Apresiasi Puisi: Kau Kehilangan Aku, Karya Roki J

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 September 2016
Apresiasi Puisi: Kau Kehilangan Aku, Karya Roki J

Akhirnya ketemu juga dengan sesama orang Pontianak di Inspirasi(dot)co, namanya Roki J. Saya mencoba mengulas karya puisinya yang berjudul "Kau Kehilangan Aku".

Roki menulis puisi ini dalam satu bait yang terdiri dari dua puluh satu baris. Buat saya, tulisannya masuk dalam kategori "manis", mudah dicerna serta nikmat dibaca. Pemilihan kata teratur dan sesuai. Mantap, Bro

Uniknya, baris satu berhubungan dengan baris dua, baris tiga berhubungan dengan baris empat, begitu seterusnya kecuali pada baris ke-tiga belas.

Contoh, saya tulisan baris satu sampai empat: 

Tawa kehilangan 

Bahgianya

Tangis kehilangan

Sedunya 

Dapat dilihat kesamaan antar barisnya seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Namun saya tertarik dengan kata "bahgianya", mungkinkah sang penulis puisi menggunakan haknya menggunakan Licentia Poetica? Atau ini merupakan salah ketik?

Dalam bahasa melayu di negara Malaysia, jika saya tidak salah--kata "bahagia" memang ditulis "bahgia" (mohon koreksi jika saya salah), namun kita berada di Indonesia, bukan? Baik ... saya pribadi beranggapan Roki menggunakan Licentia Poetica, karena kata tersebut bunyinya kurang lebih sama dan tak terlalu banyak mengalami perubahan bentuk.

Esensi dari baris satu sampai terakhir tak beda jauh, mengenai kehilangan, namun saya pikir ada sesuatu yang hilang, yaitu: "Kehilangan karena apa?"

Satu-satunya petunjuk adalah baris ke-tiga belas yang berbunyi: "bila setiap rencana terlaksana!" 

Setelahnya mengulang lagi kehilangan-kehilangan yang kata-katanya dipilih dengan cermat oleh Roki. Ditutup dengan cantik pada baris dua puluh dan dua puluh satu:

Kau 

Kehilangan aku ... 

Kita pasti bertanya-tanya, "Mengapa 'bila setiap rencana terlaksana', namun bisa mengakibatkan 'kau kehilangan aku'?" 

Baik, saya rasa puisi ini terbagi jadi dua bagian. Baris satu sampai dua belas merupakan sebuah keadaan "sebelum", baris empat belas sampai terakhir adalah keadaan "sesudah", sementara baris ke-tiga belas menjadi sebuah interlude. Sayangnya masih samar apa penyebab dari kehilangan-kehilangan ini. Apakah Roki masih malu-malu mengungkapnya? Ya ... puisi memang sebuah misteri, setiap orang punya penafsiran berbeda, begitu pula penulisnya, punya cara sendiri untuk menyamarkan perasaannya.

Tanda elipsis (...) biasanya digunakan untuk memberi jeda, atau berhenti beberapa ketukan sebelum melanjutkan kalimat atau kata berikutanya. Pada baris terakhir, yaitu "kehilangan aku ..." Roki menggunakan tiga titik, sementara tidak ada kelanjutannya. Untuk ini, saya menyarankan agar Roki menulisnya dengan empat titik (....), menandakan berakhirnya kalimat, tapi semuanya kembali kepada sang penulis, pendapat saya ini hanya sebatas saran.

Kesimpulan saya terhadap puisi ini adalah tentang suatu kejadian yang akan memisahkan sepasang anak manusia yang saling mencintai. Bisa jadi ditinggal menikah (ngenes banget), atau pergi jauh untuk melanjutkan pendidikan, dan sejenisnya. Tema sederhana yang biasa terjadi di setiap kisah cinta manusia. Roki mengangkatnya menjadi sebuah puisi yang "manis" meskipun masih samar. Nilai dari saya: 75/100. 

Semoga saya dan Roki bisa segera bertemu, agar bisa berbagi ide untuk berpartisipasi di dunia sastra Kota Pontianak. Maju terus, Roki!

---

Pontianak, 12 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: Inspirasi.co 

  • view 220

  • roki j
    roki j
    1 tahun yang lalu.
    wahh! saya kehilangan kata-kata bung @Dicky dan thank you sarannye, licentia poetica -benar sekali. Untuk apresiasi bung @Dicky 85/100 .... good yoshh