Marah yang Elegan

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Agustus 2016
Marah yang Elegan

Beberapa hari belakangan, banyak kejadian yang membuat saya berpikir betapa hidup ini punya banyak rasa, mulai dari manis sampai tawar. Bisa jadi karena sikap saya terlalu berlebihan terhadap situasi, kalau kata orang sekarang: bawa perasaan.

Di awal minggu, saya belanja di sebuah toko waralaba yang memang sudah menjamur di Kota Pontianak, bangunannya berwarna merah putih, ada juga warna biru kuning, kira-kira seperti itulah. Saya sebenarnya jarang membeli keperluan di tempat itu, tapi karena toko langganan kehabisan persediaan—maka saya terpaksa membeli di tempat lain.

Ketika masuk, seorang penjaga sedang asyik memandangi layar komputer di meja kasir, biasanya—kalau di kota lain, karyawannya menyambut dengan baik: “Selamat datang!” Ternyata di sini mereka punya standar berbeda, dan sepertinya mereka bangga dengan kelemahan tersebut, buktinya tidak hanya saya yang mengeluhkan pelayanan seadanya dari oknum karyawan toko waralaba itu, tapi beda tempat—masih di kota Pontianak.

Karena belum hafal letak barang, saya bertanya kepada karyawati yang sedang menikmati layar komputer tadi. “Mbak, letak pomade di sebelah mana ya?”

Dia memandangi saya dengan matanya yang diselubungi lensa berwarna biru muda, wajahnya penuh bedak, lehernya beda warna, mirip zebra pakai kemeja. Kancing baju bagian depannya juga seperti hendak lepas karena entah terlalu kecil, atau isi dalamnya terlalu besar. Saya khawatir jika terlalu lama berada di depannya, karena kancing kemeja tersebut bisa “menembak” seperti pistol kapan saja, lalu mengenai kening saya. Ah ... saya terlalu banyak berkhayal.

“Di situ, Bang.” Perempuan bule bohongan itu menunjuk ke suatu arah.

Saya mengangguk, segera menuju tempat yang diarahkan. Setelahnya, saya ke kasir untuk membayar pomade favorit yang ternyata ada di toko itu, harganya pasti juga tak jauh beda.

“Dua puluh tujuh ribu, Bang,” kata si bule bohongan.

“Bukannya dua puluh lima ribu, ya?” tanya saya, heran.

“Sesuai sistem, harganya segitu, Bang.” Kami saling berpandangan, diam selama sekian detik.

“Baiklah.” Saya mengeluarkan uang dari dompet, secepatnya membayar. Ketika menyerahkan uang, sama sekali tidak keluar kalimat “terima kasih” dari karyawati berkemeja ketat tersebut, ini parah, pelayanan di sini kalah jauh daripada warung kecil—tempat biasa saya membeli barang. Bagi orang lain pelayanan mungkin bukan hal penting, tapi buat saya yang bekerja di bidang pelayanan, hal ini sangat fatal bagi kelangsungan perusahaan.

Sampai di rumah, hati masih kesal, saya memikirkan bagaimana cara marah dengan elegan. Tiba-tiba mata tertuju ke sudut kamar—di mana tertumpuk sampah makanan  selama beberapa hari. Saya tersenyum lebar.

Esok pagi, seperti biasa—saya disuruh bapak untuk membuang sampah di tong sampah umum di ujung jalan, agak jauh dari rumah. Kali ini tidak perlu mengeluh, karena sudah punya tempat pembuangan sampah yang lebih dekat, hehehehehe!

Menggunakan sepeda motor, sambil menyanyikan lagu Doraemon, tak lama sampailah saya di sebuah toko waralaba yang masih tutup. Tong sampahnya kosong, daripada kosong lebih baik saya bantu isi.

BRUKKK!

Lumayan banyak sampahnya, dan saya pulang dengan hati riang gembira.

---

Pontianak, 6 Agustus 2016

Dicky Armando

Sumber foto: www.wallhd4.com 

  • view 276