Tanggapan Tentang Tulisan Ahmad Taufik: Tak Ada yang Tersisa dariku

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Renungan
dipublikasikan 09 September 2016
Tanggapan Tentang Tulisan Ahmad Taufik: Tak Ada yang Tersisa dariku

Saat membaca tulisan Ahmad Taufik di Inspirasi(dot)co, berjudul "Tak Ada yang Tersisa dariku", saya merasa kembali ke beberapa bulan lalu, ketika orang-orang sok tahu bertanya, "Kapan menikah? Apa alasannya belum menikah?" Tipe manusia seperti ini bukan berarti mereka peduli, melainkan mencari bahan gosip, percayalah! 

Ketika tanggal 3 September 2016, alhamdulillah ... saya melamar pujaan hati, manusia-manusia yang kemarin bertanya itu seperti pura-pura tak tahu, alih-alih membantu. Saya yakin, ketika nanti resepsi, mereka adalah kumpulan orang yang pertama kali kabur jika dimintai pertolongan. Lihat ... kalau bertanya nomor satu, urusan "menolong" mereka lari! 

Mengenai tulisan Bang Ahmad, saya tak akan mengulas perkara gramatikal, kesalahan ketik, dan sejenisnya. Saya fokus pada isi dan perasaan di dalamnya. Mengapa? Karena pengalaman yang dialami kurang lebih sama meskipun tak identik. 

Lebaran kemarin, pertanyaan "Kapan menikah?" itu sudah seperti kue kebanyakan mentega, membuat leher seret, serius! Karena kebanyakan orang menjadikan hal tersebut bahan ejekan, bukan solusi sama sekali. Biasanya yang paling ribut itu tetangga dan teman-teman yang bukan teman dekat, mereka tidak mengerti seperti apa kesulitan, tak paham letak masalah, dan kebanyakan kita tak bisa menceritakannya, karena terlalu panjang, kalau dibuat buku mungkin bisa jadi novel. Rasanya tidak penting harus menceritakan hal-hal pribadi kepada orang-orang yang tak tahu siapa diri kita! Setuju?

Nah ... tulisan Bang Ahmad benar-benar menyentuh hati saya, di dalamnya terasa sekali sebuah tekanan--entah dari siapa. Pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada si penanya urusan dompet orang itu adalah: "Kalau saya nikah besok, apa Anda mau bantu beri uang tiga puluh juta untuk sewa ini itu?" Pertanyaan ini pernah diajukan kepada seorang teman yang "sok peduli", alhasil dia cuma tertawa tak jelas. Ini membuktikan, kesulitan kita dijadikan guyonan bagi orang lain! Keringat dan air mata diinjak-injak oleh orang-orang yang cuma peduli dengan urusan perutnya sendiri! Tak sudi! 

Pada paragraf kedua di tulisan Bang Ahmad, saya menebak adanya suatu keadaan pada dirinya yang bisa membuat seorang wanita "mundur" teratur. Apakah itu? Sepertinya terjawab di paragraf empat, mengenai adanya kebutuhan ekonomi yang memang menjadi kendala. Fakta, seorang laki-laki inilah kesulitannya, tak bisa dipungkiri, kecuali tugas Anda cuma lahir di dunia, alias anak orang kaya yang tiap hari selfie dalam mobil. 

Sementara para manusia bangsat tidak tahu letak masalahnya, mereka terus saja mempertanyakan kesungguhan kita agar cepat menikah, inilah, itulah, dan lain-lain. Mengenai hal tersebut saya pernah menulisnya di "Ketika 'Melamar' Menjadi Ukuran Keberanian yang Tanpa Alasan"

Sebagai sesama pria, saya tak akan mengatakan, "Jangan menyerah, Bang Ahmad!" atau "Harus optimis, Bang!" Itu semuanya omong kosong! Saya hanya akan mendoakan, "Semoga Bang Ahmad dirahmati oleh Allah, dan dimudahkan semua urusannya, aaammmiinn!" 

Itu saja.

--- 

Pontianak, 9 September 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: Inspirasi.co 

  • view 183

  • Nazlah Hasni
    Nazlah Hasni
    11 bulan yang lalu.
    ikut mengamini....
    amin amin amin

  • agus geisha
    agus geisha
    11 bulan yang lalu.
    Laki-laki.
    Saya berangkat ke dunia pernikahan lewat pintu pertanyaan "Sudah menikah? Kenapa?" dari seseorang yang tidak saya kenal. Seorang tamu di toko tempat saya kerja.

    Saya heran dengan uang tiga puluh juta.

    • Lihat 1 Respon

  • ahmad taufik
    ahmad taufik
    11 bulan yang lalu.
    Terima kasih doa nya.