Doa?

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 September 2016
Doa?

Kebanyakan penjual selalu menawarkan kebahagiaan, kesenangan, harapan, dan sejenisnya. Misalnya para penjual kosmetik, mereka menawarkan mimpi kepada perempuan-perempuan yang kehilangan rasa percaya dirinya jika keluar rumah tanpa lisptik, atau penjual alat elektronik, memberikan penjelasan kemudahan-kemudahan seandainya alat mereka dipakai. Kurang lebih seperti itulah.

Namun ternyata, ada juga orang yang menjual rasa takut—dengan cara memberikan pengandaian bagaimana kalau kita sakit, tak bisa bekerja lagi, dan lain-lain. Pada satu sisi hal tersebut ada benarnya, tapi cara menyampaikan dan metode memaksa dengan menggunakan rasa takut seseorang biasanya kurang berhasil. National Geographic Channel pernah menayangkan seekor hewan—Honey Badger (HB)—kalau tak salah itu namanya, sedang dikejar singa jantan, kelihatan sekali si HB ini ketakutan, ketika tersudut, ia mulai melawan sampai akhirnya bebas dari ancaman pemangsa, padahal HB itu fisiknya sangat kecil, kalah jauh dari singa. Begitu juga manusia, punya akal dan sistem pertahanan yang lebih lengkap daripada hewan, ketika diserang psikologis, biasanya akan menutup diri. Hal ini harus dicermati oleh oknum penjual.

Dua tahun lalu, kawan saya—Yayat—mengajak ngopi di sebuah kafe, karena lama tak bersua, ingin rasanya berbicara banyak hal dengannya, siapa tahu ada cerita seru yang bisa ditulis.

Sebelum pergi, saya mempersiapkan diri di depan cermin, menyisir rambut serapi-rapinya menggunakan pomade, mengenakan baju kaos warna hitam favorit, dan tentu saja saya tak lupa pakai celana ... celana pendek, barangkali ada cewek-cewek naksir nantinya.

“Mau ke mana?” tanya bapak saya, beliau ikut bercermin, kami saling dorong.

“Pak! Sabar kenapa? Saya duluan ini!” protes saya.

Eeeehh! Ini cermin punyaku!” Bapak menggunakan otoritasnya sebagai kepala keluarga, saya mengalah, mundur tiga langkah setelah itu maju lagi ketika ia lengah.

“Jadi kau mau ke mana?” tanya bapak lagi, posisi beliau sudah di belakang saya, kalah dorongan.

“Mau ketemu Yayat di kafe dekat sini.”

“Mayaaaatt?” Bapak terkejut.

“Yayat, Pak! Yayaaaattt! Untuk apa saya bertemu mayat, mau ke kafe bukan kuburan!” seru saya, sambil tetap menyisir rambut.

Ooooh, soalnya setiap pergi selalu pakai baju hitam! Aku kira tiap hari kau melayat.” Bapak menyindir kegemaran saya mengenakan baju-baju berwarna hitam.

“Kalau pakai jas nanti dikira koruptor, Pak! Seperti kawan-kawan Bapak itulah! Sudah berapa yang masuk penjara? Sepuluh, ya?” balas saya, menyindir.

Kening bapak saya berkerut. “Mulut jangan sembarangan bicara! Sebelas orang tahu!” Aneh, beliau jadi bangga kawannya bertambah satu di penjara. Setelah itu bapak pergi ke ruang tengah, menonton televisi.

Selesai menyisir, saya berpamitan dengan bapak yang tengah asyik menatap layar kaca. “Pergi dulu, Pak!”

“Sebentar,”—bapak menarik tangan saya—“kau lihat itu berita!”

Saya melihat tayangan seseorang ditangkap penegak hukum di rumahnya, sepertinya tersangka korupsi.

Bapak berkata lagi, “Sekarang jadi dua belas!”

Nafas saya rasanya putus-putus.

***

Suara musik populer mengalun bergantian, saya menikmatinya dari sebuah meja yang berdempetan dengan dinding berwarna biru tua.

Kafe ini cukup keren, interiornya kebanyakan dari kayu berwarna coklat muda, kesan klasik cukup terasa, seperti berada di film-film barat. Paling menyegarkan mata adalah pelayan-pelayan wanitanya, kece!

TENG TERENG TERENG TENG TENG TENG!

Bunyi ribut knalpot motor yang saya kenal, benar, itu Yayat dengan sepeda motor sport. Ia kemudian menuju ke meja saya, dari jauh lelaki itu sudah melambaikan tangan. Lama tak bertemu, banyak perubahan di diri Yayat, penampilannya semakin necis, sepertinya kawan saya ini sudah sukses. Hari itu ia mengenakan baju kemeja lengan panjang warna merah, celana kain hitam, rambutnya klimis, serta membawa tas besar di punggungnya.

