Fatwa Orang Tua

Fatwa Orang Tua

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 September 2016
Fatwa Orang Tua

Percaya atau tidak, cara orang tua menasihati kita—anaknya—berhubungan erat dengan rutinitas mereka sekarang, atau dahulu.

Bapak saya seorang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di bidang konstruksi jalan dan jembatan. Kata teman-teman beliau, dulu ia sangat garang dalam bekerja, tapi dalam keseharian di rumah tetap saja tidak berkutik kalau lawan ibu, hahahahahah!

Suatu kali saat libur kuliah, sekitar tahun 2007. Beliau mendatangi saya yang sedang bermain Playstation, duduk di samping. Saya cuek saja, mungkin bapak tertarik dengan permainan ini.

“Kamu itu ... jangan terlalu banyak main pletisen,” kata bapak, menepuk pundak saya.

“Playstation, Pak,” balas saya. Mata ini tetap tertuju di layar kaca.

“Coba kalau orang tua lagi bicara, berhenti dulu main itu.”

Saya segera menghentikan permainan sementara. Baru saya sadar, penampilan bapak sudah mirip ustaz di acara televisi, pakai baju koko, kopiah hitam, dan sarung cap gajah berlari.

“Ada apa, Pak?”

“Pernah berpikir tentang jalan hidupmu?”

“Belum, Pak. Saya masih kuliah, bukan?”

Bapak menarik nafas panjang, lalu membetulkan letak kopiahnya. “Jadi begini, sudah saatnya kau meniti jalan hidup. Harus berpikir! Jangan main terus!”

“Jadi ... saya harus bagaimana?”

“Begini ... ibarat jalan, aspalnya harus berkualitas, volumenya harus sesuai, begitu juga dengan panjangnya. Jika bahu jalan bagian kanan dan kiri rusak, harus segera digali ulang dan diisi dengan campuran yang tepat, tak boleh sembarangan,” jelas bapak panjang lebar.

Saya bengong, nafas tertahan. Kemudian bapak melanjutkan kalimatnya.

“Agar jalan hidupmu lancar, pastikan jalur yang telah kau buat tadi memiliki drainase, dibuat sedemikian rupa supaya air tidak menggenangi dan merusak aspal.”

Saya masih bengong, kali ini dengan mulut terbuka. Rasanya seperti sedang berada di seminar fakultas teknik sipil, padahal saya kuliah di fakultas ekonomi.

***

Rasa lapar menggiring saya ke dapur untuk memasak telur goreng. Dalam proses pembuatannya, ada kesalahan teknis yang membuat benda itu gosong, akhirnya bau tak sedap memenuhi dapur. Sebenarnya ... karena saya memasak sambil main telepon genggam, jadi tak konsentrasi.

Dapur adalah daerah kekuasaan ibu, karenanya beliau langsung mengecek apa yang terjadi.

“Bau apa ini?” tanya ibu, agak marah.

“Gosong, Bu. Telur goreng,” jawab saya.

Tanpa menghiraukan kata-kata saya, ibu langsung memeriksa keadaan kompor, gas, dan alat-alat masak lainnya. Ibu memang sangat teliti, maklum sebagai pensiunan PNS yang bekerja sebagai staff tata buku di sebuah instansi, ia diharuskan mewaspadai angka-angka yang mencurigakan, dan hal tersebut terbawa ke dunia nyata.

Setelah puas mengecek keadaan dapur, ibu mendatangi saya, bercekak pinggang. Saya mulai takut.

“Kau itu kalau masak yang benar! Masa begini saja gosong!”

Saya menunduk, tapi rambut saya tak ikut tunduk, karena anti angin, alias klimis stadium akhir. “Maap, Bu.”

“Kalau masak saja tidak bisa, bagaimana kau menjalani hidup? Hidup itu harus teliti, jangan sampai salah jalan!”

Saya mengangkat wajah. “Sekali salah saja, Bu. Tidak tiap hari.”

“Duduk!” Ibu menunjuk kursi berwarna merah di belakang saya.

Sekarang posisi ibu berdiri, saya duduk seperti narapidana.

“Hidup itu seperti lajur akuntansi! Harus seimbang! Kau tidak boleh meremehkannya!” Suara ibu membahana. Jilbabnya yang berwarna biru bergoyang diembus angin sore dari jendela. Saya berpikir, jangan-jangan setelah ini ibu mengeluarkan pedang katana dari balik punggungnya.

“Kalau salah sekali bagaimana, Bu?”

“Jika ada angka yang salah, harus diulang dari awal, dicari letak kesalahannya!”

“Kalau masih salah?”

“Dihapus angkanya, dan dibuat ulang!” Mata ibu tajam menatap saya. Kondisi seperti ini membuat saya rindu dengan almarhumah nenek saya di Kota Mempawah, beliau selalu membela, bahkan ibu tak berkutik kalau saya dibela nenek.

“Kalau tetap saja salah angkanya bagaimana, Bu?”

Ibu menjewer telinga saya. “Jika masih salah, kau pergi ke ustaz, minta di-ruqyah!”

---

Pontianak, 14 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.topmattressreviews.net