Kisah Sebungkus Mi

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 September 2016
Kisah Sebungkus Mi

Beberapa tahun lalu, di suatu sore, sebelum Iduladha, ibu memanggil saya ke dapur.

“Ada apa, Bu?”

“Ini,”—ibu menyerahkan sejumlah uang—“beli mi instan di warung depan ya!”

“Kenapa beli mi? Beli beras saja,” kata saya.

“Uangnya tidak cukup!” Ibu mulai sewot.

“Ya ... dicari uangnya, masa turun dari langit,” balas saya, tak tahu diri.

“Baik, sebentar ....” Ibu pergi meninggalkan dapur. Beberapa detik kemudian ia kembali lagi.

“Dapat, Bu?”

“Tidak,” jawabnya datar.

“Memangnya cari di mana?”

“Di kepingan masa lalu,” jawab ibu. Kepala saya langsung pusing. Tanpa banyak tanya lagi, saya beranjak dari dapur, tapi saya dikejutkan dengan orang asing di hadapan.

Saya pikir dia itu maling, namun wajahnya terlalu ganteng untuk jadi seorang maling, saat diperhatikan baik-baik—ternyata itu cermin, pantas saja tampan.

Keluar dari rumah menuju warung, saya melewati rumah Fanny, seorang pria tinggi besar berkulit putih, dia ini teman baik saya sejak sekolah dulu. Dari dalam kediamannya terdengar suara dia sedang berbicara tentang sesuatu.

Dunia politik di negara ini begitu keras! Kurang lebih begitu yang terdengar di telinga saya. Karena pagar rumahnya terlalu tinggi, saya harus mengintip untuk mengetahui dengan siapa ia sedang berbicara. Sudah berusaha, tapi pagarnya terlalu tinggi. Drako, anjing peliharaan Fanny memperhatikan pergerakan saya, kepalanya keluar dari celah-celah pagar bagian bawah. Drako, anjing kampung hitam itu tidak menyalak karena sudah kenal baik dengan saya, kami biasanya memang ngopi bersama kalau malam minggu.

Saya injak saja kepala Drako sebagai penambah ketinggian, sehingga pagar rumah Fanny bisa ditaklukkan. NGIIKKKK! Drako merintih.

Akhirnya ketahuan dengan siapa Fanny berbicara, seseorang yang mirip dengannya sedang berdiri di depan teman saya itu. Dilihat lagi dengan teliti, ternyata ia sedang bicara dengan cermin, saya bersyukur ternyata masih banyak orang gila di dunia ini.

Ada satu hal rahasia dari Fanny, dia memiliki sebuah meriam hujan yang ditembakkan setiap malam minggu ketika ia masih belum punya pacar. Jadi ketika malam minggu tiba, jalanan ramai, pria tersebut menembak langit dengan meriam, kemudian hujan, maka basahlah muda-mudi yang sedang makan bakso di pinggir jalan.

Setelah menikah, Fanny mengganti meriam itu dengan pengeras suara super jumbo, diarahkan langsung ke rumah saya. Kini setiap malam minggu—benda itu berbunyi nyaring. Wooooi, cepetan kawiiinn! Bunyi paling menyakitkan sedunia.

Saya melanjutkan perjalanan menuju warung, saat akan menyeberang jalan, kondisi sangat ramai, banyak mobil melaju. Kalau di Malaysia, tepatnya di Kota Kuching, jika ada seseorang atau sekelompok orang mau menyeberang, para pengendara berhenti dengan sukarela, mempersilakan pejalan kaki melintasi jalan. Di sini jangan coba-coba menyeberang jalan sembarangan kalau tidak tahu nomor telepon rumah sakit terdekat, saya pun sebelum melewati jalan itu sudah menghubungi rekan di sebuah klinik.

Bro, ambulans ada?” tanya saya kepada Riko, via telepon genggam.

“Ada, buat apa? Siapa sakit?”

“Untuk rasa sakit di kemudian hari, Bro!”

“Siap, laksanakan!”

Telepon ditutup. Saya juga berhasil menyeberang tanpa harus mengotori baju putih Riko yang jarang dicuci.

Di warung dengan mayoritas bahan bangunannya dari kayu itu, banyak sekali pilihan mi instan, saya bingung.

“Bang, mi instan yang enak mereknya apa, ya?” tanya saya kepada penjual.

Si abang penjual itu berhenti memainkan gadget-nya. “Mana ada mi instan enak, mau enak makan nasi padang!”

Benar juga kata-katanya. Saya kembali bertanya, “Kalau begitu mi instan rasa nasi padang yang mana, Bang?”

Kemudian saya diusir.

---

Iduladha, 12 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.foodnavigator-asia.com 

  • view 183