Maling Baik Hati

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 September 2016
Maling Baik Hati

Banyak orang melakukan aktivitas olahraga di gym sekarang ini, namun pada waktu saya kuliah dulu—fasilitas tersebut masih terbatas, kalaupun ada biayanya mahal untuk ukuran anak kuliah, kecuali yang jual diri.

Teman-teman dan saya lebih sering berolahraga di sekitar kampus, selain murah—bisa cuci mata alias menggoda mahasiswi cantik yang sedang tersesat dalam kisah cintanya.

Pernah suatu kali—Udin—kawan seperjuangan saya di kampus, mencoba menggoda cewek yang sedang berolahraga di sekitar kampus ketika sore hari.

“Hai, cewek! Apa kabar?” tanya Udin kepada seorang cewek yang sedang berlari kecil di depannya.

Perempuan tersebut berhenti, lantas mendekati kawan saya yang bertubuh kecil dan berambut keriting gondrong sampai ke punggung itu. “Kamu bilang apa? Saya ini dosen! Kurang ajar sekali! Kamu fakultas mana? Akan saya laporkan hal ini!”

Udin kabur, sementara saya sudah lama sekali kabur. Setelah kejadian tersebut, Udin yang sekarang sudah menjadi penyelia di sebuah perusahaan pembiayaan mobil itu kapok, maka ia lebih memilih menggoda cowok-cowok yang sedang olahraga.

Beberapa hari kemudian saya dan Udin memutuskan kembali cuci mata sambil pura-pura olahraga di lingkungan kampus. Sepeda motor kami parkir di sebuah taman yang konon katanya tidak aman, banyak maling, tapi parkiran lain sudah penuh, tak ada pilihan.

“Dik, apakah aman di sini? tanya Udin.

“Entah, tapi tak ada tempat lain lagi. Kalau tidak salah maling-maling itu juga anak kuliahan, mana mungkin mereka tega mencuri dari kita yang juga kekurangan uang,” jawab saya, tidak yakin.

Udin merenung, rambutnya yang keriting melayang seperti di film-film romantis, tapi bagi saya adegan itu mirip tampilan awal film monster yang sedang terangsang. “Ya sudahlah. Kita pasrahkan saja.”

Sudah jadi kebiasaan kami—meletakkan dompet di bawah tempat duduk motor, karena dianggap cukup aman untuk ditinggalkan saat berolahraga. Lagi pula uang di dompet saya cuma enam puluh ribu rupiah, satu uang sepuluh ribu, satu lagi uang lima puluh ribu. Udin juga menaruh dompetnya pada tempat yang sama di motornya. Tapi ada sesuatu yang tidak biasa, dompet Udin tampak lebih tebal.

“Din, kau lagi banyak duit, ya? Tebal banget?”

Dengan wajah datar—teman saya itu menunjukkan gumpalan kertas dalam dompetnya, ternyata itu berbagai macam bon dari beberapa kantin kampus. Benar kata pepatah: jangan melihat sesuatu dari luarnya saja.

Saya bertanya lagi, “Lalu untuk apa kau simpan? Kosong begitu!”

“Biar seandainya ada maling membuka dompetku, dia menyesal, lalu bertobat.”

Dulu pernah terpikir ingin rasanya ketika maling membuka dompet saya, kemudian ia menemukan secarik kertas bertuliskan: anda belum beruntung, coba lagi lain kali.

Setelah selesai bersiap, kami langsung joging tanpa pemanasan. Saya mengenakan baju kaos warna hitam, celana pendek, dan sepatu basket, tak lupa—menyisir rambut dengan rapi, karena siapa tahu ada gadis cantik tertarik. Sementara si Udin pakai kemeja, celana jeans, dan sepatu pantofel warna hitam mengkilat. Ini hal yang luar biasa, karena biasanya teman saya itu masuk kelas menggunakan sandal jepit, hebatnya lagi dia bisa mengelabui mata dosen. Tapi memang, joging dengan baju kemeja dan sepatu kerja—bukan keputusan bijak. Saya seperti berlari dengan seorang petugas tata usaha di kampus. Udin di belakang, saya di depan, mirip mahasiswa yang telat bayar uang kuliah dan dikejar-kejar.

Kami melewati sebuah bangunan berwarna kuning muda, cukup tinggi, di sampingnya ada sebuah jalan pintas menuju tempat parkir di mana saya dan udin menyimpan sepeda motor. Seorang pemuda, sepertinya umur anak sekolah menengah atas (SMA), sedang duduk di pinggiran bangunan memperhatikan kami. Jujur, saya curiga.

“Din, kau lihat itu? Anak berbaju biru itu! Aku curiga, jangan-jangan dia maling yang sedang mengintai,” kata saya, panik.

Udin melirik sedikit. “Ah, jangan berburuk sangka dengan orang lain, belum tentu!”

