Salah Siapa?

Dicky Armando
Karya Dicky Armando Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Salah Siapa?

Berita tentang pembongkaran toko yang tidak memiliki izin atau katakanlah salah tempat—sudah sering terjadi, tapi baru tadi pagi saya melihatnya dengan mata sendiri.

Di sebuah jalan, Kota Pontianak, sekitar pukul 9 pagi, terjadi pembongkaran terhadap bangunan tanpa izin yang digunakan sebagai fasilitas dagang oleh beberapa orang. Saya berada di seberang lokasi kejadian—sedang membeli minuman ringan di sebuah toko waralaba.

Kalau dilihat dari depan, bangunan-bangunan yang dibongkar itu memang sangat kumuh, dominasi warna kayu lapuk, dan di bagian depannya berderet beberapa gerobak sederhana—dengan kaca yang tampaknya juga sudah jarang dibersihkan. Sekelompok petugas berbaju hijau pudar bergegas mencopot segala ornamen yang menempel di sekujur bangunan. Setengah jam berlalu, tempat tersebut sudah tak berbentuk. Para pemilik bangunan hanya bisa pasrah memandanginya di ujung jalan, mereka memang tak berdaya pun tak punya izin, memang salah, melanggar peraturan.

Namun saya melihatnya dari sudut pandang berbeda. Pedagang-pedagang itu memang tak punya administrasi yang cukup untuk melakukan kegiatan di tempat itu, dan ketika mata pencaharian mereka hilang, bukankah nantinya orang-orang tersebut bisa melakukan pelanggaran yang lebih berat? Misalnya mencuri, merampok, dan sejenisnya. Hal ini bisa diakali seandainya ada solusi yang lebih baik untuk mereka, entah itu tempat yang baru dengan biaya sewa murah, atau apalah, saya juga kurang paham.

Di Bandarlampung, ada kejadian penjambret yang menggunakan hasil kejahatannya untuk bersenang-senang bersama Pekerja Seks Komersial. Menurut pengakuannya ia baru pertama kali melakukan aksi tersebut. Seandainya benar, mungkinkah dia stres? Apakah dulunya ia orang baik-baik yang kehilangan pekerjaan? Ataukah kehilangan tempatnya berdagang? Tetap saja ada kemungkinan: bisa jadi dia memang orang bejat, siapa tahu?

Kalau yang terjadi pada pelaku kriminal di atas sesuai dengan dugaan saya—bahwa ia dulunya juga orang baik-baik, namun kehilangan tempat dagang, kemudian stres, tak ada uang, dan melakukan tindakan kejahatan untuk mendapatkan uang—maka tidak menutup kemungkinan, para pedagang yang tadi pagi kehilangan toko tempat mereka mencari hidup itu—berpotensi melakukan tindakan kejahatan karena terpaksa. Perut lapar memang tak pernah bohong, bunyinya lumayan nyaring.

Saya berharap, pihak berwenang punya solusi lain, tidak hanya membongkar dan membina sekedarnya, tapi juga membantu mencarikan fasilitas yang dapat digunakan oleh orang-orang yang kehilangan tempat usahanya tersebut.

***

Pontianak, 2 Agustus 2016

Dicky Armando

Sumber bacaan:

  • “Beuh, Hasil Jambret Buat Pesta Miras Bersama PSK”. JPNN. n. p, 2016. Web. 2 Agustus 2016. http://www.jpnn.com 

Sumber foto: www.cruzine.com