Anak Yatim dan Orang yang Kurang Beruntung Sudah Makan?

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 09 September 2016
Anak Yatim dan Orang yang Kurang Beruntung Sudah Makan?

Sebagai seorang muslim, saya merayakan Iduladha dengan suka cita, senang sekali rasanya bisa berbagi dengan keluarga dan rekan, sekaligus mempererat tali silaturahmi. 

"Mas Dicky ... itu tulisannya 'Iduladha'? Bukannya 'Idul Adha'?" 

Sebelum meneruskan, saya jawab dulu pertanyaan di atas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulisan yang benar adalah "Iduladha", bukan "Idul Adha". Silakan periksa sendiri kalau tak percaya.

Baik, saya lanjutkan. Kalau ada orang berusaha memaknai Iduladha di hari "H", menurut saya--maka ia belum memaknai arti yang sebenarnya, karena tentu saja tidak melulu seputar sejarah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan kurban. Tapi tetap saja, hal tersebut adalah satu cara untuk memaknainya, tidak bisa dilepas asal muasal peringatan itu.

Sebelum diteruskan, untuk diketahui bahwa saya bukan ahli agama, hanya seorang biasa yang salatnya masih bolong-bolong.

Maksud saya begini ... apa yang membuktikan kita beragama dengan baik? Ini pertanyaan yang saya ajukan kepada diri sendiri, berulang-ulang. Akhirnya pencerahan itu berupa bahwa setiap orang beragama dilihat dari sikapnya terhadap orang lain, dan alam beserta isinya.

Sebagai muslim, salat dan ibadah lainnya sudah jelas-jelas penting, namun ketika hal-hal itu telah dilakukan--dalam pikiran saya adalah perbaikan sikap. Percuma beribadah kalau setiap hari masih merendahkan orang, tidak peduli dengan orang kelaparan, dan sebagainya.

Mengenai Iduladha, pertanyaan bagi diri saya sendiri dan orang lain adalah: "Kapan terakhir kali kita memberi makan orang yang kelaparan? Kapan terakhir kali kita berbagi dengan orang yang tak mampu? Kapan terakhir kali kita memberi sedikit kesenangan bagi anak yatim?" 

Seandainya jawabannya adalah: "Iduladha tahun kemarin!" Maka ini bukanlah memaknai hari raya tersebut. Ya ... saya sendiri rasanya sudah lama tak berbagi, selama ini cuma peduli dengan urusan perut sendiri. Semoga Tuhan mengampuni kesalahan dan memberi hikmah kepada saya.

Contoh, ada pesta pernikahan yang besar, sedang, dan kecil. Mungkin bagi yang sudah menikah lebih tahu (saya belum menikah, doakan yaaa!). Berapa banyak dari pasangan yang menyelenggarakan pernikahan tersebut juga membagikan makanan kepada orang yang tidak mampu, atau anak yatim? Atau mereka cuma memberi makan orang-orang mampu yang datang ke pesta dengan menggunakan mobil di parkiran khusus? Saya tak punya data, tak berani jawab, tapi semoga masih ada orang-orang yang berhati mulia membagikan sedikit rezekinya kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Contoh lain, misalnya ada selamatan di komplek rumah, satu Rukun Tetangga (RT) mungkin, diundang semua. Berapakah anak yatim yang juga mereka beri makan? Dulu saya pernah menyelenggarakan hal tersebut, dan tak satu pun anak yatim terlintas di kepala, luar biasa bajingan diri ini! 

Singkat kata, bagi yang punya rezeki lebih. Siapakah orang golongan kurang beruntung di sekitar rumah yang belum Anda bantu?

--- 

Pontianak, 9 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: hasnainworld.com 

  • view 238