Apresiasi Puisi: Flamboyan, Karya Jimmy S. Mudya

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 06 September 2016
Apresiasi Puisi: Flamboyan, Karya Jimmy S. Mudya

Kali ini saya ingin mengulas karya puisi dari rekan saya di dunia nyata dan maya: Jimmy S. Mudya. Dia belum menjadi bagian Inspirasi(dot)co, tapi semoga ia segera bergabung di sini.

Karyanya berjudul "Flamboyan". Bagi orang-orang yang sudah lama berdomisili di Kota Pontianak--pasti tidak asing dengan nama itu--sebuah pasar besar. Namun ketika malam tiba, beberapa oknum menjadikan beberapa titik dari tempat tersebut untuk jual beli nafsu. 

Suatu kali, saya pun pernah melihat kejadian seperti yang dijelaskan di atas, pukul satu malam, perempuan pakai baju seksi, berdiri seperti menunggu sesuatu, tatapannya "ganas". Kira-kira apa yang sedang ia perbuat? Ah .., mungkin pikiran saya terlalu jauh, bisa saja orang tersebut sedang menunggu jemputan. Siapa yang jemput? Hmm ... sudahlah.

Sekali lagi saya tegaskan, Pasar Flamboyan adalah sebuah tempat terhormat di mana orang-orang bertransaksi dengan halal, bukan tempat prostitusi! Adapun seandainya terlihat di sana ada "kupu-kupu malam", maka itu adalah ulah oknum, saya ulangi ... oknum

Sejak bait pertama, Bung Jimmy dengan apik menggambarkan keadaan suatu tempat ... ya tempat ia berdiri secara langsung. Kalau saya tak salah, beliau ini merupakan tipe penyair yang gemar melakukan riset, tak akan membuat puisi tanpa fakta di matanya. Kita simak bait pertama: 

aduhai, bangkit gairahku sebagai lelaki
ketika aku berdiri di tengah taman kembang
berteman riang rembulan di ubun ubun 

Bait ini menyiratkan naluri "pria" yang mulai bangkit dari si "aku" dalam puisi. Fokus pada kalimat "taman kembang", maka kita segera mengetahui bahwa ada lebih dari satu "kupu-kupu malam" di tempat itu. Latarnya malam hari, tersirat dari kalimat: "berteman riang rembulan di ubun ubun". Mungkin kala itu sedang purnama.

Kata-kata di bait satu sederhana namun penuh makna, puisi seperti ini punya kelas tersendiri daripada puisi dengan "bahasa dewa" tapi tak berkesinambungan di setiap barisnya. 

Fungsi visual digunakan secara maksimal digunakan oleh si penulis puisi dalam rangka menciptakan kesan dan pesan yang mendalam bagi siapa saja yang membacanya. Saya rasa, ini memang ciri khas dari Bang Jimmy. 

Sekarang kita simak bait kedua: 

aduhai, para kembang malam
dengan segala belahan yang merindingkan ariku
di sana, di antara barisan pic up sayur mayur
mengantarkan secangkir madu hangat 

Saya menduga--Bang Jimmy menyamarkan karakter pekerja seks komersial dengan ungkapan "kembang malam".  Metafora yang tepat selain "kupu-kupu malam", nice shoot!

Baris kedua dari bait kedua: "dengan segala belahan yang merindingkan ariku". Kata "belahan", tentu saja ... baju seksi, bukan?

Kalimat "merindingkan ariku" di sini, jika berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "ari"--mempunyai arti: 

  • Kulit selaput tipis.
  • Kulit luar (pada tumbuhan, buah, biji, kacang-kacangan, dan sebagainya. 

Fakta, laki-laki mana pun melihat kemolekan tubuh wanita pasti "merinding", dan tak hanya kulitnya. 

Pada baris ketiga di bait kedua, sekali lagi penulis puisi menggunakan penglihatan matanya dengan baik dalam rangka menyampaikan fakta kepada para pembaca.  Coba perhatikan: "di sana, di antara barisan pic up sayur mayur".  Saya pikir saat itu para "kembang malam" sedang bersembunyi di balik mobil-mobil pengantar sayuran yang sedang beraktifitas. 

Saya rasa kalimat "pic up" ini berasal dari bahasa inggris, yaitu pick up. Sebuah mobil dengan wadah atau bak di belakangnya, kami--orang Pontianak biasa menyebutnya "pekap", huruf "e"-nya dilafalkan sama dengan penyebutan "e" di kata "enak", pelesetan dari kata yang sebenarnya. 

Di kalimat tersebut pun menyiratkan gejala sosial yang ada di masyarakat, mungkin tak hanya di Kota Pontianak, hidup semakin keras. Bayangkan di tengah malam, ketika para pedagang sedang loading barang dari mobil, ternyata "kembang-kembang malam" tak kalah sibuk berjualan. Sekali lagi saya tegaskan, ini adalah ulah oknum.

Baris empat di baik kedua: "mengantarkan secangkir madu hangat".  Lagi-lagi fungsi visual bermain dengan baik, namun disamarkan, kalimat tersebut punya arti "sedang merayu" atau "menggoda". Permainan kata-kata sederhana yang mudah dicerna, mungkin seperti itulah seharusnya puisi. Anda setuju? 

Saya tuliskan bait terakhir: 

aduhai.....
bolehkah aku menjadi kumbang malam ini
walau hanya sekadar menyentuhnya sejenak 

Si "aku" dalam puisi berharap bisa menuntaskan hasratnya, cuma harapan, gombalan semata. Tersirat dalam kalimat: "bolehkah aku menjadi kumbang malam ini". 

Apakah benar si "aku" hanya menggombal? Siapa tahu ingin "eksekusi"?

Tidak ... lihat baris terakhir: "walau hanya sekadar menyentuhnya sejenak". Sebenarnya sang pengarang puisi ingin menuliskan ironi, atau mungkin sindiran, entah kepada si "kembang malam" atau kepada "ketidakpedulian" masyarakat. 

Puisi ini adalah potret, seharusnya menyadarkan siapa pun yang membacanya agar tergerak, dan segera beraksi untuk keadilan semua masyarakat. Keadilan untuk mendapatkan kesejahteraan, pendidikan, dan lain-lain. Puisi ini sebenarnya jauh lebih luas daripada kelihatannya. Pengamatan yang luar biasa, Bang Jimmy! 

--- 

Pontianak, 6 September 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: Facebook.com 


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    weww
    kok belum ada nilainya Pak? hehe
    ini dimasukin kategori Kesusastraan kayaknya lebih baik

    • Lihat 2 Respon