“Apa kabar, Bro!” sapa Yayat.

“Kabar baik! Silakan duduk! Makin keren saja kau!”

Yayat duduk di depan saya. “Biasa saja, beginilah.”

“Penampilanmu tak seperti dulu, sekarang sudah seperti pimpinan perusahaan,” kata saya.

“Hehehehehe ... begitu, ya?”

Yayat kemudian memesan minuman, teh lemon. Kami berbicara banyak hal, mulai dari kenangan masa lalu sampai akhirnya pembicaraan itu dimulai.

“Dik, bagaimana jika suatu hari kau tak bisa bekerja lagi?” tanya Yayat, serius.

“Hmm ... kalau begitu nanti usaha toko orang lain yang mengelola, sebagai pemilik aku sebagai pengawas keuangan saja.”

Wajah Yayat datar, mengangguk ringan.

“Bagaimana kalau kau sakit berat?” tanya Yayat lagi.

“Ya ... diobati, Bro! Tak mungkin dibiarkan.” Saya menopang dagu dengan tangan kanan yang diletakkan di ujung meja.

Yayat menoleh ke kanan dan kiri, memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau biayanya besar?”

“Hmm ... mau bagaimana lagi, harus dibayar, bukan?”

Kini pria berpenampilan pejabat itu memandang ke langit-langit kafe. “Memangnya kau sanggup bayar?”

Saya balas bertanya, “Memangnya biayanya berapa?”

“Satu miliar.” Yayat tersenyum

“Itu sakit apa ya sampai satu miliar?”

“Pokoknya sakit beratlah!” Yayat bersandar di kursinya, tampaknya ia telah menemukan kunci pembicaraan.

Saya pun bersandar. “Terus, kalau aku tidak sakit, bagaimana?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku!” protes Yayat.

“Aku akan menjawab pertanyaan itu kalau kau sudah menjawab pertanyaanku,” kata saya.

Lelaki berpenampilan mewah itu kembali memandang kanan kiri, lalu menghirup teh lemon di meja. “Begini saja, kalau kau sehat, investasi seperti apa yang menurutmu menguntungkan?”

Saya ikut-ikutan memandang kiri dan kanan, seolah-olah mencari jawaban yang tepat, padahal sebenarnya sedang mencuri pandang ke arah seorang pelayan seksi di kafe tersebut, ia sedang melewati kami. “Aku akan investasi emas, tanah, rumah, saham, dan membuka usaha baru.”

Yayat menggelengkan kepalanya. “Tapi kalau kau sakit, itu semua tak bisa dilakukan, benar?”

Saya mulai tak mengerti apa maksud pembicaraan Yayat. “Bro, kau ini mau reuni atau mau mendoakan aku sakit berat?"

Teman saya itu terdiam, lalu ia melanjutkan kata-katanya, “Jadi begini, dengan produk asuransi yang aku jual, kau bisa mendapatkan keuntungan, meskipun kau sedang sakit atau sehat. Kalau kau sehat, kau punya mimpi, bukan? Apa mimpimu?”

Ditanya soal mimpi, saya membutuhkan beberapa detik untuk memikirkannya. Yayat senyum-senyum sendiri. “Mimpiku adalah memiliki ‘baling-baling bambu’ milik Doraemon.”

Wajah Yayat terlihat shock mendengar jawaban saya, mungkin dari sekian calon pengguna asuransi yang pernah ia datangi, itu adalah kalimat paling aneh. “Yang benar saja! Apa yang benar-benar kau inginkan?”

“Dari kecil aku memang ingin ‘baling-baling’ bambu, Bro. Asyik bisa terbang!” Telapak tangan saya mencontohkan pesawat terbang di langit. Yayat menunduk sambil menggelengkan kepala.

“Oke ... sebutkan mimpimu selain memiliki ‘baling-baling bambu’ milik Doraemon!”

“Hmm ... aku pingin punya ‘pintu ke mana saja’!”

Nafas panjang terdengar dari hidung Yayat. “Aku sudah bilang, tak boleh sesuatu milik Doraemon, berarti benda itu tak masuk hitungan!”

“Baik ... baik ... tunggu sebentar,”—saya menutup mata—“aaaaahh, aku tahu!”

“Naaaahhh, begitu, pikir yang benar! Jadi apa mimpimu?” Yayat kembali bersemangat.

“Aku mau ‘baling-baling bambu’ milik Dorami, adiknya Doraemon!”

Ketika membuka mata, Yayat sudah hilang dari hadapan saya. Setelah itu kami tak pernah bertemu lagi, tapi jujur ... saya ingin bertemu dengannya lagi, karena waktu itu ia belum membayar minumannya, teh lemon pakai es.

---

Pontianak, 17 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: stepfeed.com