Apresiasi Puisi: Menyerah, Karya Anis

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 Agustus 2016
Apresiasi Puisi: Menyerah, Karya Anis

Berikut saya tulis ulang puisi karya Anis: 

Kali ini aku menyerah
untuk mimpi-mimpi yang kurapal tiap malam
janji-janji yang memudar
sakit yang pernah kuberikan
luka yang telah kutinggalkan
untukmu

Adakah senyum itu di wajahmu
saat kautahu diriku tak seperti dulu
aku tak perlu meminta izinmu untuk berubah, kan?

Kali ini aku menyerah
untuk langkah kaki yang payah
punggung yang lelah
tangan  yang tak lagi berulah
mulut yang tiada bisa berkilah
adakah aku telah kalah?

Kali ini aku menyerah
untuk tidak lagi merawat harapan yang kauminta
untuk tidak lagi membuatmu kecewa
pun tidak lagi membebaniku

Kali ini aku menyerah
biarkan aku berteriak
dalam hening ini
hanya sang malam teman sejati
biarkan aku hilang bersamanya
sebelum esok pagi mentari menyapa 

Surabaya 2 Agustus 2016 21.45 

Setelah membacanya sampai habis, interpretasi saya terhadap puisi ini adalah tentang "hijrah"-nya seseorang. Tampak pada bait 2 , 3, dan 4.

Pada bait 1, mengesankan bahwa seseorang berusaha melupakan segala keinginan-nya untuk sesuatu dan kepada seorang yang lainnya, mungkin kekasihnya. Namun saya sempat bingung pada kalimat: "Untuk mimpi-mimpi yang kurapal tiap malam". Apakah Anis berusaha menyamarkan kata ulang "doa-doa" dengan "mimpi-mimpi"? Yang mana kata "rapal" memang kurang lazim jika disambungkan dengan kata "mimpi", tapi ... inilah puisi, setiap penulisnya pasti punya maksud sendiri.

Pada bait 2, sepertinya si "aku" mencoba menebak-nebak perasaan mantan pasangannya ketika ia telah "hijrah". Ada satu hal yang menarik, saya menyebutkan kalimat egois perempuan: "Aku tak perlu meminta izinmu untuk berubah, kan?". Kalimat khas wanita ketika ia telah lelah atau malas berkata-kata.

Pada bait 3, si "aku" menginginkan sesuatu berubah--setelah lelahnya ia menjalani apa-apa yang tidak diinginkan. Tapi saya juga punya interpretasi lain terhadap bait ini, yaitu si "aku" menolak menjadi seseorang yang penurut saja, mau berubah menjadi seorang yang lebih tegar dan melepas segala kepahitan.

Pada bait 4,  tentang penyampaian perasaan si "aku" kepada mantan pasangannya, yang mana ia tak lagi ingin terbebani dengan hal-hal--menyangkut si "dia".

Pada bait 5, merupakan bait yang unik. Mengapa? Awalnya saya pikir si "aku" sudah siap dengan tindakan move on, namun ternyata masih galau, sedikit berlawanan dengan pengungkapannya bahwa ia ingin bebas seperti pada bait-bait sebelumnya. Mungkin si "aku" ini masih belum siap, atau bisa saja masih shock karena belum terbiasa sendirian. Semua kalimat di bait 5, menurut saya mencerminkan kusutnya pikiran si "aku". 

Keseluruhan, saya suka dengan puisi Anis ini, saya jarang menemukan karya beraroma galau darinya--termasuk puisi yang agak galau, hahahahah! Tumben. Kalau boleh saya beri nilai: 79,9/100. Terus menulis puisi ya! Ditunggu karya berikutnya! 

--- 

Pontianak, 03 Agustus 2016

Dicky Armando 

Sumber foto: Inspirasi.co 

 


  • Anick Ht
    Anick Ht
    1 tahun yang lalu.
    Keren Bung Dicky.... pembacaan yang asyik.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    loh, logo inspirasi di laptop bapak masih ketupat, ya?

    • Lihat 5 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    aaaaaargh Pak Dicky.
    ini bukan ditujukan buat mantan kekasih ya
    haha

    • Lihat 2 Respon