Negeri Fiktif

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Puisi
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Negeri Fiktif

Hari ini aku membacakan puisi

yang berasal dari luapan emosi.

Tentang merah dan putih,

tentang putih dan hitam.

 

Kita pasti ragu dengan kemerdekaan,

entah bagaimana caranya

si alis tebal dan pipinya bersulam itu

bisa lupa dengan Pancasila.

 

Sepertinya kemerdekaan hanyalah satu paragraf putus,

sama persis dengan apa-apa pada buku sejarah

waktu sekolah dulu.

Atau merupakan seremoni tanpa makna.

 

Merah putih terbentuk dari keringat dan darah,

kini ia dijadikan pengganjal perut

bagi orang-orang yang biasanya masuk kerja terlambat,

dan bisa berlama-lama di warung kopi.

 

Aku benar-benar tidak rela

kalau uang kita semua dijadikan

surat-surat perjalanan fiktif yang berfungsi mengenyangkan

perut-perut dusta.

Aku juga tidak rela,

misalnya keringat rakyat berubah jadi tiket jalan-jalan

sang penguasa.

Aku pun tak mau,

jika gedung-gedung yang isinya wakil rakyat berdiri megah

di bawah mayat-mayat kelaparan.

 

Di sana,

dari balik bendera warna warni

yang berkibar lima tahun sekali,

mungkin saja mereka tertawa ... mereka tertawa di atas kursi empuk,

kemudian tidur.

 

Anda bisa saja tidak sadar

kalau air mata rakyat

sedang menjadi permainan judi di meja setengah lingkaran.

Anda mungkin tak pernah tahu

kalau pajak yang anda bayar tiap bulan

hanya menjadi harapan di halaman depan surat kabar.

Anda bisa jadi tak mengerti,

mengapa di negeri sekaya ini

sulit sekali untuk sekadar mengenal huruf dan menghitung angka?

Kita hanya bisa merenung saat

rumah-rumah terbakar akibat listrik yang sering mati dan hidup tiba-tiba.

 

Sekarang, tepat di hari ini, sekali lagi merah putih berkibar

di pucuk tertinggi.

Hasil jerih payah Ibu Fatmawati.

Entah apa kata beliau tentang tanah air,

ketika tanah masih mengontrak dan air masih tak terbeli.

--- 

Pontianak, 17 Agustus 2016 

Dicky Armando


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Puisi persembahan anak bangsa untuk perayaan hari kemerdekaan RI ke-71 yang sungguh jujur, menyuratkan ironi yang dihadapi oleh negeri ini. Dengan menggunakan kalimat sederhana, santun, puisi ini malah terasa sangat berkesan. Fakta yang ada dipilih secara cermat oleh Dicky Armando, yang pastinya pembaca akan mengiyakan bahwa memang begitulah kondisi negara ini. Yang paling hebat dalam puisi ini adalah mengajak siapa pun yang membacanya sejenak merenung di balik hingar bingar lomba dan acara kemeriahan yang biasanya dilakukan selama hari kemerdekaan ini. Apakah kita benar-benar merdeka? Apakah kita sudah benar-benar terbebas dari penindasan, bahkan oleh saudara sendiri? Bravo, Dicky!

  • Farrah Hanum
    Farrah Hanum
    1 tahun yang lalu.
    sedih.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    so sad.

    tanah masih mengontrak, dan air tak terbeli.
    padahal negeri kita adalah 'tanah air'.