Waktu Belajar yang Baik

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 09 Agustus 2016
Waktu Belajar yang Baik

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) punya kebijakan baru, yaitu akan menerapkan sistem sekolah sehari penuh, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menurut sang menteri—sistem ini akan lebih mendekatkan orang tua dengan anak. Dengan jam sekolah yang berakhir pukul 17.00, orang tua yang umumnya bekerja hingga pukul 16.00 bisa langsung menjemput anak mereka.

Saya sebagai orang awam bertanya-tanya, “Apa benar dengan hanya bisa menjemput anak bisa mendekatkan orang tua dengan anak? Sesederhana itukah?” Seandainya memang metode menjemput anak memang bisa mendekatkan orang tua dengan anaknya, berarti sudah sejak lama masalah buah hati dan panutannya itu tidak akan menjadi masalah, dan tidak perlu ada seminar-seminar yang melatih orang tua agar menjadi teladan yang baik.

Daya tahan tubuh dan pikiran setiap siswa/siswi tentu saja berbeda, entah bagaimana sistem ini bisa menjadi efektif dalam perbedaan tersebut. Lalu, yang mungkin kita semua pertanyakan adalah: “Apa dasar ilmiah sistem sekolah sehari penuh ini? Penelitian oleh ilmuwan mana? Ataukah hanya coba-coba?” Semoga saja anak bangsa ini tidak dijadikan bahan percobaan.

Sebagai negara yang punya Pancasila, yaitu sila pertama: “Ketuhanan yang Maha Esa”. Bukankah lebih baik menekankan pendidikan agama yang berkualitas? Daripada hanya sekadar memanjangkan waktu pulang sekolah.

Tidak kalah penting adalah kesiapan para guru. Kita berharap mereka bisa maksimal menjalankan tugas. Guru-guru ini manusia, bukan robot, mereka bisa lelah, punya perasaan, dan lain-lain. Bagaimana seandainya pengajar-pengajar ini belum siap beradaptasi dengan sistem yang dimaksud oleh Mendikbud? Bayangkan murid-murid sudah lelah tubuh dan pikiran, begitu pula dengan guru-gurunya, akan seperti apa kegiatan di sekolah?

Imam Ibnu Jama’ah berkata, “Termasuk ada seorang penuntut ilmu adalah membagi waktu malam dan siangnya, dan memanfaatkan sisa umurnya. Karena sisa umur tidak ternilai harganya baginya. Waktu yang paling baik untuk menghapal adalah waktu sahur, waktu pagi untuk penelitian, tengah hari untuk menulis, dan malam untuk menelaah serta mengulang.”

Berdasarkan pernyataan di atas, saya pribadi berpendapat—belajar itu punya porsi waktu tersendiri, tidak bisa sembarangan dipanjangkan atau dipendekkan tanpa dasar yang jelas.

Malam hari, ketika murid-murid seharusnya mengulang pelajarannya di sekolah, namun tubuh dan pikiran mereka sudah lelah karena kegiatan panjang sebelumnya. Kalau dilihat lagi secara awam, bukankah faktor ini yang akan menyebabkan anak semakin jauh dengan orang tuanya? Pulang sekolah, sudah lelah, kemudian tidur, bangun esok pagi, dan mengulang hal yang sama sesuai sistem.

***

Sumber bacaan:

  • “Penuntut Ilmu Hendaknya Memilih Waktu yang Baik untuk Belajar”. Muslim. n. p. 2014. Web. 9 Agustus 2016. http://www.muslim.or.id
  • “Sekolah Sehari Penuh Akan Diterapkan secara Nasional, Ini Penjelasan Menteri”. JPNN. n.p. 2016. Web. 9 Agustus 2016. http://www.jpnn.com

Sumber foto: 7-themes.com 

  • view 175