970, sampai sekarang. 

Zailani Abdullah Almuthahar.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Sekitar 5 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di Warung Kopi Bandar Klasik. Tempat ini didominasi dengan warna hijau pada dinding, dan ditambah beberapa ornamen kayu, lantainya dilapisi porselen berwarna putih meski warnanya sudah agak sedikit buram.

Bang Hatta--sang manajer warung kopi--beserta Bang Jimmy, pentolan Band "Pada Satu Titik" sedang berlatih memainkan sejumlah lagu. Mereka berdua ini--kalau saya tidak salah--merupakan inisiator acara. Secara pribadi, saya sangat mengapresiasi apa yang telah diusahakan oleh kedua pria yang sangat mencintai seni tersebut. 

Bang Jimmy dan Bang Hatta.

Sumber foto: Facebook Jimmy dan Hatta. 

Setelah menyalami mereka berdua, saya mencari meja yang "enak", namun mata saya tertuju pada sebuah meja paling belakang yang sedang diduduki oleh seseorang, wajahnya tidak terlihat karena posisinya membelakangi. Pria itu kelihatannya sedang sibuk mengerjakan sesuatu, banyak kertas di dekatnya. Saya dekati, oh ... ternyata Bang Pradono--satu dari sekian sastrawan Kalimantan Barat angkatan lama. 

"Kertas apa itu, Bang Don?" tanya saya.

"Penilaian lomba puisi, banyak sekali, luar biasa!" jawabnya.

"Lomba puisi Balai Bahasa?' 

"Iya." Bang Pradono menggaruk kepalanya, wajah lelaki itu terlihat lelah. 

Aksi Bang Pradono dalam acara "Tribute to Zailani Abdullah Almuthahar".

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Musik berhenti, Bang Jimmy bergabung bersama saya dan Bang Pradono, sementara Bang Hatta masuk ke ruangan dalam untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, Bang Jimmy mengeluarkan beberapa kliping koran zaman dulu dan lembaran kertas berisi puisi.

"Punya siapa ini?" tanya saya.

"Aba Zailani," jawab Bang Jimmy sambil merapikan kliping-kliping tersebut, "nanti ini akan kita scan ulang sebagai arsip, bukti sejarah, tak boleh hilang."

Saya perhatikan kertas-kertas yang sudah termakan usia itu, semuanya diketik menggunakan mesin ketik manual, bukan komputer atau laptop seperti sekarang ini. Dalam hati saya berkata, "Niat sekali si Aba ini." 

Para peserta kegiatan satu per satu berdatangan. Perempuan-perempuan berjilbab, kalau tidak salah--mereka kuliah di sebuah universitas swasta. Setelah itu ada juga musisi, dan berbagai komunitas sastra lain seperti; Gengsastra, Pontianak Membaca, Santri Jalanan, dan lain-lain. Hadir juga Pak Musfeptial, ia bekerja di Balai Bahasa Kalimantan Barat, saat acara sudah dimulai--beliau duduk berhadapan dengan Aba Zailani, di tangan lelaki bertubuh besar itu tampak sebuah buku yang di sampulnya tercetak nama: Musfeptial, sepertinya ia juga seorang penulis, momen bersejarah buat saya pribadi, langsung saja diabadikan dalam sebuah foto.

Aba Zailani sedang membaca buku karya Pak Musfeptial.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Aba Zailani sendiri datang ke lokasi mengenakan pakaian kaos lengan panjang warna hitam, celana panjang dengan warna senada, dan tak ketinggalan peci berwarna biru tua. Penampilannya sederhana, namun penuh wibawa.

Acara pun dibuka dengan penampilan Band "Pada Satu Titik".  Bang Jimmy dengan syahdu menyanyikan lagu berjudul "Kembang Malam" ciptaannya. Varli Pay Sandi menjadi pembawa acara untuk malam itu, tapi memang biasanya kegiatan-kegiatan di "Kopi Bandar Klasik" menggunakan kepandaiannya dalam berkata-kata. 

Pembaca acara: Varli Pay Sandi.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Varli Pay Sandi dan Jimmy S. Mudya menghipnotis para pengunjung.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Di tengah acara, Aba Zailani berbagi pengalaman bergelut di dunia sastra dan membacakan beberapa puisi miliknya.

Aba Zailani membagikan pengalaman serta membaca puisi.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Tak ketinggalan juga Pak Musfeptial beraksi membacakan puisi milik Aba Zailani.

Pak Musfeptial beraksi.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando

Komunitas sastra "De Javu" juga hadir dalam acara ini, mereka cukup ramai kala itu, beberapa di antaranya ikut berpartisipasi dalam membacakan karya puisi Aba Zailani.

Seorang anggota "De Javu" naik ke panggung.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando

Sampai akhirnya kira-kira pukul 22.30 WIB, Varli Pay Sandi selaku pembawa acara--menutup kegiatan kami. Ditutup dengan aksi dari Band "Pada Satu Titik". 

"Pada Satu Titik" menutup acara dengan cantik.

Sumber foto: dokumentasi Dicky Armando.

Ketika lagu berhenti, maka berakhirlah acara "Tribute to Zailani Abdullah Almuthahar", namun bukan berarti Aba Zailani dan kami semua tak lagi berkarya, akan ada kegiatan-kegiatan positif berikutnya dari para penghobi sastra dan seni di Kota Pontianak--lebih luas lagi Provinsi Kalimantan Barat. Aaaammmiinnn.

---

Pontianak, 17 Oktober 2016

Dicky Armando

  • view 239