Apresiasi Puisi: Labirin Amorf, Karya Agus Geisha

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 06 September 2016
Apresiasi Puisi: Labirin Amorf, Karya Agus Geisha

Saya menemukan suatu puisi karya Bang Agus Geisha di Inspirasi(dot)co, dalam postingan itu--lebih tepatnya kumpulan Sajak-Sajak Lama. Paling akhir ada sebuah sajak berjudul "Labirin Amorf", dari judulnya terasa asing, dan saya sangat suka dengan tipe judul seperti ini.

Membaca puisi ini harus berulangkali agar bisa di-interpretasikan sesuai imaji masing-masing pembaca, apalagi yang bukan berlatar belakang science atau pekerjaan teknik.

Dari judulnya, saya mengulasnya per kata terlebih dahulu. Labirin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah:

  • Tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur.
  • Sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit (tentang susunan, aturan, dan sebagainya).
  • Sistem rongga atau saluran yang berhubungan. 

Kemudian, "amorf" menurut KBBI adalah: 

  • Tidak punya bentuk atau tidak jelas bentuknya.
  • Tidak  mempunyai bentuk geometri tertentu
  • Tidak memiliki susuan atom (tentan bahan mineral).

Awalnya saya menafsirkan "Labirin Amorf" sebagai sebuah jalan berliku yang tak berbentuk, karena sudah tertanam dalam pikirian bahwa definisi "labirin" itu cuma satu, yaitu jalan yang banyak belok-beloknya. Tapi, setelah membacanya berulang kali, ternyata ada penafsiran lain, saya mengartikannya sebagai saluran tanpa bentuk. Sesuai dengan definisi KBBI ke-tiga mengenai kata "labirin", dan definisi pertama dari kata "amorf". Ini dapat dilihat pada baris satu dan dua di puisi tersebut: 

kita berada di kalandria 

kau di pipa, aku di bejana 

Kalandria merupakan sebuah istilah untuk sebuah silinder "Shell and Tube" yang diletakkan secara horisontal, di dalamnya terdapat pipa pipa tekan dan batang kendali. Kalandria terdiri dari tangki yang diisi dengan air berat sebagai moderator neutron, di dalamnya terdapat pipa tekan dalam jumlah besar yang disusun berbentuk kisi bujur sangkar. 

Saya tidak terlalu paham dengan arti dari kalandria, jujur ... pusing! Tapi ini yang membuat puisi ini semakin berkelas, tidak bisa "sembarangan" dalam membacanya. Dari pernyataan di atas itulah, akhirnya saya mendefinsikan "Labirin Amorf" sebagai saluran tanpa bentuk

Sekilas kalau dibaca baris satu dan dua, akan tidak berkesinambungan dengan baris tiga, saya tuliskan lengkapnya: 

kita berada di kalandria

kau di pipa, aku di bejana 

meski dalam satu wadah, tak ada turbulensi antara kita 

Coba perhatikan kalimat "kau di pipa" dan "aku di bejana". Ini menandakan mereka berada dalam tempat yang berbeda, bukan?

Periksa kalimat di baris tiga: "meski dalam satu wadah, tak ada turbulensi antara kita". 

Mengapa si penulis saja mengatakan "satu wadah" padahal baris sebelumnya menyatakan mereka berbeda tempat? Saya berpikir ulang, mengecek kembali definisi "bejana".

Bejana menurut KBBI adalah: 

  • Benda berongga yang dapat diisi dengan cairan atau serbuk dan digunakan sebagai wadah, bak (tempat air), tabung, jambang. 

Kembali pada definisi "labirin" yang juga berongga, dan dalam hal ini kalandria merupakan pipa, maka berarti sesuatu mengalir di dalamnya dan masuk ke dalam bejana, akhirnya mereka jadi satu. Saya pikir ini alasan penulisnya menyebutkan "satu wadah". 

Baris ke-empat: "kau tetap di pipa, aku tetap di bejana". Merupakan pengulangan yang mengantarkan pembaca untuk memahami "energi" berikutnya di sajak ini.

