Ibu Mencintai Kita Semua

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Ibu Mencintai Kita Semua

Beberapa menit lalu saya membaca berita di situs JPNN(dot)com, mengenai seorang ibu bernama Lina Wati yang tak pernah menyerah memberikan dukungan kepada anaknya untuk tetap mengenyam pendidikan.

Apa istimewanya? Anaknya—Nisa—tidak bisa berjalan, sehari-hari menggunakan kursi roda. Bu Lina Wati setiap hari mengantar sang buah hati dengan berjalan kaki ke sekolah (kecuali libur tentunya) yang berjarak dua kilometer dari rumah.

Jujur, saya ini memang penjahat, banyak dosa, tapi kalau membaca berita tersebut, terenyuh juga. Semua ibu di dunia ini pasti menginginkan semua yang terbaik bagi anaknya, kecuali ibu-ibu yang tiap hari kerjanya hanya berdandan atau arisan.

Kalau diingat lagi, banyak sekali kasus di negeri ini tentang oknum ibu—membuang bayinya di tong sampah, selokan, dan tempat-tempat sejenisnya. Saya ketika membaca berita tentang Bu Lina—mulai berpikir bahwa ternyata masih ada orang baik di negeri ini, sekaligus mengingatkan betapa ibu kita semua sangat mencintai darah dagingnya.

Suatu kali saya menonton sebuah iklan dari negara Thailand, iklan restoran, yang memberikan kesempatan bagi semua karyawan perusahaan tersebut untuk mengajak ibunya makan bersama. Ada beberapa pertanyaan menarik yang diajukan ketika kita menonton tayangan itu:

  • Apa pembicaraan terakhirmu bersama ibu?
  • Kapan terakhir kali kau bersenang-senang bersama ibu?
  • Apa makanan kesukaan ibumu?
  • Kapan terakhir kali kau makan bersama ibu?
  • Pernahkah kau berkata kepada ibu bahwa kau mencintainya?
  • Apa yang dapat membuat ibumu senang?

Semua pertanyaan di atas tak satu pun yang bisa saya jawab. Bagaimana dengan Anda?

Lalu teringat kembali, mengapa ibu saya sampai pensiun dini dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Pendidikan. Itu semua karena saya malas mengaji, nakal, dan kelakuan lain yang tidak bisa dibenarkan. Beliau memberikan segenap waktunya untuk mengasuh dan mendidik saya—si anak tahu diri—agar tetap berpedoman pada agama, dalam rangka meraih masa depan lebih baik.

“Kalau kau tak bisa mengaji, tak tahu agama, mau jadi apa?” tanya ibu kepada saya. Kejadian ini sudah lama sekali, kira-kira saat saya kelas enam sekolah dasar.

Ketika dewasa, barulah mengerti apa maksud pertanyaan ibu. Maka harus yakin bahwa ibu kita semua sangat mencintai anak-anaknya, seperti Bu Lina Wati, ibu saya, ibu Anda ... ibu kita semua! 

---

Pontianak, 06 Oktober 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.jpnn.com 

Sumber bacaan: 

  • “Ibu berhati malaikat, Tiap Hari Dorong Anaknya yang Lumpuh ke Sekolah”. JPNN, 2016. Web. 6 Oktober 2016. http://www.jpnn.com 

Sumber tontonan: