Memilih Kata-Kata untuk Hati

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Agustus 2016
Memilih Kata-Kata untuk Hati

Saya selalu percaya bahwa manusia cenderung mengikuti apa yang dirasakannya. Tentang hati, kurang lebih seperti itu.

Kata-kata adalah sumber bagaimana perasaan berfungsi. Memang, beberapa orang akan tidak peduli tentang perkataan, tapi bagaimana dengan sebagian lainnya? Secuek apapun seseorang, tapi ia tak akan bisa berpaling dari nuraninya.

Contoh, suatu kali saya mendatangi seorang teman yang sedang menimba ilmu di sebuah tempat pelatihan teknisi komputer di Kota Pontianak. Instrukurnya memberi arahan untuk mengerjakan sesuatu, lalu ... karena ia mendapatkan sedikit pengetahuan dari sebuah bahan bacaan, teman saya itu mencoba menanyakan apa yang diketahuinya.

“Bang, mengapa komponen ini harus dipindahkan, padahal komponen lain dapat langsung diletakkan di dekatnya?" tanya Beno, teman saya.

“Kamu tak perlu membantah perintah saya! Kerjakan saja! Praktik kemarin saja kau tidak bisa!” seru sang instruktur.

Beno termasuk orang yang super cuek sebenarnya, namun saat ia mendengar perkataan tersebut, wajahnya berubah datar. Sampai akhir pelatihan tak ada senyum dari bibirnya. Saya memperhatikan dari jauh.

Saat pulang—saya dan Beno “berteduh” di sebuah warung kopi. Penasaran, saya menanyakan sesuatu kepadanya.

“Ben ... kenapa kau diam saja?”

Ah, tidak ada apa-apa,” jawab Beno pelan, ia berusaha mengelak, tentu saja.

“Sakitkah?” selidik saya lebih jauh, langsung “tembak”.

“Banget ....” Beno menarik nafas panjang.

Saya pun masih bertanya-tanya, banyak sekali orang punya kesulitan berkata yang baik-baik. Kalau pelajaran matematika, fisika, dan kimia itu sulit—maka pelajaran moral adalah yang tersulit. Sebagian orang tahu tentang moral, tapi tak banyak penerapannya dalam keseharian.

Waktu kuliah dulu, saya berteman dengan seseorang—Rinto namanya—penggiat suatu himpunan di kampus. Ia selalu berkata kasar dengan para junior. Karena tak setuju dengan tindakan tersebut, saya bertanya kepadanya, “To, kenapa harus kasar kepada mereka?”

“Kita harus tegas, Bro! Kalau tidak, mereka nanti bisa jadi ‘lembek!” jawab Rino.

“Tegas dan kasar itu beda!” seru saya kepadanya.

Ketegasan tentu benda dengan kekasaran, selain itu kata-kata yang pelan belum tentu isinya bagus pula, maka kita semua harus bijak memilih kata-kata saat berhadapan dengan orang lain, karena orang lain itu bukan diri kita. Anda setuju?

--- 

Pontianak, 31 Agustus 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: www.omgmix.com 

  • view 297