Baris ke-lima: "darab rasaku dan rasaku hasilnya nol". Pada baris ini memperlihatkan suatu rasa yang tak terbalaskan, dugaan saya ini tentang cinta.  Kata "darab" menurut KBBI adalah pukulan keras. Maka sesuailah penafsiran bahwa rasa cinta seseorang di puisi ini hasilnya nol atau tidak berhasil. 

baris ke-enam: "karena dipikirmu tak ada aku". Merupakan kesinambungan dari baris lima dan mempertegas pupusnya harapan, cinta yang sia-sia.  

Baris ke-tujuh: "kau memiliki valensi terlalu tinggi".  Baris ke-delapan: "dan lajuku terlalu pelan untuk mensejajarkannya"

Valensi menurut KBBI adalah:

  • Pangkat, derajat. 
  • Tenaga gabungan reaksi atau interaksi.
  • Bilangan yang menyatakan kesanggupan bersenyawa suatu unsur dengan unsur lain.
  • Derajat penarikan hati perseorangan . 
  • Hubungan sintaksis antara verba  dan unsur  di sekitarnya mencakupi ketransitifan dan penguasaan verba atas argumen di sekitarnya.  

Dari definisi mana pun, dapat ditarik kesimpulan bahwa si "aku" dalam puisi ini merasa tak pantas dan tak bisa bersanding dengan sang pujaan hati. Persis dengan baris selanjutnya (baris ke-sembilan): "gerakmu di pipa terlalu tenang, betul-betul membuat mustahil kita bersenyawa". Sangat sesuai dengan definisi "valensi" di baris sebelumnya. Penafsiran lainnya mengenai baris ke-sembilan adalah kalimat "gerakmu di pipa terlalu tenang" menunjukkan bahwa tak ada tanggapan atau reaksi sedikit pun dari seseorang yang dicintainya, atau sang pujaan hati tak mengetahui sama sekali. 

Saya tuliskan beberapa baris terakhir: 

harus kau tahu tak ada mitosis, tak ada kembaranmu, yang sepertimu

aku tunggu masa karantinamu selesai

dari dulu , sampai kini, mungkin sampai mati

harus aku akui, kau adalah pionir, adalah arsitek, adalah pelopor, adalah pertama, yang mampu mebuatku menjadi anomalian.

Keterangan: semua baris puisi di sini saya salin ulang tanpa mengedit, apa adanya.  

Baris ke-sepuluh sampai tiga belas secara umum merupakan pujian dari si "aku" terhadap si "target". Banyak menggunakan majas asosiasi seperti kalimat "harus kau tahu tak ada mitosis", atau "kau adalah pionir". 

Pada baris terakhir mungkin si penulis sajak lupa menambahkan huruf "m" pada kata "mebuatku". Kemudian kata "anomalian" tidak saya temukan di KBBI, kemungkinan ini istilah tertentu dari suatu bidang kerja. Adapun kata yang ada di KBBI adalah "anomali" yang berarti: 

  • Ketidaknormalan, penyimpangan. 
  • Penyimpangan dari sudut gramatikal atau semantis suatu bahasa. 
  • penyimpangan sifat fisik. 

Maka baris terakhir ini si "aku" menyatakan bahwa si "target" telah membuatnya gila bukan main. Kegilaan ini diutarakannya ketika kata "pelopor" dan "pionir" ini diulang padahal merupakan sinonim, atau bisa jadi sebuah pujian teramat dalam.

Bagi pembaca, puisi ini harus "diselami" jauh lebih dalam karena penulisnya telah berusaha menyamarkan maksud hati pada simbol-simbol. Secara pribadi saya merasa puisi ini sangat keren! Nilainya 85/100. Maju terus Bang Agus Geisha

--- 

Pontianak, 6 September 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: Inspirasi.co 

Sumber bacaan: 

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia
  • "Reaktor Air Berat Kanada (CANDU)".  n. p. Web. 6 September 2016. http://www.batan.go.id 


  • Harmawati 
    Harmawati 
    1 tahun yang lalu.
    Kerennn. Ini kayak ngasi kuliah. Kuliah puisi. Sukaa. Mksh ilmunya

    • Lihat 2 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    saya gemeteran baca ini.
    bukan rekayasa.

    terma kasih mas dicky.

    mungkin ini puisi yang paling rumit yang pernah saya tulis. mungkin tidak selesai satu hari.

    saya tulis ketika SMA.
    setahun yang lalu.

    • Lihat 5 Respon