Virgin

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 September 2016
Virgin

Suara ribut senjata api keluar dari televisi merek lama, berwarna coklat tua. Sebenarnya benda tersebut berwarna coklat muda, namun waktu telah menelannya sejak tahun 1987. Meski begitu, layarnya masih jernih, tidak jauh beda dengan televisi zaman sekarang.

Roni menutup matanya dengan bantal ketika adegan pembunuhan terjadi, di sampingnya—Riko tetap serius memperhatikan monitor kaca di depan mereka.

Lampu ruangan cukup terang, terbukti kepala Roni yang plontos memantulkan cahaya dari segala arah, ia benar-benar mirip lampu taman. Riko harus memicingkan mata kalau harus berbicara dengan temannya itu.

“Ko, film ini mengerikan,” kata Roni.

“Hm,”—Riko mengikat rambutnya yang panjang sebahu—“biasa saja menurutku.”

“Dasar kau, pria psikopat!” ejek Roni.

“Dasar kau spanduk lamongan!” balas Riko.

Tontonan mereka berubah dari adegan pembunuhan ke adegan yang penuh wanita seksi. Roni langsung membuang jauh-jauh bantal di tangannya, benda tersebut mengenai kucing peliharaan Roni yang kebetulan melintas.

NGEEEOONNGG!

“Pergi kau!” hardik Roni sambil berdiri. Kepalanya semakin memantulkan cahaya lampu putih. Riko merasa sedang berada di padang pasir tanpa perlindungan. Kucing malang itu lari terbirit-birit, diusir tuannya.

Roni Kembali duduk, ia juga membetulkan letak celananya yang terlalu longgar, diet hanya makan singkong selama satu bulan cukup sukses. Kepala plontos, tak pakai baju, celana longgar, jika diperhatikan benar-benar Roni lebih mirip tuyul dewasa daripada lampu taman.

“Mengganggu saja!” kata Roni.

“Sudahlah, namanya juga kucing, mana dia tahu kalau orang lagi nonton,” jelas Riko, kini ia telah berbaring di samping Roni.

“Tapi kalau aku bawa ikan, dia pasti tahu, aneh.”

“Sudah kubilang ... karena dia itu kucing!” kata Riko agak risau.

Mata dua sekawan itu kembali tertuju ke layar kaca, Roni menikmati tayangan yang penuh gadis-gadis seksi, sementara Riko malu-malu, ia sesekali mengalihkan pandangan ke telepon genggam, dan memainkannya.

“Ko ....” panggil Roni.

“Hm,” jawab Riko tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke televisi. Lelaki kurus ini memang terkenal sangat fokus dan tenang saat berada di kampus atau ketika sedang melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi.

“Aku penasaran apakah perempuan-perempuan di tayangan itu sudah tidak perawan semua?”

“Goblok! Ini film perang, dan satu-satunya hal yang kau pikirkan hanya itu? Dasar gila!” Riko membalik tubuhnya ke arah lain, malas meladeni Roni, tapi matanya tak berubah arah.

Roni diam sebentar, seperti memikirkan sesuatu.

“Kau pikir aku bodoh? Aku punya banyak kritik terhadap film ini, tak hanya apakah mereka sudah tidak perawan!” Suara Roni lantang, percaya diri.

“Jadi apa lagi dalam pikiranmu?”

“Begini ... kira-kira kapan wanita-wanita itu kehilangan keperawanannya?”

Riko langsung pura-pura pingsan.

---

Pontianak, 8 September 2016

Dicky Armando

Sumber foto: matthewhance.com 

  • view 171

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Itu kepala Roni dipoles pake apa pak? Kok bisa mantulin cahaya, hahaha...

    • Lihat 2 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    menurut pak Dicky, kira-kira sejak kapan?

    • Lihat 7 Respon