Benar juga kata si Udin, tak baik menuduh orang sembarangan, saya pun melupakannya. Tapi setelah dua putaran mengitari bundaran kampus, anak berbaju biru itu masih saja mengintai kami setiap kali melewatinya, namun saya memilih untuk tetap diam saja.

Saat masuk putaran ketiga, di depan jalan ada seorang perempuan, mengenakan baju warna merah muda, dari belakang tubuhnya seksi sekali. Udin pun bersiul, menggoda.

SUUIIITTT!

Wanita tersebut menoleh. Astaga! Dosen galak tempo hari ternyata, matanya menatap tajam ke arah kami. Si Udin berpura-pura bersiul memanggil burung di pohon-pohon, saya jadi burungnya, hinggap di batang pepohonan. Nasib baik, dosen wanita itu langsung pergi, mungkin dipikirnya saya dan Udin ini gila.

Hari semakin sore, kami memutuskan untuk pulang. Sampai di parkiran, tubuh saya langsung lemas, jok motor Udin dan saya sudah terbuka.

“Kita dirampok, Din!” Saya dudul di lantai, lemas.

Udin segera memeriksa dompetnya, lalu ia tertawa. “Apa kubilang, setelah ini maling itu akan bertobat! Kau lihat ini, dia mengambil semua bon hutangku di kantin! Dasar maling goblok!”

Saya berdiri, berjalan pelan menuju sepeda motor. Saat memeriksa dompet, uang saya sisa sepuluh ribu rupiah saja, uang lima puluh ribu diambil maling. Aneh memang, sepertinya maling itu paham—saya sedang kekurangan uang.

“Din,”—menunjukkan isi dompet—“dia menyisakan uang untuk beli bensin untukku.”

Udin tertawa bahagia, merasa beruntung.

***

Esoknya, pagi hari sekitar pukul delapan, saya sudah sampai di kampus. Trauma kehilangan uang membuat perasaan ini tak menentu. Apalagi Udin menertawakan saya sejadi-jadinya. Di sebuah lorong, saya bertemu pria gondrong keriting tersebut, dari jauh dia terlihat mirip jenglot yang sedang menempuh semester akhir.

“Wooii, Dicky! Semangat dooonk!” seru Udin, nada suaranya mengejek.

“Diam kau!”

Hahahahaha! Aku memang beruntung!”

Segerombolan mahasiswi tiba-tiba melewati kami, mereka senyum-senyum ke arah Udin. Teman saya itu langsung pasang gaya Ultraman yang sedang membasmi musuh, dia terlihat bangga.

“Kau lihat itu?” tanya Udin sambil tertawa. “Udin sang penakluk wanita!”

Saya diam saja, mengurungkan niat untuk mengubur Udin hidup-hidup. Sebelum sampai di kelas, kami melihat banyak orang berkerumun di depan majalah dinding kampus. Penasaran, saya langsung saja ikut dalam keramaian.

Aha! Seseorang telah menempel semua bon hutang Udin di majalan dinding yang tak kurang dari tiga puluh lembar! Sekarang Udin sudah terkenal. 

“Gara-gara dia, aku tak bisa berhutang lagi di kantin! Nama kita sudah tercemar!” seru Bento, kawan saya yang berat badannya hampir seratus kilogram.

“Betul! Betul! Aku juga! Aku juga!” Iwan tak kalah heboh, si anak rantau, baginya hutang adalah kehidupan sebelum uang kiriman di awal bulan.

Riko, lelaki bertubuh kurus serta berkacamata tebal itu segera menyadari keberadaan Udin yang jauh di belakang kerumunan. “Itu dia! Si Udin! Tangkaaaap!”

Uuuooooggghhh!” Semua kawan-kawan dari kelas saya berteriak bersamaan.

“Cepat tangkap dia! Sebelum kabur!” teriak saya, balas dendam.

Udin mencoba melarikan diri, ia kabur ke arah koridor khusus pengajar.

BRUUUAAAK!

Udin menabrak seseorang, ia terjatuh. Pasukan pengejar berhenti, saya masih teriak-teriak.

“Kamu lagi ternyata!” hardik orang yang ditabrak Udin

Udin terpaku, orang yang ditabraknya itu adalah dosen wanita yang menjadi korban salah goda. Bu Dina, begitu teman-teman memanggilnya, saya sendiri jarang melihat beliau di kampus ini, dan belum pernah mengikuti kelas yang diajarnya. Konon perempuan tersebut memang sangat galak dan senang memberi nilai rendah kepada mahasiswa yang nakal.

Bu Dina memandangi pasukan pengejar, mereka langsung bubar, pecah seperti cipratan air. Ketika matanya mengarah ke diri ini, saya langsung hinggap di pohon, pura-pura jadi burung ... lagi. 

---

Pontianak, 16 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.deviantart.com 

  • view 198

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    lho, jadi yang nyuri dan nempelin kertas bon itu siapa, Pak?

    • Lihat 7 Respon

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Wakakakak...
    asyik baca cerpen kak Dicky, selalu bisa bikin ketawa...