Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 19817
            [type_id] => 1
            [user_id] => 8236
            [status_id] => 1
            [category_id] => 79
            [project_id] => 0
            [title] => Negeri Fiktif
            [content] => 

Hari ini aku membacakan puisi

yang berasal dari luapan emosi.

Tentang merah dan putih,

tentang putih dan hitam.

 

Kita pasti ragu dengan kemerdekaan,

entah bagaimana caranya

si alis tebal dan pipinya bersulam itu

bisa lupa dengan Pancasila.

 

Sepertinya kemerdekaan hanyalah satu paragraf putus,

sama persis dengan apa-apa pada buku sejarah

waktu sekolah dulu.

Atau merupakan seremoni tanpa makna.

 

Merah putih terbentuk dari keringat dan darah,

kini ia dijadikan pengganjal perut

bagi orang-orang yang biasanya masuk kerja terlambat,

dan bisa berlama-lama di warung kopi.

 

Aku benar-benar tidak rela

kalau uang kita semua dijadikan

surat-surat perjalanan fiktif yang berfungsi mengenyangkan

perut-perut dusta.

Aku juga tidak rela,

misalnya keringat rakyat berubah jadi tiket jalan-jalan

sang penguasa.

Aku pun tak mau,

jika gedung-gedung yang isinya wakil rakyat berdiri megah

di bawah mayat-mayat kelaparan.

 

Di sana,

dari balik bendera warna warni

yang berkibar lima tahun sekali,

mungkin saja mereka tertawa ... mereka tertawa di atas kursi empuk,

kemudian tidur.

 

Anda bisa saja tidak sadar

kalau air mata rakyat

sedang menjadi permainan judi di meja setengah lingkaran.

Anda mungkin tak pernah tahu

kalau pajak yang anda bayar tiap bulan

hanya menjadi harapan di halaman depan surat kabar.

Anda bisa jadi tak mengerti,

mengapa di negeri sekaya ini

sulit sekali untuk sekadar mengenal huruf dan menghitung angka?

Kita hanya bisa merenung saat

rumah-rumah terbakar akibat listrik yang sering mati dan hidup tiba-tiba.

 

Sekarang, tepat di hari ini, sekali lagi merah putih berkibar

di pucuk tertinggi.

Hasil jerih payah Ibu Fatmawati.

Entah apa kata beliau tentang tanah air,

ketika tanah masih mengontrak dan air masih tak terbeli.

--- 

Pontianak, 17 Agustus 2016 

Dicky Armando

[slug] => negeri-fiktif [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1471408142.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 457 [issued] => 0 [author] => Dicky Armando [username] => Dicky123 [avatar] => file_1469785923.png [status_name] => published [category_name] => Puisi [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 6 [total_likes] => 10 [created_at] => 2016-08-17T11:29:02+07:00 [updated_at] => 2018-10-02T10:21:04+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.252926ms [status] => 200 )