Penggiat Sastra di Kota Pontianak

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Tokoh
dipublikasikan 02 September 2016
Penggiat Sastra di Kota Pontianak

Kemarin malam, secara tidak sengaja--saya bertemu kawan-kawan sesama pecinta sastra, berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Pontianak, tepatnya di warung kopi "Bandar Klasik". 

Warung kopi "Bandar Klasik" ini dihuni oleh bermacam-macam seniman dari berbagai aliran, sebut saja pembuat film, penulis, penyair, pemusik, dan lain-lain. Saya senang sekali bisa kenal dengan orang-orang hebat seperti mereka. Sang pemilik tempat--Bang Hatta--kalau tidak salah adalah seorang sutradara film-film pendek. Saya mendoakan agar rezeki Bang Hatta selalu lancar karena telah memberi kemudahan kepada para pecinta sastra untuk berkarya di tempatnya. Aaaammiinnn.

Bang Hatta, pemilik Warung Kopi Bandar Klasik, Jalan Dr. Sutomo, Pontianak.

Sumber foto: akun Facebook Bang Hatta. 

Ada dua komunitas pecinta sastra di tempat tersebut, yaitu: KOMPAS dan GENGSASTRA. Saya sendiri tergabung di GENGSASTRA, pentolan-nya bernama Amai, seorang gadis mungil berkerudung, kadang berkacamata, dan seorang muslim konservatif. Ia juga telah menelurkan sebuah buku novel yang berjudul "Bunglon", maaf ya, Mai kalau salah sebut, hehehehe.

Sejak pertama kali mengenalnya, ia mengingatkan kembali pada semangat sastra yang pernah hilang dari diri saya, karenanya saya tertarik untuk bergabung di GENGSASTRA. Perempuan bermata agak bulat itu pernah bercerita bahwa ternyata sulit untuk menggerakkan anggota lain agar benar-benar bisa berpartisipasi di wadah yang dibuatnya tersebut. Hmm ... saya jadi malu sendiri, karena belum banyak berkontribusi. Kadang-kadang ketika Amai mengirim pesan singkat bahwa ia perlu bantuan, belum tentu saya bisa memenuhinya, karena ada kegiatan lain. Tapi ... sepertinya Amai tidak menyerah untuk memajukan komunitas ini, luar biasa! 

Penampakan Amai "Bunglon".

Sumber foto: Akun Facebook Amai. 

Mengenai KOMPAS, pentolan-nya bernama Bang Jimmy, berambut gondrong sebahu, biasanya tidak disisir, dan semalam ia memakai topi yang biasa digunakan Glen Fredly kalau sedang menyanyi di panggung. Pertama kali saya bertemu beliau ini di suatu acara pembacaan puisi, masih di Warung Kopi Bandar Klasik. Tadi malam, matanya berbinar-binar ketika membicarakan tentang sastra, ada api membara yang masih belum padam di dalamnya. Seandainya pemerintah Kota Pontianak mengadakan ajang penghargaan bagi sastrawan muda, maka Bang Jimmy ini layak jadi nominator. Ketika saya mencoba menyampaikan pendapat padanya, ia membuka diri dan mendengarkan dengan baik, ini ciri-ciri calon pemimpin, semoga dugaan tersebut tidak salah.  Bang Jimmy sepertinya banyak menimba ilmu dari sastrawan senior Kalimantan Barat: Bang Pradono.

Menarik ketika mengetahui bahwa Amai dan Bang Jimmy bukanlah orang asli Kalimantan Barat, tapi mereka begitu mencintai dan peduli tentang perkembangan sastra di Kota Pontianak. Saya berharap suatu hari nanti Amai dan Bang Jimmy bisa bersatu padu dalam menebarkan cinta sastra di kota yang sangat saya cintai ini. 

Penampakan Bang Jimmy.

Sumber foto: akun Facebook Bang Jimmy.

Tentunya, kami semua--tak hanya Bang Jimmy--pernah bertukar pikiran dengan Bang Pradono, sastrawan yang telah saya sebutkan di atas. Kalau datang ke Warung Kopi "Bandar Klasik" lihat saja seorang pria dengan kumis paling tebal, itulah beliau. Gosipnya sekarang Bang Pradono sedang merampungkan sebuah buku kumpulan puisi. Semoga sukses, Bang Don! 

Penampakan Bang Pradono

Sumber foto: Facebook.com 

Setiap acara pembacaan puisi, pemuda ini pasti muncul, namanya Ivo. Lelaki yang berprestasi di bidang olahraga tenis meja ini selalu berdeklamasi setiap ada kesempatan. Ivo juga tampaknya mahir memainkan seruling, beberapa kali saya mendengarkan tiupannya yang merdu. 

Kalau pulang malam, biasanya Amai minta antar pulang dengan Ivo, mereka mesra sekali kalau naik motor berdua ... cihuuuyyy ... suiit suiiittt

Penampakan Ivo

Sumber foto: Akun Facebook Ivo.

Bersama Ivo, ada juga seorang pria--mahir memainkan gitar--setidaknya begitu yang tampak semalam di mata saya. Terkadang ia mengiringi teman-temannya yang membaca puisi dengan alunan petikan dawai-dawai asmara yang begitu bersemangat. Saya tidak terlalu mengenalnya, kalau tak salah, namanya Yudhie. 

Penampakan Yudhie.

Sumber foto: akun Facebook Yudhie.

Ada satu orang lagi yang saya temui semalam. Orang-orang memanggilnya; Pay. Kata si Amai, beliau ini mahir di bidang Stand Up Comedy, dan di suatu kesempatan--saya pernah mendengarkannya membaca puisi. Pendapat saya tentang caranya membaca puisi adalah artikulasinya jelas dan jernih, mungkin karena sudah terbiasa bermain di ranah Stand Up Comedy yang mengharuskan pendegarnya paham apa yang dikatakan. 

Penampakan Pay.

Sumber foto: akun Facebook Pay.

Ini adalah harapan saya pribadi, bahwa suatu hari nanti, mereka akan berada di satu "bendera" (termasuk saya) untuk mengembangkan sastra di Kota Pontianak, lebih luas lagi Kalimantan Barat. Semoga .... 

---

Pontianak, 2 September 2016

Hormat saya,

 

Dicky Armando, S.E. 

  • view 303