Kopi Bandar

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Puisi
dipublikasikan 07 September 2016
Kopi Bandar

Kami mengumpulkan huruf-huruf

di tengah meja,

kemudian membakarnya.

 

Aku menuangkan kata-kata

dalam secangkir kopi,

lalu meminumnya bersama-sama.

 

Dia, aku, dan kamu

mabuk aksara,

biarlah hati bicara

dengan kalimat bermacam rupa.

 

Akhirnya puisi singgah

dan tak mau pergi.

Kepalaku tumpah,

gila sampai pagi.

--- 

Kopi Bandar, 7 September 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: www.garnesia.com