Apresiasi Puisi: Pergi Sebelum Sampai, Karya Hilmi Robiuddin

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 September 2016
Apresiasi Puisi: Pergi Sebelum Sampai, Karya Hilmi Robiuddin

Saya main-main ke "halaman" Pak Ustaz Hilmi Robiuddin, seperti biasa--saya mencari-cari bacaan favorit saya: puisi. Pada barisan awal karya-karyanya, ada satu puisi yang dari judulnya saja sudah sangat menarik, yaitu "Pergi Sebelum Sampai".

Pada ringkasan tertulis: "Teruntuk adikku yang telah pergi sebelum sampai". Saya pikir puisi ini dipersembahkan Pak Ustaz kepada adiknya yang belum sempat menyentuh indah dunia. Secara pribadi, saya mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya, salam untuk keluarga Pak Ustaz di sana. 

Puisi tersebut terdiri dari tiga bait, total baris sebanyak sepuluh. Tidak panjang namun menyiratkan duka, terasa sekali.

Simak bait satu:

Merah warnamu 

Mungil tak sempurna

Tak bunyi tangismu

Tawa pun tiada

Penjabaran sederhana dari Hilmi, mudah dimengerti oleh orang awam seperti saya. Pada baris satu dan dua, penggambaran bentuk janin sangat tersurat. Puisi, ketika bisa dibayangkan, maka lebih mudah dipahami maksud dan tujuan si penulisnya, dalam hal ini Pak Ustaz berhasil.

Baris tiga dan empat menggambarkan keadaan "diam". Saya belum terlalu berani menebak apakah ini adalah kondisi tak bernyawa, namun perasaan saya mengatakan demikian adanya.

Pak Ustaz juga memainkan rima. Perhatikan baris satu dan tiga, menggunakan rima A-A. Baris dua dan empat menggunakan rima B-B.

Bait satu secara keseluruhan terhubung tiap barisnya, saya pikir lelaki berkopiah ini paham betul bagaimana cara menulis puisi sederhana.

Bait dua:

Datangmu tak sampai

Pergimu tak lambai

Hadirmu sedetak 

Hilangmu menghentak

Baris satu dan dua pada bait dua adalah simbol bagi pembaca untuk menerjemahkan bait sebelumnya, bahkan bait dua keseluruhan adalah menggambarkan kepergian seseorang, dalam hal ini sang janin.

Baris tiga dan empat menggambarkan kesedihan. Perhatikan kalimat: "Hilangmu menghentak", bukan menghentak kaki atau apa pun itu, tapi hati dan jiwa yang terguncang. Sebagai calon abang baru, Pak Ustaz pasti merasakah kepedihan mendalam, namun Tuhan punya rencana, bukan? 

Pak Ustaz juga memainkan rima pada bait dua. Baris satu dan dua menggunakan rima A-A, baris tiga dan empat rimanya B-B. Saya salut karena puisi ini tidak memaksakan rima, banyak puisi yang menggunakan rima, tapi alhasil tiap barisnya saling terpisah. Beda halnya dengan pria yang pernah menjadi Inspirator di Inspirasi(dot)co ini, ia dengan cermat memilih kata sehingga tidak berlebihan. Garamnya, pas!

Bait terakhir hanya dua baris, namun merupakan bentuk spiritualitas. Tidak menggambarkan kekecewaan kepada Tuhan, melainkan mengikhlaskan sebagaimana seorang hamba tunduk kepada Sang Maha Cinta.

Selamat jalan

Sampai jumpa

Kalimat "Sampai jumpa" di atas bukan guyonan, karena semua orang pasti akan pergi dari dunia ini mengahadap Tuhan, adiknya mungkin lebih dulu pergi, dan kita semua pasti akan menyusul, setuju? Saya pikir Pak Ustaz Hilmi mendapatkan pendidikan spiritual yang tepat dari orang tuanya, sehingga ia paham betul bahwa dunia ini sementara.

Kesimpulan saya terhadap puisi ini--sangat mengharukan, saya suka pemilihan kata dan permainan rima yang menarik, sekaligus isinya yang mengingatkan bahwa tak ada keabadian di dunia ini kecuali di sana: akhirat. Pak Ustaz membawa saya berpikir tentang dosa masa lalu, dan apa nantinya jawaban saya ketika malam pertama di alam kubur. Puisi karya Hilmi, keren! Nilai dari saya 85/100. Terus berdakwah, Bro

---

Pontianak, 18 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: Inspirasi.co 

  • view 195